2.2. Tingkatan Iradah Pada Orang Yang Fujur Berdasar Al-Quran
Manusia
hendak berbuat fujur terus-menerus, dinyatakan di dalam Al-Quran surat
Al-Qiyamah/ 75: 5;
بَلْ يُرِيدُ
الْإِنسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ ﴿القيامة: ٥﴾
Artinya: Bahkan manusia itu
hendak membuat maksiat terus menerus. (QS. Al-Qiyamah/ 75: 5)
Karena manusia diberi potensi fujur terlebih dahulu
sebelum takwa, maka beruntunglah orang yang membersihkan nafs; jiwa dari fujur,
dan merugilah orang yang mengotorinya dengan fujur, sebagaimana disebutkan di
dalam Al-Quran surat Asy-Syams/ 91: 8;
فَأَلْهَمَهَا
فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا, قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا, قَدْ أَفْلَحَ مَن
زَكَّاهَا ﴿الشمس: ٩-٨﴾
Artinya: maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan)
kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan
jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (91: 8-10)
Berikut akan dikemukakan ayat-ayat
Al-Quran yang menggambarkan tingkat iradah; keinginan dalam kelompok fujur,
yang terdiri dari sepuluh tingkat, yakni sebagai berikut;
Di sini akan dikemukakan beberapa ayat
Al-Quran yang menggambarkan adanya keinginan, kemauan fujur di ahaya nafsiyah; ego.
Dan ahaya (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda
Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya
berkata: “Marilah ke sini”, dan kisah selanjutnya yang disebutkan di dalam
Al-Quran surat Yusuf/ 12: 23, 26, 30, 32, dan 51 yang menggambarkan adanya
keinginan yang kuat dari dirinya (Zulaikha) sehingga mempengaruhi orang lain
(Yusuf) untuk memenuhi keinginannya;
وَرَاوَدَتْهُ
الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَن نَّفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ
هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا
يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ ﴿يوسف: ٢٣﴾
Artinya: Dan ahaya (Zulaikha)
yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya
(kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini”.
Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh ahaya telah memperlakukan
aku dengan baik”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.
(QS. Yusuf/ 12: 23)
قَالَ هِيَ
رَاوَدَتْنِي عَن نَّفْسِي وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّنْ أَهْلِهَا إِن كَانَ قَمِيصُهُ
قُدَّ مِن قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ ﴿يوسف: ٢٦﴾
Artinya: Yusuf berkata: “Dia
menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)”, dan seorang saksi dari
keluarga ahaya itu memberikan kesaksiannya: “Jika baju gamisnya koyak di muka,
maka ahaya itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. (QS. Yusuf/
12: 26)
وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ
تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَن نَّفْسِهِ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا إِنَّا لَنَرَاهَا فِي
ضَلَالٍ مُّبِينٍ ﴿يوسف: ٣٠﴾
Artinya: Dan ahaya-wanita di
kota berkata: “Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya
(kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu ahaya sangat mendalam.
Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Yusuf/ 12:
30)
قَالَتْ
فَذَٰلِكُنَّ الَّذِي لُمْتُنَّنِي فِيهِ وَلَقَدْ رَاوَدتُّهُ عَن نَّفْسِهِ
فَاسْتَعْصَمَ وَلَئِن لَّمْ يَفْعَلْ مَا آمُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُونًا
مِّنَ الصَّاغِرِينَ ﴿يوسف: ٣٢﴾
Artinya: Wanita itu berkata: “Itulah
dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku
telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia
menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan
kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan
orang-orang yang hina”. (QS. Yusuf/ 12: 32)
قَالَ مَا
خَطْبُكُنَّ إِذْ رَاوَدتُّنَّ يُوسُفَ عَن نَّفْسِهِ قُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا
عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِن سُوءٍ قَالَتِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ الْآنَ حَصْحَصَ
الْحَقُّ أَنَا رَاوَدتُّهُ عَن نَّفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ ﴿يوسف:
٥١﴾
Artinya: Raja berkata (kepada ahaya-wanita
itu): “Bagaimana keadaanmu ahaya kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya
(kepadamu)?” Mereka berkata: “Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui
sesuatu keburukan dari padanya”. Berkata isteri Al Aziz: “Sekarang jelaslah
kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku),
dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar”. (QS. Yusuf/ 12: 51)
Di dalam Al-Quran surat
Thaha/ 20: 86, dinyatakan atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu
menimpamu;
فَرَجَعَ
مُوسَىٰ إِلَىٰ قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ يَا قَوْمِ أَلَمْ يَعِدْكُمْ
رَبُّكُمْ وَعْدًا حَسَنًا أَفَطَالَ عَلَيْكُمُ الْعَهْدُ أَمْ أَرَدتُّمْ أَن
يَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبٌ مِّن رَّبِّكُمْ فَأَخْلَفْتُم مَّوْعِدِي ﴿طه: ٨٦﴾
Artinya: Kemudian Musa ahaya
kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa: “Hai kaumku,
bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah
terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan
dari Tuhanmu menimpamu, dan kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?”. (QS.
Thaha/ 20: 86)
2.2.3.
Tingkat Syahwat Dan Hawa
Di sini akan dikemukakan beberapa ayat
Al-Quran yang menggambarkan adanya keinginan, kemauan fujur di tingkat syahwat dan hawa; kesenagan duniawi.
Di dalam Al-Quran surat
An-Nisa’/ 4: 27 digambarkan bahwa orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya
bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran);
وَاللَّهُ
يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ
أَن تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا ﴿النساء: ٢٧﴾
Artinya: Dan Allah hendak
menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud
supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). (QS. An-Nisa’/ 4:
27)
Di dalam Al-Quran surat
An-Nisa’/ 4: 134 dinyatakan bahwa Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia
saja (makai a merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat;
مَّن كَانَ
يُرِيدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِندَ اللَّهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا بَصِيرًا ﴿النساء: ١٣٤﴾
Artinya: Barangsiapa yang
menghendaki pahala di dunia saja (ahaya merugi), karena di sisi Allah ada
pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS.
An-Nisa’/ 4: 134)
Sedangkan di dalam
Al-Quran surat Al-Anfal/ 8: 67 dinyatakan Tidak patut, bagi seorang Nabi
mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu
menghendaki harta benda duniawiyah;
مَا كَانَ
لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ تُرِيدُونَ
عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
﴿الأنفال: ٦٧﴾
Artinya: Tidak patut, bagi
seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka
bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki
(pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(QS. Al-Anfal/ 8: 67)
Adapun di dalam Al-Quran
surat Hud/ 11: 15 dinyatakan Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan
perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di
dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan;
مَن كَانَ
يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ
فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿هود: ١٥﴾
Artinya: Barangsiapa yang
menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada
mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia
itu tidak akan dirugikan. (QS. Hud/ 11: 15)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Kahfi/ 18: 28 disebutkan peringatan janganlah kedua matamu berpaling dari
mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti
orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti
hawa nafsunya;
وَاصْبِرْ
نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ
وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ
أَمْرُهُ فُرُطًا ﴿الكهف: ٢٨﴾
Artinya: Dan bersabarlah kamu ahaya-sama
dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan
mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka
(karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang
yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa
nafsunya dan ahaya keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi/ 18: 28)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Qashash/ 28: 79 digambarkan bahwa orang-orang yang menghendaki kehidupan
dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan
kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar;
فَخَرَجَ
عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
﴿القصص: ٧٩﴾
Artinya: Maka keluarlah Karun
kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki
kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah
diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan
yang besar”. (QS. Al-Qashash/ 28: 79)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Ahzab/ 33: 28 disebutkan perintah kepada Nabi untuk mengatakan kepada
istri-istrinya, “Jika kamu sekalian
mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan
kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik”;
يَا أَيُّهَا
النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا
﴿الأحزاب: ٢٨﴾
Artinya: Hai Nabi, katakanlah
kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan
perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan
kamu dengan cara yang baik. (QS. Al-Ahzab/ 33: 28)
Di dalam Al-Quran surat
Asy-Syura/ 42: 20 ditegaskan bahwa barang siapa yang menghendaki keuntungan di
dunia Kami berikan kepadanya ahaya dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya
suatu bahagianpun di akhirat;
مَن كَانَ
يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ
الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ ﴿الشورى:
٢٠﴾
Artinya: Barang siapa yang
menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan
barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya ahaya
dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.
(QS. Asy-Syura/ 42: 20)
Di dalam Al-Quran surat
An-Najm/ 53: 29 disebutkan peringatan agar berpaling dari orang-orang yang
berpaling dari peringatan Allah, dan tidak mengingini kecuali kehidupan
duniawi;
فَأَعْرِضْ
عَن مَّن تَوَلَّىٰ عَن ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
﴿النجم: ٢٩﴾
Artinya: Maka berpalinglah (hai
Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini
kecuali kehidupan duniawi. (QS. An-Najm/ 53: 29)
Ketika Allah menghendaki kemadharatan;
bahaya terhadap hambanya, maka tidak ada orang yang dapat menolaknya, bahkan
tidak ada Tuhan lain yang dapat menolongnya, sehingga timbulnya rasa khauf;
takut kepada selain Allah tidak memberi manfaat dan madharat, dengan demikian
hanya kepada Allah ada rasa khauf; takut.
Di dalam Al-Quran surat Yasin/ 36: 23
disebutkan pernyataan jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan
(bahaya; ketakutan) terhadapku, niscaya
syafa’at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak
(pula) dapat menyelamatkanku?
أَأَتَّخِذُ
مِن دُونِهِ آلِهَةً إِن يُرِدْنِ الرَّحْمَٰنُ بِضُرٍّ لَّا تُغْنِ عَنِّي
شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنقِذُونِ ﴿يس: ٢٣﴾
Artinya: Mengapa aku akan
menyembah tuhan-tuhan selain-Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki
kemudharatan terhadapku, niscaya syafa’at mereka tidak memberi manfaat
sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? (QS.
Yasin/ 36: 23)
Sedangkan di dalam
Al-Quran surat Az-Zumar/ 39: 38 disebutkan pernyataan jika Allah hendak
mendatangkan kemudharatan (bahaya; ketakutan) kepadaku, apakah
berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu;
وَلَئِن
سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ
أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ
هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ
رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ ﴿الزمر:
٣٨﴾
Artinya: Dan sungguh jika kamu
bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya
mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa
yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan
kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu,
atau jika Allah hendak memberi ahaya kepadaku, apakah mereka dapat menahan ahaya-Nya?.
Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang
yang berserah diri. (QS. Az-Zumar/ 39: 38)
Adapun di dalam Al-Quran
surat Al-Fath/ 48: 11 disebutkan pertanyaan siapakah (gerangan) yang dapat
menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan (bahaya;
ketakutan) bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu;
سَيَقُولُ
لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ الْأَعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا
فَاسْتَغْفِرْ لَنَا يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِم مَّا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ قُلْ
فَمَن يَمْلِكُ لَكُم مِّنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ
أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا بَلْ كَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا ﴿الفتح:
١١﴾
Artinya: Orang-orang Badwi yang
tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: “Harta dan keluarga
kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami”; mereka
mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah: “Maka
siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia
menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu.
Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Fath/ 48:
11)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Fath/ 48: 15 disebutkan Gambaran bahwa mereka hendak merubah janji Allah.
Maka katakanlah: Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami; demikian Allah
telah menetapkan sebelumnya, mengakibatkan kesedihan kepada mereka karena tidak
diperbolehkan mengikuti perang sehingga tidak dapat memperoleh ghanimah;
سَيَقُولُ
الْمُخَلَّفُونَ إِذَا انطَلَقْتُمْ إِلَىٰ مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوهَا ذَرُونَا
نَتَّبِعْكُمْ يُرِيدُونَ أَن يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللَّهِ قُل لَّن تَتَّبِعُونَا
كَذَٰلِكُمْ قَالَ اللَّهُ مِن قَبْلُ فَسَيَقُولُونَ بَلْ تَحْسُدُونَنَا بَلْ
كَانُوا لَا يَفْقَهُونَ إِلَّا قَلِيلًا ﴿الفتح: ١٥﴾
Artinya: Orang-orang Badwi yang
tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang
rampasan: “Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu”; mereka hendak merubah
janji Allah. Katakanlah: “Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami;
demikian Allah telah menetapkan sebelumnya”; mereka akan mengatakan:
“Sebenarnya kamu dengki kepada kami”. Bahkan mereka tidak mengerti melainkan
sedikit sekali. (QS. Al-Fath/ 48: 15)
Jin sudah
berputus asa karena tidak mengetahui hakekatnya yang kehendaki Allah keburukan
atau kebaikan, tergambar di dalam A-Quran surat Al-Jinn/ 72: 10;
وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ
بِمَن فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا ﴿الجن: ١٠﴾
Artinya: Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan
adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi
ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka. (QS. Al-Jinn/ 72: 10)
Di sini akan dikemukakan beberapa ayat
Al-Quran yang menggambarkan adanya keinginan, kemauan fujur di tingkat fasik; durhaka.
Di dalam Al-Quran surat
An-Nisa’/ 4: 88 disebutkan pertanyaan dan pernyataan: Apakah kamu bermaksud
memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah (munafiq;
fasiq) ? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan
jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya;
فَمَا لَكُمْ
فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُم بِمَا كَسَبُوا
أَتُرِيدُونَ أَن تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَن
تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا ﴿النساء: ٨٨﴾
Artinya: Maka mengapa kamu
(terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal
Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka
sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah
disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak
mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. (QS. An-Nisa’/ 4: 88)
Sedangkan di dalam
Al-Quran surat Al-Maidah/ 5: 41 dinyatakan Barangsiapa yang Allah menghendaki
kesesatannya (munafiq; fasiq), maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak
sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu ahaya orang-orang yang
Allah tidak hendak mensucikan hati mereka;
يَا أَيُّهَا
الرَّسُولُ لَا يَحْزُنكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ
قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِن قُلُوبُهُمْ وَمِنَ الَّذِينَ
هَادُوا سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ
يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِن بَعْدِ مَوَاضِعِهِ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَٰذَا
فَخُذُوهُ وَإِن لَّمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا وَمَن يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ
فَلَن تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ
اللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي
الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿المائدة: ٤١﴾
Artinya: Hari Rasul, janganlah
hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan)
kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:
“Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara
orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar
(berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain
yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat)
dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah di
rubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang
bukan ini maka hati-hatilah”. Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya,
maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang)
daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak
mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka
beroleh siksaan yang besar. (QS. Al-Maidah/ 5: 41)
Adapun di dalam Al-Quran surat
Al-Maidah/ 5: 49 ditegaskan bahwa Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah
diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan
menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan
sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik;
وَأَنِ احْكُم
بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن
يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِن تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ
أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا
مِّنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ ﴿المائدة: ٤٩﴾
Artinya: dan hendaklah kamu memutuskan perkara
di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya
mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah
kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka
ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada
mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan
manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Maidah/ 5: 49)
Di dalam Al-Quran surat Al-Anfal/8: 62
ditegaskan jika mereka (orang Fasiq) bermaksud menipumu, maka sesungguhnya
cukuplah Allah (menjadi pelindungmu);
وَإِن يُرِيدُوا
أَن يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ
وَبِالْمُؤْمِنِينَ ﴿الأنفال: ٦٢﴾
Artinya: Dan jika mereka bermaksud menipumu,
maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang
memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, (QS. Al-Anfal/ 8: 62)
Di dalam Al-Quran surat Al-Anfal/ 8:
71 ditegaskan jika mereka (orang Fasiq) bermaksud hendak berkhianat kepadamu,
maka sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini, lalu Allah
menjadikan(mu) berkuasa terhadap mereka;
وَإِن يُرِيدُوا
خِيَانَتَكَ فَقَدْ خَانُوا اللَّهَ مِن قَبْلُ فَأَمْكَنَ مِنْهُمْ وَاللَّهُ
عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿الأنفال: ٧١﴾
Artinya: Akan tetapi jika mereka
(tawanan-tawanan itu) bermaksud hendak berkhianat kepadamu, maka sesungguhnya
mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini, lalu Allah menjadikan(mu)
berkuasa terhadap mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(QS. Al-Anfal/ 8: 71)
Di dalam Al-Quran surat Al-A’raf/ 7: 110
digambarkan bahwa Perkataan pembesar-pembesar Firaun yang fasik, bermaksud hendak mengeluarkan kamu
dari negerimu;
يُرِيدُ
أَن يُخْرِجَكُم مِّنْ أَرْضِكُمْ فَمَاذَا تَأْمُرُونَ ﴿الأعراف: ١١٠﴾
Artinya: yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu
dari negerimu”. (Fir’aun berkata): “Maka apakah yang kamu anjurkan?” (QS. Al-A’raf/ 7: 110)
Di dalam Al-Quran surat At-Taubah/ 9:
46 digambarkan jika mereka (orang fasiq) mau berangkat, tentulah mereka
menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai
keberangkatan mereka;
وَلَوْ
أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَٰكِن كَرِهَ اللَّهُ
انبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ ﴿التوبة:
٤٦﴾
Artinya: Dan jika mereka mau berangkat,
tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah
tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka.
Dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal
itu”. (QS. At-Taubah/
9: 46)
Di dalam Al-Quran surat At-Taubah/ 9:
107 digambarkan (di antara orang-orang munafik; fasiq itu) ada orang-orang yang
mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin),
untuk kekafiran dan untuk memecah belah;
وَالَّذِينَ
اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ
وَإِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِن قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ
إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
﴿التوبة: ١٠٧﴾
Artinya: Dan (di antara orang-orang
munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan
kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah
antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi
Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak
menghendaki selain kebaikan”. Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka
itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (QS. At-Taubah/ 9: 107)
Jika Kami hendak membinasakan suatu
negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu
(supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kefasiqan; kedurhakaan dalam
negeri itu, pernyataan ini disebutkan di dalam Al-Quran surat Al-Isra’/ 17: 16;
وَإِذَا
أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا
فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا ﴿الإسراء: ١٦﴾
Artinya: Dan jika Kami hendak
membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup
mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan
dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan
Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS.
Al-Isra’/ 17: 16)
Orang-orang fasiq di kalangan Firaun
berkata Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak
mengusir kamu dari negeri kamu, disebutkan di dalam Al-Quran surat Thaha/ 20:
63 dan Asy-Syuara’/ 26: 35;
قَالُوا إِنْ
هَٰذَانِ لَسَاحِرَانِ يُرِيدَانِ أَن يُخْرِجَاكُم مِّنْ أَرْضِكُم بِسِحْرِهِمَا
وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ الْمُثْلَىٰ ﴿طه: ٦٣﴾
Artinya: Mereka berkata:
“Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir
kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu
yang utama. (QS. Thaha/ 20: 63)
يُرِيدُ أَن
يُخْرِجَكُم مِّنْ أَرْضِكُم بِسِحْرِهِ فَمَاذَا تَأْمُرُونَ ﴿الشعراء: ٣٥﴾
Artinya: ia hendak mengusir kamu dari negerimu sendiri
dengan sihirnya; maka karena itu apakah yang kamu anjurkan?” (QS. Asy-Syuara’/ 26: 35)
Sedangkan di dalam Al-Quran surat
Al-Qashash/ 28: 19 digambarkan bahwa Orang-orang fasiq di kalangan Firaun
berkata Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu
kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak
menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini);
فَلَمَّا أَنْ
أَرَادَ أَن يَبْطِشَ بِالَّذِي هُوَ عَدُوٌّ لَّهُمَا قَالَ يَا مُوسَىٰ
أَتُرِيدُ أَن تَقْتُلَنِي كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًا بِالْأَمْسِ إِن تُرِيدُ إِلَّا
أَن تَكُونَ جَبَّارًا فِي الْأَرْضِ وَمَا تُرِيدُ أَن تَكُونَ مِنَ
الْمُصْلِحِينَ ﴿القصص: ١٩﴾
Artinya: Maka tatkala Musa hendak
memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: “Hai
Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah
membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang
yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi
salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian”. (QS.
Al-Qashash/ 28: 19)
Di dalam Al-Quran surat As-Sajdah/ 32:
20 ditegaskan adapun orang-orang yang fasik maka tempat mereka adalah jahannam.
Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya;
وَأَمَّا
الَّذِينَ فَسَقُوا فَمَأْوَاهُمُ النَّارُ كُلَّمَا أَرَادُوا أَن يَخْرُجُوا
مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا وَقِيلَ لَهُمْ ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّذِي كُنتُم
بِهِ تُكَذِّبُونَ ﴿السجدة: ٢٠﴾
Artinya: Dan adapun orang-orang yang fasik
(kafir) maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar
daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka:
“Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya”. (QS. As-Sajdah/ 32: 20)
Mereka (umat Nabi Ibrahim) hendak
melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang
hina. Diksah ini disebutkan di dalam Al-Quran surat Ash-Shafat/ 37: 98;
فَأَرَادُوا
بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَسْفَلِينَ ﴿الصافات: ٩٨﴾
Artinya: Mereka hendak melakukan tipu muslihat
kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. (QS. Ash-Shafat/ 37: 98)
Di sini akan dikemukakan
beberapa ayat Al-Quran yang menggambarkan adanya keinginan, kemauan fujur di tingkat dhalim; aniaya.
Di dalam Al-Quran surat
An-Nisa’/ 4: 20 dinyatakan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri
yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta
yang banyak, maka janganlah kamu mengambil ahaya (dhalim) dari padanya barang
sedikitpun;
وَإِنْ
أَرَدتُّمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَّكَانَ زَوْجٍ وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ
قِنطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا أَتَأْخُذُونَهُ
بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا ﴿النساء: ٢٠﴾
Artinya: Dan jika kamu ingin mengganti isterimu
dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di
antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil ahaya dari
padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya ahaya dengan jalan
tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata? (QS. An-Nisa’/ 4: 20)
Sedangkan di dalam Al-Quran surat An-Nisa’.
4: 44 digambarkan bahwa orang-orang yang dhalim membeli (memilih) kesesatan
(dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat (menyimpang) dari
jalan (yang benar);
أَلَمْ تَرَ
إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِّنَ الْكِتَابِ يَشْتَرُونَ الضَّلَالَةَ
وَيُرِيدُونَ أَن تَضِلُّوا السَّبِيلَ ﴿النساء: ٤٤﴾
Artinya: Apakah kamu tidak
melihat orang-orang yang telah diberi bahagian dari Al Kitab (Taurat)? Mereka
membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu
tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar). (QS. An-Nisa’. 4: 44)
Orang-orang dhalim ingin
agar kamu ahaya dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri,
tergambar di dalam Al-Quran surat Al-Maidah/ 5: 29;
إِنِّي
أُرِيدُ أَن تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ ﴿المائدة: ٢٩﴾
Artinya: “Sesungguhnya aku ingin
agar kamu ahaya dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka
kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi
orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Maidah/ 5: 29)
Gambaran kedhaliman
syaitan selalu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara
kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari
mengingat Allah dan sembahyang, tergambar di dalam Al-Quran surat Al-Maidah/ 5:
91
إِنَّمَا
يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي
الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ
فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ ﴿المائدة: ٩١﴾
Artinya: Sesungguhnya syaitan
itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu
lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat
Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).
(QS. Al-Maidah/ 5: 91)
Gambaran orang yang
dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi
sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit, disebutkan di dalam Al-Quran
surat Al-An’am/ 6: 125
فَمَن يُرِدِ
اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَن يُرِدْ أَن
يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي
السَّمَاءِ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
﴿الأنعام: ١٢٥﴾
Artinya: Barangsiapa yang
Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan
dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah
kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah
ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang
yang tidak beriman. (QS. Al-An’am/ 6: 125)
Sedangkan di dalam
Al-Quran surat Hud/ 11: 34 dinyatakan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku
jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan
kamu;
وَلَا
يَنفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدتُّ أَنْ أَنصَحَ لَكُمْ إِن كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ
أَن يُغْوِيَكُمْ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ﴿هود: ٣٤﴾
Artinya: Dan tidaklah bermanfaat
kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah
hendak menyesatkan kamu, Dia ahaya Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu
dikembalikan”. (QS. Hud/ 11: 34)
Orang-orang dhalim dari
umat nabi Luth mengatakan: Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak
mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu
mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki;
قَالُوا
لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّ وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا
نُرِيدُ ﴿هود: ٧٩﴾
Artinya: Mereka menjawab: “Sesungguhnya
kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu;
dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki”.
(QS. Hud/ 11: 79)
Fir’aun hendak mengusir
mereka (Musa dan pengikut-pengikutnya) dari bumi (Mesir) itu, perbuatan dhalim
ini disebutkan di dalam Al-Quran surat Al-Isra’/ 17: 103;
فَأَرَادَ
أَن يَسْتَفِزَّهُم مِّنَ الْأَرْضِ فَأَغْرَقْنَاهُ وَمَن مَّعَهُ جَمِيعًا
﴿الإسراء: ١٠٣﴾
Artinya: Kemudian (Fir’aun)
hendak mengusir mereka (Musa dan pengikut-pengikutnya) dari bumi (Mesir) itu,
maka Kami tenggelamkan dia (Fir’aun) serta orang-orang yang ahaya-sama dia
seluruhnya, (QS. Al-Isra’/ 17: 103)
Mereka (Raja Namrud dan
pengikutnya) hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, perbuatan dhalim ini
disebutkan di dalam Al-Quran surat Al-Anbiya’/ 21: 70;
وَأَرَادُوا
بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ ﴿الأنبياء: ٧٠﴾
Artinya: mereka hendak berbuat
makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling
merugi. (QS. Al-Anbiya’/ 21: 70)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Hajj/ 22: 25 ditegaskan bagi siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan
kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa
yang pedih;
إِنَّ
الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَن يُرِدْ
فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿الحج: ٢٥﴾
Artinya: Sesungguhnya
orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan
Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim
di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan
kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa
yang pedih. (QS. Al-Hajj/ 22: 25)
Allah menegaskan bahwa
dirinya tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya, disbutkan
di dalam Al-Quran surat Ghafir/ 40: 31;
مِثْلَ
دَأْبِ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَالَّذِينَ مِن بَعْدِهِمْ وَمَا اللَّهُ
يُرِيدُ ظُلْمًا لِّلْعِبَادِ ﴿غافر: ٣١﴾
Artinya: (Yakni) seperti keadaan
kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah
tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya. (QS. Ghafir/
40: 31)
sesungguhnya mereka
telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan
mata mereka, kedhaliman umat nabi Luth disebutkan di dalam Al-Quran surat
Al-Qamar/ 54: 37
وَلَقَدْ
رَاوَدُوهُ عَن ضَيْفِهِ فَطَمَسْنَا أَعْيُنَهُمْ فَذُوقُوا عَذَابِي وَنُذُرِ
﴿القمر: ٣٧﴾
Artinya: Dan sesungguhnya mereka
telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan
mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. (QS. Al-Qamar/
54: 37)
Di sini akan dikemukakan beberapa ayat
Al-Quran yang menggambarkan adanya keinginan, kemauan fujur di ahaya kafir; ingkar; tertutup.
Apakah kamu menghendaki
untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada
jaman dahulu?. Permemintaan kepada Rasul
seperti Bani Israil menyebabkan kekafirannya, disebutkan di dalam Al-Quran
surat Al-Baqarah/ 2: 108;
أَمْ تُرِيدُونَ
أَن تَسْأَلُوا رَسُولَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوسَىٰ مِن قَبْلُ وَمَن يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ
﴿البقرة: ١٠٨﴾
Artinya: Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada
Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada jaman dahulu? Dan
barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah
sesat dari jalan yang lurus. (QS. Al-Baqarah/ 2: 108)
Di dalam Al-Quran surat Ali-Imran/ 3:
176 dinyatakan bahwa Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian
(dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, terhadap orang-orang yang segera
kafir;
وَلَا يَحْزُنكَ
الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَن يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا يُرِيدُ اللَّهُ أَلَّا يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِي الْآخِرَةِ
وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿آلعمران: ١٧٦﴾
Artinya: Janganlah kamu disedihkan
oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tidak
sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak
tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari
akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. (QS. Ali Imran/ 3: 176)
Di dalam Al-Quran surat An-Nisa’/ 4: 60 digambarkan bahwa
Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah
mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan)
penyesatan yang sejauh-jauhnya;
أَلَمْ تَرَ
إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا
أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى
الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن
يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا ﴿النساء: ٦٠﴾
Artinya: Apakah kamu tidak
memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang
diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak
berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut
itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang
sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa’/ 4: 60)
Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata
bagi Allah (untuk menyiksamu)? Dengan menjadikan orang kafir sebagai wali;
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ
الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا
مُّبِينًا ﴿النساء: ١٤٤﴾
Artinya: Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan
orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah
(untuk menyiksamu)?
(QS. An-Nisa’/ 4: 144)
Sesungguhnya orang-orang yang kafir
kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan
kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, pernyataan ini disebutkan di dalam Al-Quran
surat An-Nisa’/ 4: 150;
إِنَّ الَّذِينَ
يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ
وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَن
يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا ﴿النساء: ١٥٠﴾
Artinya: Sesungguhnya orang-orang
yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara
(keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman
kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta
bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang
demikian (iman atau kafir), (QS. An-Nisa’/ 4: 150)
Sesungguhnya Allah menghendaki dengan
(memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan
di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan
kafir, pernyataan ini disebutkan di dalam Al-Quran surat At-Taubah/ 9: 55 dan
85;
فَلَا
تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ
لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنفُسُهُمْ وَهُمْ
كَافِرُونَ ﴿التوبة: ٥٥﴾
Artinya: Maka janganlah harta benda dan anak-anak
mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta
benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan
kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (QS. At-Taubah/ 9: 55)
وَلَا
تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَأَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَن
يُعَذِّبَهُم بِهَا فِي الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ
﴿التوبة: ٨٥﴾
Artinya: Dan janganlah harta benda dan
anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab
mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka,
dalam keadaan kafir. (QS. At-Taubah/ 9: 85)
Mereka (orang-orang kafir) berkata:
“Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk
menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah nenek
moyang kami, disebutkan di dalam Al-Quran surat Ibrahim/ 14: 10;
قَالَتْ
رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَدْعُوكُمْ
لِيَغْفِرَ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى
قَالُوا إِنْ أَنتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا تُرِيدُونَ أَن تَصُدُّونَا عَمَّا
كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُّبِينٍ ﴿ابراهيم: ١٠﴾
Artinya: Berkata rasul-rasul mereka: “Apakah
ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu
untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu
sampai masa yang ditentukan?” Mereka berkata: “Kamu tidak lain hanyalah manusia
seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami
dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada
kami, bukti yang nyata”. (QS. Ibrahim/ 14: 10)
Pemuka-pemuka orang yang kafir di
antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu,
yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau
Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat, pernyataan ini
disebutkan di dalam Al-Quran surat Al-Mukminun/ 23: 24;
فَقَالَ
الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ
يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَائِكَةً
مَّا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ ﴿المؤمنون: ٢٤﴾
Artinya: Maka pemuka-pemuka orang
yang kafir di antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia
seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari
kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat.
Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang
kami yang dahulu. (QS. Al-Mukminun/ 23: 24)
Di dalam Al-Quran surat Shad/ 38: 6
digambarkan bahwa mereka; orang-orang kafir tetap menyembah Tuhan-Tuhan lain
selain Allah, sesuai yang dikehendakinya;
وَانطَلَقَ
الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَىٰ آلِهَتِكُمْ إِنَّ هَٰذَا
لَشَيْءٌ يُرَادُ ﴿ص: ٦﴾
Artinya: Dan pergilah
pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): “Pergilah kamu dan tetaplah
(menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang
dikehendaki. (QS. Shad/ 38: 6)
Di dalam Al-Quran surat Ath-Thur/ 52:
42 dinyatakan bahwa Orang-orang kafir hendak melakukan tipu daya, tetapi
merekalah yang kena tipu daya;
أَمْ يُرِيدُونَ
كَيْدًا فَالَّذِينَ كَفَرُوا هُمُ الْمَكِيدُونَ ﴿الطور: ٤٢﴾
Artinya: Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya?
Maka orang-orang yang kafir itu merekalah yang kena tipu daya. (QS. Ath-Thur/ 52: 42)
Di dalam Al-Quran surat Al-Mudatsir/
74: 31 ditegaskan: Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan
memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya;
وَمَا جَعَلْنَا
أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا
فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ
وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا
الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ
وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا كَذَٰلِكَ يُضِلُّ
اللَّهُ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا
هُوَ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكْرَىٰ لِلْبَشَرِ ﴿المدثر: ٣١﴾
Artinya: Dan tiada Kami jadikan
penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan
bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya
orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah
imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orng-orang mukmin itu
tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan
orang-orang kafir (mengatakan): “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan
ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang
yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar
itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia. (QS. Al-Mudatsir/ 74: 31)
Di dalam AL-Quran surat Al-Maidah/ 5:
37 dan Al-Hajj/ 22: 22 digambarkan bahwa orang yang berkarakter jahannam mereka
ingin keluar dari neraka, padahal mereka sekali-kali tidak dapat keluar
daripadanya;
يُرِيدُونَ أَن
يَخْرُجُوا مِنَ النَّارِ وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنْهَا وَلَهُمْ عَذَابٌ
مُّقِيمٌ ﴿المائدة: ٣٧﴾
Artinya: Mereka ingin keluar dari neraka, padahal
mereka sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya, dan mereka beroleh azab yang
kekal.
(QS. Maidah/ 5: 37)
كُلَّمَا
أَرَادُوا أَن يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ
الْحَرِيقِ ﴿الحج: ٢٢﴾
Artinya: Setiap kali mereka hendak ke luar dari
neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya.
(Kepada mereka dikatakan), “Rasailah azab yang membakar ini”. (QS. Al-Hajj/ 22: 22)
Sedangkan di dalam Al-Quran surat At-Taubah/
9: 32 dan Ash-Shaf/ 61: 8
digambarkan
Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan)
mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya;
يُرِيدُونَ أَن
يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَن يُتِمَّ
نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ﴿التوبة: ٣٢﴾
Artinya: Mereka berkehendak
memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah
tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang
kafir tidak menyukai. (QS. At-Taubah/ 9: 32)
يُرِيدُونَ
لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ
كَرِهَ الْكَافِرُونَ ﴿الصف: ٨﴾
Artinya: Mereka ingin memadamkan cahaya Allah
dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan
cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (QS. Ash-Shaf/ 61: 8)
Orang-orang yang menghendaki padamnya
cahaya Allah adalah orang yang berkarakter jahannam.
Adapun di dalam Al-Quran surat
Al-Isra’/ 17: 18 dinyatakan Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang
(duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki
bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam;
مَّن كَانَ
يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ
جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا ﴿الإسراء: ١٨﴾
Artinya: Barangsiapa menghendaki
kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang
kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka
jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (QS.
Al-Isra’/ 17: 18)
Orang-orang yang berkarakter jahannam
menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong, digambarkan
di dalam Al-Quran surat Ash-Shafat/ 37: 86;
أَئِفْكًا
آلِهَةً دُونَ اللَّهِ تُرِيدُونَ ﴿الصافات: ٨٦﴾
Artinya: Apakah kamu menghendaki
sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? (QS. Ash-Shafat/ 37: 86)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar