23/09/2026

5. Tazkiyah Al-Nafs Menurut Para Ulama’, Tasawuf Dan Tokoh

 5.  Tazkiyah Al-Nafs Menurut Para Ulama’, Tasawuf Dan Tokoh

Di sini akan dikemukakan secara singkat beberapa cara Tazkiyah Al-Nafs yang telah diformulasikan menjadi sebuah metode, antara lain;

5.1.            Tazkiyah Al-Nafs Imam Al Ghazali

Tazkiyah Al-Nafs menurut Imam Al Ghazali adalah usaha seseorang agar dapat meleraikan dan melumpuhkan penyakit-penyakit jiwa serta membersihkan dirinya dari sifat-sifat buruk ataupun sifat-sifat yang tercela sehingga hatinya dapat dibebaskan dari sesuatu yang tidak baik. Tazkiyah Al-Nafs sangat erat kaitannya dengan Qalb/Jantung (Hati) karena dengan hati yang bersih maka seseorang dapat mengenal Tuhannya. Ketenangan batin hanya dapat dirasakan bagi orang-orang yang senantiasa dalam hatinya terus mengingat Allah.[1]

Tazkiyah Al-Nafs dapat dilakukan melalui proses mujahadah an nafs (takhalli) kemudian menghiasinya dengan riyadah an nafs (tahalli) yang memerlukan kesabaran yang gigih dan akhirnya akan menemukan penampakan diri Tuhan (Tajalli),[2] dengan penjelasan rinci sebagai berikut:

Takhalli : adalah metode pengosongan diri dari bekasan kedurhakaan dan pengingkaran dosa terhadap Allah SWT dengan jalan taubat secara sungguh-sungguh/ taubatan nasuha. Tahalli sebagai tahap dalam mengurus hati, yaitu usaha untuk membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, salah satu dari akhlaq tercela yang paling banyak menyebabkan hati tidak bersih  antara lain adalah kecintaan yang berlebihan kepada urusan duniawi. Hendaknya terbebas dari kecintaan terhdap duni, anak, istri, harta dam segala keinginan yang berbau duniawi.[3]

Beberapa sifat yang perlu dibersihkan Ketika seorang salik ingin mempraktekkan tingkatan takhalli, yakni; 1. Hasad: iri, dengki 2. Hiqd: benci, mendengus 3. Su’udzan: buruk sangka 4. Takabur: sombong, pongah 5. Ujub: berbangga diri 6. Riya: Pamer 7. Sum’ah: mencari kemashuran 8. Bakhil: kikir 9. Hub al Mal: materialistis 10. Tafakhur: bersaing dalam kebanggaan diri 11. Ghadab: amarah 12. Namimah: menyebar fitnah 13. Kidzib: Bohong 14. Khianat: tidak jujur, tidak amanah 15. Ghibah: membeicarakan kejelekan orang lain.[4]

Tahalli : adalah upaya pengisian hati yang telah dikosongkan denga nisi yang lain, yaitu Allah. Pada tahap ini, hati harus disibukkan dengan dzikir (mengingat Allah), dengan mengingat Allah, melepas selain-Nya, akan akan mendatangkan kedamaian. Tidak ada yang ditakutkan selain lepasnya Allah dari dari dalam hatinya. Hilangnya dunia, bagi hati yang telah tahalli, tidak akan mengecewakan. Untuk melakukan tahalli langkahnya adalah membeina pribadi agar memiliki akhlaqul karimah dan selalu konsisten dengan Langkah yang dirintis sebelumnya dalam takhalli, yang pada gilirannya akan menghasilkan manusia yang sempurna.[5]

Pada saat tahalli, lantaran kesibukan dengan mengingat dan berdzikir kepada Allah dalam hatinya, anggota tubuh lainnya tergerak dengan sendirinya ikut bersenandung dzikir,. Lidahnya basah lafadz kebesaran Allah yang tidak henti-hentinya didengungkan setiap saat. Tangannya berdzikir untuk kebesaran tuhannya dalam berbuat. Begitu pula mata, kaki, dan anggota tubuh lainnya.[6]

Pada tahap ini hati akan merasakan adanya ketenangan, kegelisahnnya bukan pada dunia yang menipu. Kesedihannya bukan kepada anak istri yang tidak akan menyertai kita maut menjemput. Kepedihannya bukan pada syahwat badani yang seringkali memerosokkan pada nafsu kebinatangan. Tetapi hanya kepada Allah hatinya sedih jika tidak mengingat Allah dalam setiap desahan nafas.[7]

Akhlaqul mahmudah yang harus dibiasakan agar dapat menyinari hati antara lain: 1. Taubat: menyesali dari perbuatan tercela 2. Khauf/taqwa: perasaan takutkepada Allah 3. Ikhlas: niat dan amal yang tulus dan suci 4. Syukur: rasa terimakasih atas segala nikmat 5. Zuhud: hidup sederhana, apa adanya 6. Sabar: tahan dari segala kesukaran 7. Ridha: rela dalam menerima taqdir Allah 8. Tawakkal; berserah diri kepada Allah 9. Mahabbah: perasaan cinta hanya kepada Allah 10. Dzikrul Maut: selalu mengingat mati.[8]

Tajalli : adalah kelahiran atau munculnya eksistensi baru manusia, yaitu perbuatan, ucapan, sikap dan gerak gerik yang baru, martabat dan status yang baru, sifat-sifat dan karakter yang baru dan esensi diri yang baru. Tajalli adalah tahapan dimana kebahagiaan sejati telah dating, ia lenyap dalam jalla jalaluh Allah Subhanahu wata’ala. Ia lebur Bersama Allah dalam kenikmatan yang tidak bisa dilukiskan. Ia Bahagia dalam keridhaan-Nya. Di tahap ini para sufi menyebutnya sebagai Ma’rifah.[9]

5.2.            Tazkiyah Al-Nafs Ibnu Qayim Al Jauziyah

Ilmu : merupakan jalan menuju surga. Seperti perkataan seorang salaf (Orang-orang shalih terdahulu), yaitu: “Setiap orang yang menuntut ilmu maka dia akan ditolong”. Kata tersebut bisa bermakna jalan menuju surga pada hari kiamat, yaitu shirat, termasuk apa apa yang terjadi sebelumnya dan apa-apa yang terjadi sesudahnya. Ilmu adalah hakim (penentu) yang membedakan antara keraguan dan keyakinan, antara jalan simpang dan jalan lurus, dan antara hidayah dan kesesatan. Ilmu akan menjadi penerang bagi pemiliknya, karena ilmu merupakan sarana untuk menundukkan nafsu yang berkobar-kobar ketika melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu di dalam getaran hati. [10]

Tadzakkur : adalah bentuk kata tafa’ul dari kata dzikr dan ia adalah kebalikan dari kata nisyan, yakni menghadirkan gambaran sesuatu yang diingat berdasarkan pengetahuan yang di dalam hati. Dan dipilihlah untuknya bentuk tafa’ul karena ia diperoleh setelah diupayakan dengan perlahan-lahan dan bertahap, sabagaimana halnya kata tabshirah, tafahhum dan ta’allum. [11]

Riyadhah : merupakan salah satu wujud dari beberapa kedudukan muslim yang mengabdikan diri untuk beribadah hanya kepada Allah. Ibnu Qayyim al Jauziyah menafsirkan kalimat:

 الرياضة هي تمرين النفس على الصدق و الإخلاص [12]

“ Riyadhah adalah melatih jiwa untuk bersikap jujur dan ikhlas.”

Dalam tradisi tasawuf, riyāḍah al-nafs berarti latihan spiritual untuk menundukkan hawa nafsu melalui pembiasaan amal-amal kebaikan. Istilah riyāḍah diambil dari akar kata راض – يروض yang bermakna “melatih hewan sampai jinak”. Para sufi menggunakan kata ini sebagai metafora bahwa jiwa manusia perlu dijinakkan dari kecenderungan buruknya.

Latihan ini tidak sekadar berkaitan dengan ibadah fisik, tetapi lebih mendalam: pembentukan kualitas batin seperti kejujuran (ṣidq) dan keikhlasan (ikhlāṣ). ṣidq adalah Kesesuaian antara ucapan, niat, dan perbuatan, Keteguhan hati dalam menjalani kebenaran dan Tidak berpura-pura di hadapan Allah maupun manusia, sedangkan al-Ikhlāṣ Keikhlasan adalah kondisi ketika seorang hamba: Beramal hanya karena Allah, Tidak mengharapkan pujian makhluk dan Tidak tergoda oleh riya’, sum’ah, atau motif duniawi, ikhlas adalah puncak dari riyāḍah, sebab keikhlasan tidak hadir tanpa pembiasaan panjang dalam mengendalikan ego dan hawa nafsu.

5.3.            Tazkiyah Al-Nafs Ibnu Taimiyah

Amar Ma’ruf - Nahi Mungkar , amar ma’ruf : memerintahkan untuk berbuat kebaikan, pijakan dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah Kasih sayang. Oleh karena itu, Hendaklah amar ma’ruf yang engkau jalankan dengan cara yang ma‟ruf pula, dan engkau mencegah kemungkaran bukan dengan kemungkaran. Apabila amar ma‟ruf dan nahi mungkar merupakan kewajiban atau hal sunnah yang paling agung, maka kewajiban dan hal yang disunnakan tersebut maslahatnya harus lebih besar daripada mudhratnya, karena dengan inilah para rasul diutus, dan kitab-kitab diturunkan. Allah tidak menyukai kerusakan, tetapi semua yang diperintahkan oleh Allah pastilah mengandung kebaikan.

Tiga perkara ini harus dimilki bagi orang-orang yang menyeru kepada yang ma‟ruf dan mencegah yang mungkar, yaitu ilmu, kasih sayang dan sabar. Sebelum melakukan amar ma‟ruf nahi mungkar haruslah memiliki ilmu, dan ketika melaksanaknya harus disertai dengan kasih sayang dan setelah melakukannya dibutuhkan kesabaran. Ketiga hal ini harus selalu sejalan dalam segala kondisi.

At-Tadzkir : Memberi Peringatan, Allah mengkhususkan dzikir, pemberian peringatan dan semisalnya, untuk orang –orang yang beriman. Mereka dikhususkan dengan kesempurnaan yang bermanfaat yang membuat mereka bahagia, dimana pula Allah membuat secara umum, semua terlibat di dalam peringatan yang telah ditegakan hujjah atas makhluk-Nya, apakah mereka menerima atau tidak.

إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ ۖ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ

Artinya: Sesungguhnya kamu Hanya memberi peringatan kepada orangorang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. (Q.S. Yasin: 11)

At-Tadzakkur - Al-Khasyyah: Mengingat dan merasa takut kepada Allah, keterkaitan antara tadzakkur dan khasyah adalah bahwa Mengingat dapat menimbulkan perasaan takut sehingga seseorang akan mengingat Allah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Qatadah, “Demi Allah, tidaklah seorang hamba takut kepada Allah kecuali ia mengingat-Nya.” Ini adalah suatu kebenaran karena orang yang yang diberi peringatan boleh jadi ia orang yang ingat apa yang mengajaknya kepada kasih syang, nikmat dan ganjaran sebagaimana ingtanya seseorang dengan apa-apa yang ia minta kemudian ia bertaubat. Atau boleh jadi ia mengingat sesuatu yang mendorongnya merasa takut dan khawatir, ia harus bertaubat ketika itu juga untuk menghindari  sesuatu yang ia khawatirkan. Oleh sebab itu, dikatakan kepada Fir‟aun, agar ia mengingat kemudian bertaubat atau kemudian ia merasa takut. Musa berkata kepada Fir‟aun dalam surah An-Naazi‟aat

فَقُلۡ هَلۡ لَّكَ اِلٰٓى اَنۡ تَزَكّٰى ۙ‏ , وَاَهۡدِيَكَ اِلٰى رَبِّكَ فَتَخۡشٰى

Artinya: Dan Katakanlah (kepada Fir'aun): "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)" Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?" (Q.S. An-Naazi‟aat: 18-19)

5.4.            Tazkiyah Al-Nafs Dalam Tasawuf

Dalam ilmu Tasawuf tazkiyath al-nafs sudah tersusun secara terstruktur dalam bentuk mujahadah menapaki maqamat tasawuf, namun tidak ada kesamaan antara satu imam tasawuf dengan lainnya dalam susnan maqamatnya, karena para imam dalam menyusun maqamat didasari pengalaman ruhaninya masing-masing.

5.5.            Tazkiyah Al-Nafs Modern

Pembersihan jiwa dengan cara modern, cirinya adalah penggunaan alat untuk mempermudah mencapai tujuan. Seiring dengan perkembangan dunia fisika Quantum, dan Neuro sains, maka dibuat alat-alat yang dapat mengukur vibrasi otak maupun jantung, hasilnya dapat digunakan untuk berbagai keperluan ilmu pengetahuan lainya; Kedokteran, Kesehatan, Psikologi bahkan untuk keperluan spiritual.

Metode Tazkiyah Al-Nafs modern di Indonesia dipelopori Ari Ginanjar Agustian dengan Metode ESQ Way 165 yaitu penanaman nilai Ihsan, Rukun Iman dan Rukun Islam, Adapun penerapannya dalam bentuk penjernihan jiwa, pembangunan mental, ketangguhan pribadi dan ketangguhan sosial, dalam penyusunan metode belum menggunakan teknologi Fibrasi, Quantum, maupun neuro sains, sedangkan dalam pelaksanaan pelatihan sudah menggunakan teknologi IT dan Audivisual.

Tahapan penerapan  ESQ  Way  165  antara  lain: penjernihan emosi, pembangunan mental, ketangguhan  pribadi,  dan  ketangguhan sosial. metode ESQ  Way 165 tersebut  antara lain nilai-nilai  ihsan, rukun  iman  dan  rukun  Islam. 

Erbe Sentanu melalui Kata Hati Institute, dengan bukunya Quantum Ikhlas mengembangan Tazkiyah Al-Nafs dengan menggunakan teknologi fisika Quantum, yakni dengan fibrasi irama Freqwensi gelombang beta, alpha, theta dan delta. Dengan bantuan iringan irama tersebut seseorang dapat diajak masuk ke dalam perasaan Khusyuk, tentram, damai, bahagia hingga dapat mencapai ektase.

Sedangkan ustadz Nasrullah dalam bukunya Rahasia Magnet Rezeki, mengkorelasikan hasil penelitian  di bidang Psikologi David R Hawkins, tentang klasifikasi kesadaran emosi Force: yang merusak dan Power: yang membangun dengan ajaran Islam nafsu dan takwa, kemudian diformulasikan menjadi spiritual meter. Diaplikasikan untuk Tazkiyah Al-Nafs dalam bentuk jurus-jurus, seperti; jurus merawat terumbu karang, jurus kick back, jendela buram, garputala dll.

Dr. Aisyah Dahlan, C Ht.  dengan Rumah Ilmu Al Hilya, banyak mengkorelasikan kajian Tazkiyah Al-Nafs dengan hasil penelitian di bidang neuro sains. Seperti; Nur Muhammad, Doa Ibu, Istighfar, dzikir meningkatkan kecerdasan , karakter anak dll.



[1] Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Juz III (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, t.t.), Halaman 52–53.

[2] Abu Hamid al-Ghazali, Minhaj al-‘Abidin, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1989), Halaman 45–46.

[3] Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Juz III (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, t.t.), Halaman 58–60.

[4] Ibid, Halaman 61–70.

[5] Abu Hamid al-Ghazali, Minhaj al-‘Abidin, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1989), Halaman 47–48.

[6] Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Juz VI (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, t.t.), Halaman 12–13.

[7] Ibid, Juz III, 75–76.

[8] Ibid, Halaman 80–90.

[9] Abu Hamid al-Ghazali, Minhaj al-‘Abidin, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1989), Halaman 90–92.

[10] Ibn Qayyim al-Jawziyya, Madarij al-Salikin, Jilid 1 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1996), 78–80.

[11] Ibn Qayyim al-Jawziyya, Madarij al-Salikin, Jilid 3 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1996), 127–128.

[12] Ibid., Jilid 2, 312.

Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post