4. Tazkiyah Al-Nafs Di Dalam Hadits
Berikut akan dikemukakan beberapa
Hadits yang mengandung pengertian tazkiyah al-nafs
Di
dalam kitab Mujam Thabarani Shaghir hadits nomor 555, disebutkan bahwa Nabi
menjelaskan Tazkiyah Al-Nafs adalah “Bila dia selalu merasakan bahwa Allah
selalu bersamanya di mana pun ia berada”;
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ
مَعْرُوفٍ الْحِمْصِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو تَقِيٍّ عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ
إِبْرَاهِيمَ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ سَالِمِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ
الْوَلِيدِ الزُّبَيْدِيُّ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ جَابِرٍ الطَّائِيُّ، أَنَّ
عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَاهُ
حَدَّثَهُ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ مُعَاوِيَةَ الْغَاضِرِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
حَدَّثَهُمْ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ :
ثَلاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ فَقَدْ ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ : مَنْ عَبَدَ اللَّهَ
عَزَّ وَجَلَّ وَحْدَهُ بِأَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّاهُوَ، وَأَعْطَى زَكَاةَ
مَالِهِ طَيِّبَةً بِهَا نَفْسُهُ فِي كُلِّ عَامٍ ، وَلَمْ يُعْطِ الْهَرِمَةَ
وَلاَ الدَّرِنَةَ وَلاَ الْمَرِيضَةَ ، وَلَكِنْ مِنْ أَوْسَطِ أَمْوَالِكُمْ ، فَإِنَّ
اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَسْأَلْكُمْ خَيْرَهَا وَلَمْ يَأْمُرْكُمْ
بَشَّرِهَا ، وَزَكَّى نَفْسَهُ ، فَقَالَ رَجُلٌ : وَمَا تَزْكِيَةُ النَّفْسِ ؟
فَقَالَ : أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مَعَهُ حَيْثُ كَانَ [1]
Artinya: Telah menyampaikan kepada kami Ali Ibnu hasan bin Ma’ruf al Himsiy, telah menceriterkan
kepada kami Abu Taqi Abdul Hamid bin Ibrahim, telah menceriterkan kepada kami
Abdullah bin Salim bin Muhammad bin Walid Az Zubaidy, telah menceriterkan
kepada kami Yahya bin Jabir At Thaiy, bahwa Abdur Rahman bin Jubair bin Nufair
menceriterkan kepadanya, bahwa bapaknya
menceriterakan, bahwa Abdullah ibnu
Mu’awiyah Al Ghadhiry RA menceriterkan kepada mereka, bahwa Rasulullah SAW
bersabda; Ada tiga hal yang bila dikerjakan pelakunya berarti telah merasakan
manisnya iman, yaitu jika ia selalu beribadah kepada Allah dalam kesendiriannya
bahwa tiada Ilah kecuali Allah, dan menyerahkan zakat hartanya dengan hati yang
tulus ikhlas setiap tahunnya, dan tidak membayarnya dengan ternak yang sudah
tua, ternak yang buruk, ternak yang cacat parah, dan tidak pula ternak yang
sakit, tetapi dari standar harta yang dimilikinya, karena Allah tidak meminta
yang terbaiknya dan tidak menyuruh dengan yang terburuknya dan menyucikan
diri/jiwanya. Lalu ada seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah
yang dimaksud dengan pengertian menyucikan diri ?" Rasulullah Saw.
menjawab: “Bila dia mengetahui/menyadari bahwa Allah selalu bersamanya di mana
pun ia berada”.
Nabi
Muhammad SAW menyatakan beruntunglah orang yang menyucikan hati karena iman dan
menjadikan hatinya sehat, perkataannya benar, jiwanya tenang, akhlaqnya
istiqamah, di dalam kitab Musnad Ahmad
hadis nomor 21310:
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي
الْعَبَّاسِ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ قَالَ وَأَخْبَرَنِي بَحِيرُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ
خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ قَالَ قَالَ أَبُو ذَرٍّ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَخْلَصَ قَلْبَهُ
لِلْإِيمَانِ وَجَعَلَ قَلْبَهُ سَلِيمًا وَلِسَانَهُ صَادِقًا وَنَفْسَهُ
مُطْمَئِنَّةً وَخَلِيقَتَهُ مُسْتَقِيمَةً وَجَعَلَ أُذُنَهُ مُسْتَمِعَةً
وَعَيْنَهُ نَاظِرَةً فَأَمَّا الْأُذُنُ فَقَمِعٌ وَالْعَيْنُ بِمُقِرَّةٍ لِمَا
يُوعَى الْقَلْبُ وَقَدْ أَفْلَحَ مَنْ جَعَلَ قَلْبَهُ وَاعِيًا [2]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Abul
'Abbas] telah menceritakan kepada kami [Baqiyyah] ia berkata, telah mengabarkan
kepada kami [Bahir bin sa'ad] dari [Khalid bin Ma'dan] dia berkata, [Abu Dzar]
berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Beruntunglah orang yang memurnikan hatinya untuk keimanan,
menjadikan hatinya bersih, lisannya jujur, jiwanya tenang, akhlaknya lurus,
menjadikan telinganya mendengar dan matanya melihat. Telinga itu tunduk dan
mata itu menurut dengan apa yang diperintahkan oleh hati, dan sungguh telah
beruntung orang yang menjadikan hatinya bisa memahami."
Untuk
menjaga kesucian hati, Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan doa “Ya Allah
karuniakanlah pada hatiku ketakwaan, sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik Dzat
yang mensucikannya..”, dimuat di dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 18503.
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا عَبْدُ
الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ حَدَّثَنَا عَاصِمٌ الْأَحْوَلُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
الْحَارِثِ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ
وَالْكَسَلِ وَالْهَرَمِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ
آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ
وَنَفَسٍ لَا تَشْبَعُ وَعِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَدَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا
قَالَ فَقَالَ زَيْدُ بْنُ أَرْقَمَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَاهُنَّ وَنَحْنُ نُعَلِّمُكُمُوهُنَّ [3]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami ['Affan] Telah
menceritakan kepada kami [Abdul Wahid bin Ziyad] Telah menceritakan kepada kami
[Ashim Al Ahwal] dari [Abdullah bin Harits] dari [Zaid bin Arqam] ia berkata;
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdo'a: Ya Allah, aku
berlindung pada-Mu daripada kelemahan, kemalasan, kepikunan, sifat pengecut,
bakhil dan dari siksa kubur. Ya Allah, karuniakanlah hatiku ketakwaan,
sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah walinya
(Penolongnya). Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, dari hati yang tak pernah
khyusu', nafsu yang tak pernah puas, ilmu tidak bermanfaat dan do'a yang tidak
pernah terkabulkan." Zaid bin Arqam berkata; Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan do'a itu pada kami, dan kami mengajarkannya kepada
kalian.
[1] Abu Al-Qasim
Al-Thabarani, Al-Raudh Al-Dani (Al-Mu’jam Al-Shaghir), Al-Maktab
Al-Islami, Dar Umar, Beirut, 1985, Jilid 1, Halaman 334, Hadits nomor 555.
[2] Al Imam Ahmad bin
Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 35, Halaman 239, Hadits nomor 21310.
[3] Imam Muslim, Shahih
Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 2088,
Hadits nomor 73 (2722).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar