22/09/2026

4. Tazkiyah Al-Nafs Di Dalam Hadits

 4.  Tazkiyah Al-Nafs Di Dalam Hadits

Berikut akan dikemukakan beberapa Hadits yang mengandung pengertian tazkiyah al-nafs

4.1. Tazkiyah Al-Nafs Adalah Bila Dia Selalu Merasakan Bahwa Allah Selalu Bersamanya Di Mana Pun Ia Berada

Di dalam kitab Mujam Thabarani Shaghir hadits nomor 555, disebutkan bahwa Nabi menjelaskan Tazkiyah Al-Nafs adalah “Bila dia selalu merasakan bahwa Allah selalu bersamanya di mana pun ia berada”;

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ مَعْرُوفٍ الْحِمْصِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو تَقِيٍّ عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ سَالِمِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْوَلِيدِ الزُّبَيْدِيُّ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ جَابِرٍ الطَّائِيُّ، أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ مُعَاوِيَةَ الْغَاضِرِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ حَدَّثَهُمْ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ : ثَلاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ فَقَدْ ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ : مَنْ عَبَدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَحْدَهُ بِأَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّاهُوَ، وَأَعْطَى زَكَاةَ مَالِهِ طَيِّبَةً بِهَا نَفْسُهُ فِي كُلِّ عَامٍ ، وَلَمْ يُعْطِ الْهَرِمَةَ وَلاَ الدَّرِنَةَ وَلاَ الْمَرِيضَةَ ، وَلَكِنْ مِنْ أَوْسَطِ أَمْوَالِكُمْ ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَسْأَلْكُمْ خَيْرَهَا وَلَمْ يَأْمُرْكُمْ بَشَّرِهَا ، وَزَكَّى نَفْسَهُ ، فَقَالَ رَجُلٌ : وَمَا تَزْكِيَةُ النَّفْسِ ؟ فَقَالَ : أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مَعَهُ حَيْثُ كَانَ  [1]

Artinya: Telah menyampaikan kepada kami Ali Ibnu hasan  bin Ma’ruf al Himsiy, telah menceriterkan kepada kami Abu Taqi Abdul Hamid bin Ibrahim, telah menceriterkan kepada kami Abdullah bin Salim bin Muhammad bin Walid Az Zubaidy, telah menceriterkan kepada kami Yahya bin Jabir At Thaiy, bahwa Abdur Rahman bin Jubair bin Nufair menceriterkan kepadanya, bahwa  bapaknya menceriterakan,  bahwa Abdullah ibnu Mu’awiyah Al Ghadhiry RA menceriterkan kepada mereka, bahwa Rasulullah SAW bersabda; Ada tiga hal yang bila dikerjakan pelakunya berarti telah merasakan manisnya iman, yaitu jika ia selalu beribadah kepada Allah dalam kesendiriannya bahwa tiada Ilah kecuali Allah, dan menyerahkan zakat hartanya dengan hati yang tulus ikhlas setiap tahunnya, dan tidak membayarnya dengan ternak yang sudah tua, ternak yang buruk, ternak yang cacat parah, dan tidak pula ternak yang sakit, tetapi dari standar harta yang dimilikinya, karena Allah tidak meminta yang terbaiknya dan tidak menyuruh dengan yang terburuknya dan menyucikan diri/jiwanya. Lalu ada seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan pengertian menyucikan diri ?" Rasulullah Saw. menjawab: “Bila dia mengetahui/menyadari bahwa Allah selalu bersamanya di mana pun ia berada”.

4.2. Beruntunglah Orang Yang Memurnikan Hatinya Untuk Keimanan, Menjadikan Hatinya Bersih, Lisannya Jujur, Jiwanya Tenang, Akhlaknya Lurus

Nabi Muhammad SAW menyatakan beruntunglah orang yang menyucikan hati karena iman dan menjadikan hatinya sehat, perkataannya benar, jiwanya tenang, akhlaqnya istiqamah,  di dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 21310:

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي الْعَبَّاسِ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ قَالَ وَأَخْبَرَنِي بَحِيرُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ قَالَ قَالَ أَبُو ذَرٍّ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَخْلَصَ قَلْبَهُ لِلْإِيمَانِ وَجَعَلَ قَلْبَهُ سَلِيمًا وَلِسَانَهُ صَادِقًا وَنَفْسَهُ مُطْمَئِنَّةً وَخَلِيقَتَهُ مُسْتَقِيمَةً وَجَعَلَ أُذُنَهُ مُسْتَمِعَةً وَعَيْنَهُ نَاظِرَةً فَأَمَّا الْأُذُنُ فَقَمِعٌ وَالْعَيْنُ بِمُقِرَّةٍ لِمَا يُوعَى الْقَلْبُ وَقَدْ أَفْلَحَ مَنْ جَعَلَ قَلْبَهُ وَاعِيًا [2]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Abul 'Abbas] telah menceritakan kepada kami [Baqiyyah] ia berkata, telah mengabarkan kepada kami [Bahir bin sa'ad] dari [Khalid bin Ma'dan] dia berkata, [Abu Dzar] berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Beruntunglah orang yang memurnikan hatinya untuk keimanan, menjadikan hatinya bersih, lisannya jujur, jiwanya tenang, akhlaknya lurus, menjadikan telinganya mendengar dan matanya melihat. Telinga itu tunduk dan mata itu menurut dengan apa yang diperintahkan oleh hati, dan sungguh telah beruntung orang yang menjadikan hatinya bisa memahami."

4.3. Ya Allah, Karuniakanlah Hatiku Ketakwaan, Sucikanlah Ia, Engkaulah Sebaik-Baik Dzat Yang Mensucikannya, Engkaulah Walinya

Untuk menjaga kesucian hati, Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan doa “Ya Allah karuniakanlah pada hatiku ketakwaan, sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya..”, dimuat di dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 18503.

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ حَدَّثَنَا عَاصِمٌ الْأَحْوَلُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْهَرَمِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَنَفَسٍ لَا تَشْبَعُ وَعِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَدَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا قَالَ فَقَالَ زَيْدُ بْنُ أَرْقَمَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَاهُنَّ وَنَحْنُ نُعَلِّمُكُمُوهُنَّ [3]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami ['Affan] Telah menceritakan kepada kami [Abdul Wahid bin Ziyad] Telah menceritakan kepada kami [Ashim Al Ahwal] dari [Abdullah bin Harits] dari [Zaid bin Arqam] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdo'a: Ya Allah, aku berlindung pada-Mu daripada kelemahan, kemalasan, kepikunan, sifat pengecut, bakhil dan dari siksa kubur. Ya Allah, karuniakanlah hatiku ketakwaan, sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah walinya (Penolongnya). Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, dari hati yang tak pernah khyusu', nafsu yang tak pernah puas, ilmu tidak bermanfaat dan do'a yang tidak pernah terkabulkan." Zaid bin Arqam berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan do'a itu pada kami, dan kami mengajarkannya kepada kalian.



[1] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Raudh Al-Dani (Al-Mu’jam Al-Shaghir), Al-Maktab Al-Islami, Dar Umar, Beirut, 1985, Jilid 1, Halaman 334, Hadits nomor 555.

[2] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 35, Halaman 239, Hadits nomor 21310.

[3] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 2088, Hadits nomor 73 (2722).

Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post