06/10/2026

IRADAH 1. Hikmah Iradah

IRADAH
1.  Hikmah Iradah

Kata iradah berasal dari kata dasar rawada menjadi arada-yuridu-iradatan artinya adalah: mau, ingin, hendak, rela, mencari, berniat.[1] Pengertiannya adalah kehendak Allah yang sempurna untuk menentukan dan mengarahkan terjadinya sesuatu sesuai dengan ilmu, kekuasaan dan hikmah-Nya. Sedangkan apabila dikaitkan dengan manusia, Iradah manusia adalah kehendak dan pilihan yang diberikan Allah kepada manusia, tetapi kehendak tersebut tetap berada di bawah kehendak, kekuasaan dan ketetapan Allah.

Manusia tidak dapat menolak kehendak Allah jika Allah menghendaki bencana atasnya atau menghendaki rahmat untuknya, ditegaskan di dalam Al-Quran surat Al-Ahzab/ 33: 17;

قُلْ مَن ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُم مِّنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا ﴿الأحزاب: ١٧﴾  

Artinya: Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. (QS. Al-Ahzab/ 33: 17)

1.  Hikmah Iradah

Di dalam Al-Quran surat Yasin/ 36: 82 dinyatakan Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah;

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ ﴿يس: ٨٢﴾  

Artinya: Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. (36: 82)

Di sini akan dikemukakan beberapa ayat Al-Quran maupun Hadits yang menggambarkan hikmah dari iradah, yakni;

 

1.1.  Siapakah Yang Dapat Menghalang-Halangi Kehendak Allah

Di dalam Al-Quran surat Al-Fath/ 48: 11 dinyatakan bahwa siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu;

سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ الْأَعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِم مَّا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ قُلْ فَمَن يَمْلِكُ لَكُم مِّنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا بَلْ كَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا ﴿الفتح: ١١﴾  

Artinya: Orang-orang Badwi yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: “Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami”; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Fath/ 48: 11)

1.2.  Allah Menghendaki Kemudahan Bagimu, Dan Tidak Menghendaki Kesukaran Bagimu

Di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah/ 2: 185 dinyatakan bahwa “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”;

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴿البقرة: ١٨٥﴾  

Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah/ 2: 185)

1.3.  Allah Hendak Memberikan Keringanan Kepada Manusia

Di dalam Al-Quran surat An-Nisa’/ 4: 28 dinyatakan bahwa “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu”;

يُرِيدُ اللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا ﴿النساء: ٢٨﴾  

Artinya: Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (QS. An-Nisa’/ 4: 28)

1.4.  Barang Siapa Menghendaki Pahala Dunia, Niscaya Kami Berikan, Dan Barang Siapa Menghendaki Pahala Akhirat, Kami Berikan

Di dalam Al-Quran surat Ali Imran/ 3: 145 dinyatakan bahwa Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُّؤَجَّلًا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ ﴿آل‌عمران: ١٤٥﴾  

Artinya: Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Ali Imran/ 3: 145)

Pernyataan tersebut diperkuat dengan Al-Quran surat Hud/ 11: 15 dan Al-Isra’/ 17: 19;

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿هود: ١٥﴾

Artinya: Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. (QS. Hud/ 11: 15)

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا ﴿الإسراء: ١٩﴾  

Artinya: Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (QS. Al-Isra’/ 17: 19)

1.5.  Barangsiapa Yang Allah Menghendaki Akan Memberikan Kepadanya Petunjuk, Niscaya Dia Melapangkan Dadanya Untuk Islam

Di dalam Al-Quran surat Al-An’am/ 6: 125 dinyatakan: “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam”;

فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ ﴿الأنعام: ١٢٥﴾  

Artinya: Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al-An’am/ 6: 125)

1.6.  Barang Siapa Yang Allah Kehendaki Kebaikan Baginya, Niscaya Dia Akan Memberinya Pemahaman Yang Mendalam Dalam Agama

Di dalam kitab hadits Shahih bukhari hadits nomor 71 dinyatakan “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memberinya pemahaman yang mendalam dalam agama”;

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ يُونُسَ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ: قَالَ حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ: سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ خَطِيبًا يَقُولُ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللهُ يُعْطِي، وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الْأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ». [2]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Sa‘id bin ‘Ufair, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, dari Yunus, dari Ibnu Syihab, ia berkata: Humaid bin ‘Abdurrahman berkata: Aku mendengar Mu‘awiyah ketika sedang berkhutbah, ia berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memberinya pemahaman yang mendalam dalam agama. Sesungguhnya aku hanyalah orang yang membagikan, sedangkan Allah-lah yang memberi. Dan umat ini akan senantiasa tegak menjalankan perintah Allah; orang-orang yang menyelisihi mereka tidak akan mampu membahayakan mereka hingga datang ketetapan Allah.”



[1] https://www.almaany.com/id/dict/ar-id/إرادة/

[2] Abu Abdullah Muhammad Ibn Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Sulthaniyah, Mesir, 1311 H, Jilid 1, Halaman 26, Hadits nomor 71.

Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post