5. Tazkiyah Al-Nafs Menurut Para Ulama’, Tasawuf Dan Tokoh
Di
sini akan dikemukakan secara singkat beberapa cara Tazkiyah Al-Nafs yang telah
diformulasikan menjadi sebuah metode, antara lain;
5.1.
Tazkiyah Al-Nafs Imam Al Ghazali
Tazkiyah
Al-Nafs menurut Imam Al Ghazali adalah usaha
seseorang agar dapat meleraikan dan melumpuhkan penyakit-penyakit jiwa serta
membersihkan dirinya dari sifat-sifat buruk ataupun sifat-sifat yang tercela
sehingga hatinya dapat dibebaskan dari sesuatu yang tidak baik. Tazkiyah
Al-Nafs sangat erat kaitannya dengan Qalb/Jantung (Hati) karena dengan hati
yang bersih maka seseorang dapat mengenal Tuhannya. Ketenangan batin hanya
dapat dirasakan bagi orang-orang yang senantiasa dalam hatinya terus mengingat
Allah.[1]
Tazkiyah
Al-Nafs dapat dilakukan melalui proses mujahadah
an nafs (takhalli) kemudian menghiasinya dengan riyadah an nafs
(tahalli) yang memerlukan kesabaran yang gigih dan akhirnya akan menemukan
penampakan diri Tuhan (Tajalli),[2] dengan
penjelasan rinci sebagai berikut:
Takhalli : adalah metode pengosongan diri dari bekasan kedurhakaan
dan pengingkaran dosa terhadap Allah SWT dengan jalan taubat secara
sungguh-sungguh/ taubatan nasuha. Tahalli sebagai tahap dalam mengurus
hati, yaitu usaha untuk membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, salah satu
dari akhlaq tercela yang paling banyak menyebabkan hati tidak bersih antara lain adalah kecintaan yang berlebihan
kepada urusan duniawi. Hendaknya terbebas dari kecintaan terhdap duni, anak,
istri, harta dam segala keinginan yang berbau duniawi.[3]
Beberapa sifat yang perlu dibersihkan Ketika seorang salik ingin
mempraktekkan tingkatan takhalli, yakni; 1. Hasad: iri, dengki 2. Hiqd: benci,
mendengus 3. Su’udzan: buruk sangka 4. Takabur: sombong, pongah 5. Ujub:
berbangga diri 6. Riya: Pamer 7. Sum’ah: mencari kemashuran 8. Bakhil: kikir 9.
Hub al Mal: materialistis 10. Tafakhur: bersaing dalam kebanggaan diri 11.
Ghadab: amarah 12. Namimah: menyebar fitnah 13. Kidzib: Bohong 14. Khianat:
tidak jujur, tidak amanah 15. Ghibah: membeicarakan kejelekan orang lain.[4]
Tahalli : adalah upaya pengisian hati yang telah dikosongkan denga
nisi yang lain, yaitu Allah. Pada tahap ini, hati harus disibukkan dengan dzikir
(mengingat Allah), dengan mengingat Allah, melepas selain-Nya, akan akan
mendatangkan kedamaian. Tidak ada yang ditakutkan selain lepasnya Allah dari
dari dalam hatinya. Hilangnya dunia, bagi hati yang telah tahalli, tidak akan
mengecewakan. Untuk melakukan tahalli langkahnya adalah membeina pribadi agar
memiliki akhlaqul karimah dan selalu konsisten dengan Langkah yang dirintis
sebelumnya dalam takhalli, yang pada gilirannya akan menghasilkan manusia yang
sempurna.[5]
Pada saat tahalli, lantaran kesibukan dengan mengingat dan berdzikir
kepada Allah dalam hatinya, anggota tubuh lainnya tergerak dengan sendirinya
ikut bersenandung dzikir,. Lidahnya basah lafadz kebesaran Allah yang tidak
henti-hentinya didengungkan setiap saat. Tangannya berdzikir untuk kebesaran
tuhannya dalam berbuat. Begitu pula mata, kaki, dan anggota tubuh lainnya.[6]
Pada tahap ini hati akan merasakan adanya ketenangan,
kegelisahnnya bukan pada dunia yang menipu. Kesedihannya bukan kepada anak
istri yang tidak akan menyertai kita maut menjemput. Kepedihannya bukan pada
syahwat badani yang seringkali memerosokkan pada nafsu kebinatangan. Tetapi
hanya kepada Allah hatinya sedih jika tidak mengingat Allah dalam setiap
desahan nafas.[7]
Akhlaqul mahmudah yang harus dibiasakan agar dapat menyinari hati
antara lain: 1. Taubat: menyesali dari perbuatan tercela 2. Khauf/taqwa:
perasaan takutkepada Allah 3. Ikhlas: niat dan amal yang tulus dan suci 4.
Syukur: rasa terimakasih atas segala nikmat 5. Zuhud: hidup sederhana, apa
adanya 6. Sabar: tahan dari segala kesukaran 7. Ridha: rela dalam menerima
taqdir Allah 8. Tawakkal; berserah diri kepada Allah 9. Mahabbah: perasaan
cinta hanya kepada Allah 10. Dzikrul Maut: selalu mengingat mati.[8]
Tajalli : adalah kelahiran atau munculnya eksistensi baru manusia,
yaitu perbuatan, ucapan, sikap dan gerak gerik yang baru, martabat dan status
yang baru, sifat-sifat dan karakter yang baru dan esensi diri yang baru.
Tajalli adalah tahapan dimana kebahagiaan sejati telah dating, ia lenyap dalam jalla
jalaluh Allah Subhanahu wata’ala. Ia lebur Bersama Allah dalam kenikmatan
yang tidak bisa dilukiskan. Ia Bahagia dalam keridhaan-Nya. Di tahap ini para
sufi menyebutnya sebagai Ma’rifah.[9]
5.2.
Tazkiyah Al-Nafs Ibnu Qayim Al
Jauziyah
Ilmu
: merupakan jalan menuju surga. Seperti perkataan seorang salaf (Orang-orang
shalih terdahulu), yaitu: “Setiap orang yang menuntut ilmu maka dia akan
ditolong”. Kata tersebut bisa bermakna jalan menuju surga pada hari kiamat,
yaitu shirat, termasuk apa apa yang terjadi sebelumnya dan apa-apa yang terjadi
sesudahnya. Ilmu adalah hakim (penentu) yang membedakan antara keraguan dan
keyakinan, antara jalan simpang dan jalan lurus, dan antara hidayah dan
kesesatan. Ilmu akan menjadi penerang bagi pemiliknya, karena ilmu merupakan
sarana untuk menundukkan nafsu yang berkobar-kobar ketika melihat, mendengar,
dan merasakan sesuatu di dalam getaran hati. [10]
Tadzakkur : adalah bentuk
kata tafa’ul dari kata dzikr dan ia adalah kebalikan dari kata nisyan, yakni
menghadirkan gambaran sesuatu yang diingat berdasarkan pengetahuan yang di
dalam hati. Dan dipilihlah untuknya bentuk tafa’ul karena ia diperoleh setelah
diupayakan dengan perlahan-lahan dan bertahap, sabagaimana halnya kata
tabshirah, tafahhum dan ta’allum. [11]
Riyadhah : merupakan
salah satu wujud dari beberapa kedudukan muslim yang mengabdikan diri untuk
beribadah hanya kepada Allah. Ibnu Qayyim al Jauziyah menafsirkan kalimat:
الرياضة هي تمرين
النفس على الصدق و الإخلاص [12]
“ Riyadhah adalah melatih jiwa untuk bersikap jujur dan
ikhlas.”
Dalam tradisi
tasawuf, riyāḍah al-nafs berarti latihan spiritual untuk menundukkan hawa nafsu
melalui pembiasaan amal-amal kebaikan. Istilah riyāḍah diambil dari akar kata راض
– يروض yang bermakna “melatih
hewan sampai jinak”. Para sufi menggunakan kata ini sebagai metafora bahwa jiwa
manusia perlu dijinakkan dari kecenderungan buruknya.
Latihan ini tidak sekadar berkaitan dengan ibadah fisik, tetapi lebih mendalam:
pembentukan kualitas batin seperti kejujuran (ṣidq) dan keikhlasan (ikhlāṣ). ṣidq
adalah Kesesuaian antara ucapan, niat, dan
perbuatan, Keteguhan hati dalam menjalani
kebenaran dan Tidak berpura-pura di hadapan
Allah maupun manusia, sedangkan al-Ikhlāṣ
Keikhlasan adalah kondisi ketika seorang hamba: Beramal
hanya karena Allah, Tidak mengharapkan pujian
makhluk dan Tidak tergoda oleh riya’, sum’ah,
atau motif duniawi, ikhlas adalah puncak dari riyāḍah,
sebab keikhlasan tidak hadir tanpa pembiasaan panjang dalam mengendalikan ego
dan hawa nafsu.
5.3.
Tazkiyah Al-Nafs Ibnu Taimiyah
Amar
Ma’ruf - Nahi Mungkar , amar ma’ruf : memerintahkan
untuk berbuat kebaikan, pijakan dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah Kasih
sayang. Oleh karena itu, Hendaklah amar ma’ruf yang engkau jalankan dengan cara
yang ma‟ruf pula, dan engkau mencegah kemungkaran bukan dengan kemungkaran.
Apabila amar ma‟ruf dan nahi mungkar merupakan kewajiban atau hal sunnah yang
paling agung, maka kewajiban dan hal yang disunnakan tersebut maslahatnya harus
lebih besar daripada mudhratnya, karena dengan inilah para rasul diutus, dan
kitab-kitab diturunkan. Allah tidak menyukai kerusakan, tetapi semua yang
diperintahkan oleh Allah pastilah mengandung kebaikan.
Tiga
perkara ini harus dimilki bagi orang-orang yang menyeru kepada yang ma‟ruf dan
mencegah yang mungkar, yaitu ilmu, kasih sayang dan sabar. Sebelum melakukan
amar ma‟ruf nahi mungkar haruslah memiliki ilmu, dan ketika melaksanaknya harus
disertai dengan kasih sayang dan setelah melakukannya dibutuhkan kesabaran.
Ketiga hal ini harus selalu sejalan dalam segala kondisi.
At-Tadzkir : Memberi
Peringatan, Allah mengkhususkan dzikir, pemberian peringatan dan semisalnya,
untuk orang –orang yang beriman. Mereka dikhususkan dengan kesempurnaan yang
bermanfaat yang membuat mereka bahagia, dimana pula Allah membuat secara umum,
semua terlibat di dalam peringatan yang telah ditegakan hujjah atas
makhluk-Nya, apakah mereka menerima atau tidak.
إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَٰنَ
بِالْغَيْبِ ۖ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ
Artinya: Sesungguhnya kamu Hanya memberi peringatan kepada
orangorang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan yang Maha
Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan
ampunan dan pahala yang mulia. (Q.S. Yasin: 11)
At-Tadzakkur - Al-Khasyyah:
Mengingat dan merasa takut kepada Allah, keterkaitan antara tadzakkur dan
khasyah adalah bahwa Mengingat dapat menimbulkan perasaan takut sehingga
seseorang akan mengingat Allah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Qatadah, “Demi
Allah, tidaklah seorang hamba takut kepada Allah kecuali ia mengingat-Nya.” Ini
adalah suatu kebenaran karena orang yang yang diberi peringatan boleh jadi ia
orang yang ingat apa yang mengajaknya kepada kasih syang, nikmat dan ganjaran
sebagaimana ingtanya seseorang dengan apa-apa yang ia minta kemudian ia
bertaubat. Atau boleh jadi ia mengingat sesuatu yang mendorongnya merasa takut
dan khawatir, ia harus bertaubat ketika itu juga untuk menghindari sesuatu yang ia khawatirkan. Oleh sebab itu,
dikatakan kepada Fir‟aun, agar ia mengingat kemudian bertaubat atau kemudian ia
merasa takut. Musa berkata kepada Fir‟aun dalam surah An-Naazi‟aat
فَقُلۡ هَلۡ لَّكَ اِلٰٓى اَنۡ تَزَكّٰى ۙ , وَاَهۡدِيَكَ اِلٰى رَبِّكَ
فَتَخۡشٰى
Artinya: Dan Katakanlah (kepada Fir'aun): "Adakah keinginan
bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)" Dan kamu akan kupimpin ke
jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?" (Q.S. An-Naazi‟aat:
18-19)
5.4.
Tazkiyah Al-Nafs Dalam Tasawuf
Dalam ilmu Tasawuf tazkiyath al-nafs sudah tersusun secara
terstruktur dalam bentuk mujahadah menapaki maqamat tasawuf, namun tidak ada
kesamaan antara satu imam tasawuf dengan lainnya dalam susnan maqamatnya,
karena para imam dalam menyusun maqamat didasari pengalaman ruhaninya
masing-masing.
Pembersihan
jiwa dengan cara modern, cirinya adalah penggunaan alat untuk mempermudah
mencapai tujuan. Seiring dengan perkembangan dunia fisika Quantum, dan Neuro
sains, maka dibuat alat-alat yang dapat mengukur vibrasi otak maupun jantung,
hasilnya dapat digunakan untuk berbagai keperluan ilmu pengetahuan lainya;
Kedokteran, Kesehatan, Psikologi bahkan untuk keperluan spiritual.
Metode
Tazkiyah Al-Nafs modern di Indonesia dipelopori Ari Ginanjar Agustian dengan
Metode ESQ Way 165 yaitu penanaman nilai Ihsan, Rukun Iman dan Rukun Islam,
Adapun penerapannya dalam bentuk penjernihan jiwa, pembangunan mental,
ketangguhan pribadi dan ketangguhan sosial, dalam penyusunan metode belum
menggunakan teknologi Fibrasi, Quantum, maupun neuro sains, sedangkan dalam
pelaksanaan pelatihan sudah menggunakan teknologi IT dan Audivisual.
Tahapan
penerapan ESQ Way
165 antara lain: penjernihan emosi, pembangunan mental,
ketangguhan pribadi, dan
ketangguhan sosial. metode ESQ
Way 165 tersebut antara lain
nilai-nilai ihsan, rukun iman
dan rukun Islam.
Erbe
Sentanu melalui Kata Hati Institute, dengan bukunya Quantum Ikhlas mengembangan
Tazkiyah Al-Nafs dengan menggunakan teknologi fisika Quantum, yakni dengan fibrasi
irama Freqwensi gelombang beta, alpha, theta dan delta.
Dengan bantuan iringan irama tersebut seseorang dapat diajak masuk ke dalam
perasaan Khusyuk, tentram, damai, bahagia hingga dapat mencapai ektase.
Sedangkan
ustadz Nasrullah dalam bukunya Rahasia Magnet Rezeki, mengkorelasikan hasil
penelitian di bidang Psikologi David R
Hawkins, tentang klasifikasi kesadaran emosi Force: yang merusak dan Power:
yang membangun dengan ajaran Islam nafsu dan takwa, kemudian diformulasikan
menjadi spiritual meter. Diaplikasikan untuk Tazkiyah Al-Nafs dalam
bentuk jurus-jurus, seperti; jurus merawat terumbu karang, jurus kick back,
jendela buram, garputala dll.
Dr.
Aisyah Dahlan, C Ht. dengan Rumah Ilmu
Al Hilya, banyak mengkorelasikan kajian Tazkiyah Al-Nafs dengan hasil
penelitian di bidang neuro sains. Seperti; Nur Muhammad, Doa Ibu,
Istighfar, dzikir meningkatkan kecerdasan , karakter anak dll.
[1] Abu Hamid
al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Juz III (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, t.t.), Halaman
52–53.
[2] Abu Hamid
al-Ghazali, Minhaj al-‘Abidin, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah,
1989), Halaman 45–46.
[3] Abu Hamid
al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Juz III (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, t.t.), Halaman
58–60.
[4] Ibid, Halaman 61–70.
[5] Abu Hamid
al-Ghazali, Minhaj al-‘Abidin, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah,
1989), Halaman 47–48.
[6] Abu Hamid
al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Juz VI (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, t.t.), Halaman
12–13.
[7] Ibid, Juz III,
75–76.
[8] Ibid, Halaman 80–90.
[9] Abu Hamid
al-Ghazali, Minhaj al-‘Abidin, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah,
1989), Halaman 90–92.
[10] Ibn Qayyim al-Jawziyya, Madarij al-Salikin, Jilid 1 (Beirut:
Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1996), 78–80.
[11] Ibn Qayyim al-Jawziyya, Madarij al-Salikin, Jilid 3 (Beirut:
Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1996), 127–128.
[12] Ibid., Jilid 2, 312.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar