3. Rangkuman Dan Kesimpulan
Iradah Di Dalam Al-Quran
Di sini akan dikemukakan
rangkuman klasifikasi kata dasar “rawada” yang merupakan bentuk asal dari kata
“iradah”. Kata iradah bermakna mau, ingin, hendak, rela, mencari, dan berniat.
Dalam kajian ini, iradah dipahami sebagai kehendak Allah yang sempurna untuk
menentukan dan mengarahkan terjadinya sesuatu sesuai dengan ilmu, kekuasaan,
dan hikmah-Nya. Adapun iradah manusia merupakan kehendak dan pilihan yang
diberikan Allah kepada manusia, tetapi kehendak tersebut tetap berada di bawah
kehendak, kekuasaan, dan ketetapan Allah. Hasil pencarian kata rawada dan
turunannya dengan aplikasi Quran Research Zekr 1.1.0 menemukan 148 kali
pengulangan yang tersebar dalam 120 ayat. Ayat-ayat tersebut kemudian
diklasifikasikan ke dalam konsep “Cermin Qalbu” yang terdiri atas sebelas
tingkatan takwa dan sepuluh tingkatan fujur, untuk melihat bentuk keinginan,
kehendak, dan kemauan yang berkaitan dengan kehendak Allah maupun kehendak
manusia.
Penghitungan pada rangkuman
berikut dilakukan berdasarkan setiap nomor ayat yang dicantumkan dalam
klasifikasi. Rentang ayat dihitung sesuai jumlah ayatnya, sedangkan apabila
satu ayat muncul pada lebih dari satu tingkatan, ayat tersebut dihitung pada masing-masing
klasifikasi. Dengan demikian, jumlah ayat pada masing-masing tingkatan
merupakan jumlah rujukan ayat yang digunakan dalam pembahasan tingkatan
tersebut, bukan semata-mata jumlah ayat unik dalam seluruh kajian.
Tingkatan Iradah bagi Orang
yang Bertakwa
1. Tingkat Taubat
didasari 1 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu An-Nisa’/ 4: 27.
2. Tingkat Sabar
didasari 3 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu Ali Imran/ 3: 120, 125, dan 186.
3. Tingkat Ikhlas
didasari 3 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu Al-Baqarah/ 2: 139, An-Nisa’/ 4: 146,
dan Az-Zumar/ 39: 2.
4. Tingkat Islam
didasari 8 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu Al-Baqarah/ 2: 185, 228, dan 233;
An-Nisa’/ 4: 28; Al-Maidah/ 5: 1 dan 6; Yusuf/ 12: 61; serta Al-Qashash/ 28:
27.
5. Tingkat Iman
didasari 12 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu Al-Baqarah/ 2: 253; Ali Imran/ 3:
152; Al-Maidah/ 5: 17; Hud/ 11: 107; Ar-Ra’du/ 13: 11; An-Nahl/ 16: 40; Yasin/
36: 82; Al-Anbiya’/ 21: 17; Al-Hajj/ 22: 14; Al-Buruj/ 85: 16; Asy-Syura/ 42:
20; serta Adz-Dzariyat/ 51: 57-58.
6. Tingkat Ihsan
didasari 10 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu An-Nisa’/ 4: 35 dan 62; Al-Maidah/ 5:
113; Al-Anfal/ 8: 7; Hud/ 11: 88; Al-Kahfi/ 18: 77, 79, 81, dan 82; serta
An-Nur/ 24: 33.
7. Tingkat
Mahabbah didasari 5 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu Ali Imran/ 3: 31 dan 92;
Al-Maidah/ 5: 54; Al-Hujurat/ 49: 7; serta Al-Ahzab/ 33: 33.
8. Tingkat Rahmah
didasari 7 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu Ali Imran/ 3: 108 dan 145; Al-Furqan/
25: 62; Al-Qashash/ 28: 5; Al-Ahzab/ 33: 50 dan 56; serta Az-Zumar/ 39: 38.
9. Tingkat Ridha
didasari 7 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu Al-An’am/ 6: 52; Yunus/ 10: 107;
Al-Kahfi/ 18: 28; Ar-Rum/ 30: 38 dan 39; Al-Ahzab/ 33: 29; serta Al-Insan/ 76:
9.
10. Tingkat
Hidayah didasari 7 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu Al-Baqarah/ 2: 26; An-Nisa’/
4: 26; Al-An’am/ 6: 125; Al-Hajj/ 22: 16; Yunus/ 10: 108; Al-Isra’/ 17: 15;
serta An-Naml/ 27: 92.
11. Tingkat Jannah
didasari 11 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu Ali Imran/ 3: 152 dan 145; Al-Isra’/
17: 19; Asy-Syura/ 42: 20; Al-Baqarah/ 2: 214 dan 35; Ali Imran/ 3: 142;
Az-Zumar/ 39: 73; Maryam/ 19: 63; At-Taubah/ 9: 111; serta Al-A’raf/ 7: 19.
Tingkatan Iradah bagi Orang
yang Fujur
1. Tingkat
Nafsiyah didasari 5 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu Yusuf/ 12: 23, 26, 30, 32,
dan 51.
2. Tingkat Ghadab
didasari 1 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu Thaha/ 20: 86.
3. Tingkat Syahwat
dan Hawa didasari 9 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu An-Nisa’/ 4: 27 dan 134;
Al-Anfal/ 8: 67; Hud/ 11: 15; Al-Kahfi/ 18: 28; Al-Qashash/ 28: 79; Al-Ahzab/
33: 28; Asy-Syura/ 42: 20; serta An-Najm/ 53: 29.
4. Tingkat Khauf
didasari 3 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu Yasin/ 36: 23; Az-Zumar/ 39: 38; serta
Al-Fath/ 48: 11.
5. Tingkat Huzn
didasari 1 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu Al-Fath/ 48: 15.
6. Tingkat Tai’su
didasari 1 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu Al-Jinn/ 72: 10.
7. Tingkat Fasik
didasari 14 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu An-Nisa’/ 4: 88; Al-Maidah/ 5: 41 dan
49; Al-Anfal/ 8: 62 dan 71; Al-A’raf/ 7: 110; At-Taubah/ 9: 46 dan 107;
Al-Isra’/ 17: 16; Thaha/ 20: 63; Asy-Syuara’/ 26: 35; Al-Qashash/ 28: 19;
As-Sajdah/ 32: 20; serta Ash-Shafat/ 37: 98.
8. Tingkat Dhalim
didasari 12 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu An-Nisa’/ 4: 20 dan 44; Al-Maidah/ 5:
29 dan 91; Al-An’am/ 6: 125; Hud/ 11: 34 dan 79; Al-Isra’/ 17: 103; Al-Anbiya’/
21: 70; Al-Hajj/ 22: 25; Ghafir/ 40: 31; serta Al-Qamar/ 54: 37.
9. Tingkat Kafir
didasari 12 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu Al-Baqarah/ 2: 108; Ali Imran/ 3:
176; An-Nisa’/ 4: 60, 144, dan 150; At-Taubah/ 9: 55 dan 85; Ibrahim/ 14: 10;
Al-Mukminun/ 23: 24; Shad/ 38: 6; Ath-Thur/ 52: 42; serta Al-Mudatsir/ 74: 31.
10. Tingkat
Jahannam didasari 6 rujukan ayat Al-Qur’an, yaitu Al-Maidah/ 5: 37; At-Taubah/
9: 32; Ash-Shaf/ 61: 8; Al-Isra’/ 17: 18; Al-Hajj/ 22: 22; serta Ash-Shafat/
37: 86.
Kesimpulan akhirnya, klasifikasi iradah dalam kata dasar rawada dan turunannya menunjukkan 74 ayat/rujukan ayat pada kelompok Takwa dan 64 ayat/rujukan ayat pada kelompok Fujur, sehingga terdapat 138 kemunculan rujukan ayat dalam keseluruhan klasifikasi. Jumlah tersebut merupakan hitungan berdasarkan nomor ayat yang dicantumkan pada setiap tingkatan, sehingga ayat yang sama dan muncul pada lebih dari satu tingkatan tetap dihitung pada masing-masing klasifikasi. Secara keseluruhan, kajian ini memperlihatkan bahwa konsep iradah (kehendak, keinginan, kemauan, dan niat) dalam Al-Qur’an dapat dipetakan secara terstruktur melalui “Cermin Qalbu” ke dalam dua arah perkembangan spiritual, yaitu takwa dan fujur.
Pada sisi takwa, iradah diarahkan kepada taubat, sabar,
ikhlas, Islam, iman, ihsan, mahabbah, rahmah, ridha, hidayah, hingga jannah.
Sebaliknya, pada sisi fujur, iradah tampak dalam dorongan nafsiyah, ghadab,
syahwat dan hawa, khauf, huzn, tai’su, fasik, dhalim, kafir, hingga jahannam.
Temuan tersebut menegaskan bahwa keinginan manusia memiliki dimensi moral dan
spiritual: kehendak dapat diarahkan menuju kebaikan dan kedekatan kepada Allah,
atau dapat berkembang menuju penyimpangan apabila mengikuti dorongan fujur.
Pada saat yang sama, kajian ini menempatkan kehendak manusia tetap berada di
bawah kehendak, kekuasaan, dan ketetapan Allah.
Dengan adanya bukti tingkatan iradah ini dapat dijadikan pedoman untuk melakukan Tazkiyah Al-Nafs dalam iradah, dengan cara menanamkan kesadaran iradah; niat untuk membersihkan diri dari iradah yang bernilai fujur sekaligus menumbuhkan dan meningkatkan iradah yang bernilai takwa, dengan keyakinan bahwa kehendak manusia tetap berada di bawah kehendak, kekuasaan, dan ketetapan Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar