2.
Tingkatan Iradah
2.1. Tingkatan Iradah Pada Orang Yang Bertakwa Berdasar Al-Quran
Adapun di dalam Al-Quran surat Ali Imran/ 3: 152 digambarkan
bahwa di antara manusia ada orang yang menghendaki dunia dan diantara manusia
ada orang yang menghendaki akhirat;
وَلَقَدْ
صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ حَتَّىٰ إِذَا
فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّن بَعْدِ مَا أَرَاكُم
مَّا تُحِبُّونَ مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الْآخِرَةَ
ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ وَاللَّهُ ذُو
فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ ﴿آلعمران: ١٥٢﴾
Artinya: Dan sesungguhnya Allah
telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ahaya kamu membunuh mereka dengan
izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan
mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang
kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada
orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka
untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah
mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman. (QS.
Ali Imran/ 3: 152)
Sedangkan di dalam Al-Quran surat Asy-Syura/
42: 20 dinyatkan “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami
tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di
dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia”;
مَن كَانَ
يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ
الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ ﴿الشورى:
٢٠﴾
Artinya: Barang siapa yang
menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan
barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya
sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di
akhirat. (QS. Asy-Syura/ 42: 20)
Dengan adanya perbedaan keinginan manusia
yang hidup di dunia, ada yang menginginkan keuntungan Akherat, tapi juga ada
yang hanya menginginkan keuntungan dunia, maka akan dilakukan Analisa terhadap
kata “rawada” atau kata lain yang semakna, yang ada di dalam Al-Quran,
berdasar kata yang mengiringinya untuk diklasifikasikan ke dalam “Cermin
Qalbu”.
Dari hasil pencarian kata “rawada”
menggunakan aplikasi Quran Research Zekr 1.1.0 ditemukan 148 pengulangan di 120
ayat. Ayat-ayat yang di dalamnya terdapat kata rawada dan turunannya,
akan dikalisifikasikan di dalam “Cermin Qalbu” yang terdiri sebelas tingkatan
takwa dan sepuluh tingkatan fujur, untuk mengetahui apakah dalam tingkat
kesadaran takwa ataupun fujur terdapat keinginan; kehendak; kemauan manusia.
2.1. Tingkatan Iradah Pada Orang Yang
Bertakwa
Di dalam Al-Quran surat Al-Qashash/ 28: 83
dinyatakan bahwa Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak
ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Yaitu bagi
orang-orang yang bertakwa;
تِلْكَ
الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي
الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ ﴿القصص: ٨٣﴾
Artinya: Negeri akhirat itu,
Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat
kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu ahaya bagi orang-orang
yang bertakwa. (QS. Al-Qashash/ 28: 83)
Orang-orang yang tidak
ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi, yaitu
orang-orang yang rendah hati dan berbuat kebaikan, mereka Adalah orang-orang
yang bertakwa.
Berikut ini akan
dikemukakan klasifikasi ayat-ayat Al-Quran berdasar kata rawada atau kata
turunannya yang berdampingan dengan kata yang sesuai dengan klasifikasi
tingkatan takwa;
2.1.1. Tingkat Taubat
Allah mengehendaki
hambanya bertaubat, sehingga Allah menerima taubatnya , pernyataan ini
disebutkan di dalam Al-Quran surat An-Nisa’/ 4: 27;
وَاللَّهُ
يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ
أَن تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا ﴿النساء: ٢٧﴾
Artinya: Dan Allah hendak
menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud
supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). (QS. An-Nisa’/ 4:
27)
Di dalam Al-Quran surat
Ali Imran/ 3: 120 dinyatakan Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya
mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu;
إِن
تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا
وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ
بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ ﴿آلعمران: ١٢٠﴾
Artinya: Jika kamu memperoleh
kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana,
mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya
mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah
mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (3: 120)
Sedangkan di dalam
Al-Quran surat Ali Imran/ 3: 125 dinyatakan jika kamu bersabar dan
bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga,
niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat
بَلَىٰ إِن
تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ
رَبُّكُم بِخَمْسَةِ آلَافٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ ﴿آلعمران:
١٢٥﴾
Artinya: Ya (cukup), jika kamu
bersabar dan beriap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu
juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.
(QS. Ali Imran/ 3: 125)
Adapun di dalam Al-Quran
surat Ali Imran/ 3: 186 dinyatakan Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka
sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan;
لَتُبْلَوُنَّ
فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا
الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِن
تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ ﴿آلعمران:
١٨٦﴾
Artinya: Kamu sungguh-sungguh
akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan
mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang
yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu
bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang
patut diutamakan. (3: 186)
Meskipun di tiga ayat
dari surat Ali Imran yang telah disebut tidak menyebutkan kata rawada
maupun keturunannya, tetapi dalam ayat-ayat tersebut menyebutkan jika kamu
bersabar, kalimat tersebut mengandung pengertian jika kamu mau bersabar.
Bagi kami amalan kami, dan bagi kamu
amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati, pernyataan ini
disebutkan di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah/ 2: 139;
قُلْ
أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا
وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ ﴿البقرة: ١٣٩﴾
Artinya: Katakanlah: “Apakah
kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia ahaya Tuhan kami dan
Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya
kepada-Nya kami mengikhlaskan hati, (2: 139)
Di dalam Al-Quran surat
An-Nisa’/ 4: 146 dinyatakan “Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan
perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ahaya (mengerjakan)
agama mereka karena Allah. Maka mereka itu ahaya ahaya-sama orang yang
beriman”;
إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا
بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ
وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا ﴿النساء: ١٤٦﴾
Artinya: Kecuali orang-orang
yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan
tulus ahaya (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu ahaya ahaya-sama
orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang
beriman pahala yang besar. (4: 146)
Di dalam Al-Quran surat
Az-Zumar/ 39: 2 disebutkan perintah
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya”
إِنَّا
أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ
الدِّينَ ﴿الزمر: ٢﴾
Artinya: Sesunguhnya Kami
menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah
Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (39: 2)
Ayat-ayat tersebut
mengandung perintah untuk menjalankan agama dengan Ikhlas, maka dalam
pelaksanaannya menunjukkan orang-orang yang mau menjalankan agama dengan
ikhlas.
Berikut akan dikemukakan beberapa ayat
Al-Quran yang menggambarkan adanya kemauan atau kehendak di Tingkat Islam;
syariat lahiriyah, yang terdiri dari kemauan Allah atau kemauan manusia.
Puasa bagi orang beriman hukumnya
wajib, tetapi bagi yang sedang sakit maupun dalam perjalanan tedapat
keringanan, Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran
bagimu, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah/2 : 185;
شَهْرُ
رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ
الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن
كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ
اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا
الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُونَ ﴿البقرة: ١٨٥﴾
Artinya: (Beberapa hari yang
ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan
mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena
itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan
itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau
dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak
hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki
kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu
mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya
yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah/ 2: 185)
Dalam hal perceraian
terdapat masa idah, suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu,
jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan para ahaya mempunyai hak yang
seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami,
mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya, dijelaskan di dalam
Al-Quran surat Al-Baqarah/ 2: 228;
وَالْمُطَلَّقَاتُ
يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَن
يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِن كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَٰلِكَ إِنْ
أَرَادُوا إِصْلَاحًا وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ﴿البقرة: ٢٢٨﴾
Artinya: Wanita-wanita yang
ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka
menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman
kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa
menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan para ahaya
mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan
tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Baqarah/ 2: 228)
Dalam menyusui anak
Allah memerintahkan kepada ibunya untuk menyusui dalam dua tahun penuh, tetapi
Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya
dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya, disebutkan di dalam Al-Quran
surat Al-Baqarah/ 2: 233;
وَالْوَالِدَاتُ
يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ
الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ
بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ
بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَّهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ
فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَن تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ
عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدتُّمْ أَن تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ
عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُم مَّا آتَيْتُم بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُوا اللَّهَ
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ ﴿البقرة: ٢٣٣﴾
Artinya: Para ibu hendaklah
menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin
menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada
para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar
kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan
seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila
keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan
permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu
disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan
pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah
bahwa Allah Maha ahayana yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah/ 2: 233)
Karena manujsia
dijadikan bersifat lemah maka Allah hendak memberikan keringanan kepadamu,
tergambar di dalam Al-Quran surat An-Nisa’/ 4: 28;
يُرِيدُ
اللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا ﴿النساء: ٢٨﴾
Artinya: Allah hendak memberikan
keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (QS. An-Nisa’/
4: 28)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Maidah/ 5: 1 ditegaskan bahwa Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum
menurut yang dikehendaki-Nya
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ أُحِلَّتْ لَكُم بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ
إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنتُمْ حُرُمٌ إِنَّ
اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ ﴿المائدة: ١﴾
Artinya: Hai orang-orang yang
beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu ahaya ternak, kecuali yang
akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ahaya
kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut
yang dikehendaki-Nya. (QS. Al-Maidah/ 5: 1)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Maidah/ 5: 6 dinyatakan bahwa Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi
Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu;
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ
وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ
إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ
أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ
النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا
بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم
مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴿المائدة: ٦﴾
Artinya: Hai orang-orang yang
beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan
tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai
dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit
atau dalam perjalanan atau ahaya dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh ahayan,
lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik
(bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak
menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan
nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Maidah/ 5: 6)
Keluarga Yusuf akan
menjadikan Ayahnya mau (membujuk), tergambar di dalam Al-Quran surat Yusuf/ 12:
61;
قَالُوا
سَنُرَاوِدُ عَنْهُ أَبَاهُ وَإِنَّا لَفَاعِلُونَ ﴿يوسف: ٦١﴾
Artinya: Mereka berkata: “Kami
akan membujuk ayahnya untuk membawanya (ke mari) dan sesungguhnya kami
benar-benar akan melaksanakannya”. (QS. Yusuf/ 12: 61)
Nabi Syuaib berkata
kepada Ibrahim Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang
dari kedua anakku ini, tergambar di dalam Al-Quran surat Al-Gashash/ 28: 27;
قَالَ إِنِّي
أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَن تَأْجُرَنِي
ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ
أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿القصص: ٢٧﴾
Artinya: Berkatalah dia
(Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang
dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan
jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu ahaya (suatu kebaikan) dari kamu,
maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku
termasuk orang-orang yang baik”. (QS. Al-Qashash/ 28: 27)
Berikut akan dikemukakan beberapa ayat
Al-Quran yang menggambarkan adanya kemauan atau kehendak di Tingkat Iman;
syariat qalbu; keyakinan, yang teridiri dari kemauan Allah atau kemauan
manusia.
Di dalam Al-Quran surat
Al-Baqarah/ 2: 253 dinyatakan bahwa ada di antara manusia yang beriman dan ada
(pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah
mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya;
تِلْكَ
الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ اللَّهُ
وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ
وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ
مِن بَعْدِهِم مِّن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَٰكِنِ اخْتَلَفُوا
فَمِنْهُم مَّنْ آمَنَ وَمِنْهُم مَّن كَفَرَ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا
اقْتَتَلُوا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ ﴿البقرة: ٢٥٣﴾
Artinya: Rasul-rasul itu Kami
lebihkan ahaya (dari) mereka atas ahaya yang lain. Di antara mereka ada yang
Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya
beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa ahaya Maryam beberapa mukjizat
serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan ahay Allah menghendaki, niscaya
tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu,
sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka
berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara
mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka
berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (2:
253)
Sedangkan di dalam
Al-Quran surat Ali Imran/ 3: 152 digambarkan bahwa di antara manusia ada orang
yang menghendaki dunia dan diantara manusia ada orang yang menghendaki akhirat;
وَلَقَدْ
صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ حَتَّىٰ إِذَا
فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّن بَعْدِ مَا أَرَاكُم
مَّا تُحِبُّونَ مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الْآخِرَةَ
ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ وَاللَّهُ ذُو
فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ ﴿آلعمران: ١٥٢﴾
Artinya: Dan sesungguhnya Allah
telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ahaya kamu membunuh mereka dengan
izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan
mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang
kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada
orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka
untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah
mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman. (QS.
Ali Imran/ 3: 152)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Maidah/ 5: 17 ditegaskan bahwa siapakah (gerangan) yang dapat
menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih ahaya
Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi
kesemuanya?;
لَّقَدْ
كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ
فَمَن يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَن يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ
مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَن فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿المائدة: ١٧﴾
Artinya: Sesungguhnya telah
kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih ahaya
Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi
kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih ahaya Maryam itu beserta
ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?”. Kepunyaan
Allahlah ahaya langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia
menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(QS. Al-Maidah/ 5: 17)
Sedangkan di dalam
Al-Quran surat Hud/ 11: 107 ditegaskan bahwa Sesungguhnya Tuhanmu Maha
Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki;
خَالِدِينَ
فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ إِنَّ
رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ ﴿هود: ١٠٧﴾
Artinya: mereka kekal di
dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang
lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.
(QS. Hud/ 11: 107)
Di dalam Al-Quran surat
Ar-Ra’d/ 13: 11 ditegaskan bahwa apabila Allah menghendaki keburukan terhadap
sesuatu kaum, maka ahaya yang dapat menolaknya;
لَهُ
مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ
اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا
بِأَنفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا
لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ ﴿الرعد: ١١﴾
Artinya: Bagi manusia ada
malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di
belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak
merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri
mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum,
maka ahaya yang dapat menolaknya; dan sekali-kali ahaya pelindung bagi mereka
selain Dia. (QS. Ar-Ra’du/ 13: 11)
Sedangkan di dalam
Al-Quran surat An-Nahl/ 16: 40 dan Yasin/ 36: 82 dinyatakan bahwa apabila Kami
menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, maka jadilah
ia;
إِنَّمَا
قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَن نَّقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ ﴿النحل:
٤٠﴾
Artinya: Sesungguhnya perkataan
Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan
kepadanya: “kun (jadilah)”, maka jadilah ia. (QS. An-Nahl/ 16: 40)
إِنَّمَا
أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ ﴿يس: ٨٢﴾
Artinya: Sesungguhnya keadaan-Nya
apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka
terjadilah ia. (QS. Yasin/ 36: 82)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Anbiya’/ 21: 17 dinyatakan Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan,
(isteri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami;
لَوْ
أَرَدْنَا أَن نَّتَّخِذَ لَهْوًا لَّاتَّخَذْنَاهُ مِن لَّدُنَّا إِن كُنَّا
فَاعِلِينَ ﴿الأنبياء: ١٧﴾
Artinya: Sekiranya Kami
hendak membuat sesuatu permainan, (isteri dan anak), tentulah Kami membuatnya
dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah
melakukannya). (QS. Al-Anbiya’/ 21: 17)
Di dalam Al-Quran surat
al-Hajj/ 22: 14 dan Al-Buruj/ 85: 16 ditegaskan bahwa Sesungguhnya Allah
berbuat apa yang Dia kehendaki;
إِنَّ
اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي
مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ ﴿الحج: ١٤﴾
Artinya: Sesungguhnya Allah
memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam
surga-surga yang di bawahnya mengalir ahaya-sungai. Sesungguhnya Allah berbuat
apa yang Dia kehendaki. (QS. Al-Hajj/ 22: 14)
فَعَّالٌ
لِّمَا يُرِيدُ ﴿البروج: ١٦﴾
Artinya: Maha Kuasa berbuat apa
yang dikehendaki-Nya. (QS. Al-Buruj/ 85: 16)
Di dalam Al-Quran surat
Asy-Syura/ 42: 20 dinyatakan bahwa Barang siapa yang menghendaki keuntungan di
akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang
menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya ahaya dari keuntungan
dunia;
مَن كَانَ
يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ
الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ ﴿الشورى:
٢٠﴾
Artinya: Barang siapa
yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya
dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya ahaya
dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.
(QS. Asy-Syura/ 42: 20)
Aku tidak menghendaki
rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka
memberi-Ku makan, tetapi Allah Dialah Maha Pemberi rezeki, pernyataan tersebut
dimuat di dalam Al-Quran surat Adz-Dzariyat/ 51: 57-58;
مَا أُرِيدُ
مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ, إِنَّ اللَّهَ هُوَ
الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ ﴿الذاريات: 57-٥8﴾
Artinya: Aku tidak menghendaki
rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka
memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai
Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (QS. Adz-Dzariyat/ 51: 57-58)
Berikut akan dikemukakan beberapa ayat
Al-Quran yang menggambarkan adanya kemauan atau kehendak di Tingkat Ihsan;
syariat ruhani; kesadaran, yang teridiri
dari kemauan Allah atau kemauan manusia.
Di dalam Al-Quran surat
An-Nisa’/ 4: 35 ditegaskan Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan
perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu;
وَإِنْ
خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِّنْ
أَهْلِهَا إِن يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ
كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا ﴿النساء: ٣٥﴾
Artinya: Dan jika kamu
khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari
keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga ahayan. Jika kedua orang
hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada
suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
(QS. An-Nisa/ 4: 35)
Di dalam Al-Quran surat
An-Nisa’/ 4: 62 dinyatakan Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki
selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna;
فَكَيْفَ
إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ
يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا ﴿النساء:
٦٢﴾
Artinya: Maka bagaimanakah
halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan
perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil
bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian
yang baik dan perdamaian yang sempurna”. (QS. An-Nisa’/ 4: 62)
Sedangkan di dalam
Al-Quran surat Al-Maidah/ 5: 113 disebutkan pernyataan Kami ingin memakan
hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu
telah berkata benar kepada kami;
قَالُوا
نُرِيدُ أَن نَّأْكُلَ مِنْهَا وَتَطْمَئِنَّ قُلُوبُنَا وَنَعْلَمَ أَن قَدْ
صَدَقْتَنَا وَنَكُونَ عَلَيْهَا مِنَ الشَّاهِدِينَ ﴿المائدة: ١١٣﴾
Artinya: Mereka berkata:
“Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami
yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang
yang menyaksikan hidangan itu”. (QS. Al-Maidah/ 5: 113)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Anfal/ 8: 7 dinyatakan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan
ayat-ayat-Nya;
وَإِذْ
يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ
غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ أَن يُحِقَّ الْحَقَّ
بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ ﴿الأنفال: ٧﴾
Artinya: Dan (ingatlah), ahaya
Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu
hadapi) ahaya untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai
kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan
yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, (QS.
Al-Anfal/ 8: 7)
Adapun di dalam Al-Quran
surat Hud/ 11: 88 dinyatakan Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan)
perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku
melainkan dengan (pertolongan) Allah;
قَالَ يَا
قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ
رِزْقًا حَسَنًا وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ
إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا
بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ ﴿هود: ٨٨﴾
Artinya: Syu’aib berkata:
“Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari
Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku
menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan
mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan)
perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku
melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan
hanya kepada-Nya-lah aku ahaya. (QS. Hud/ 11: 88)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Kahfi/ 8: 77 digambarkan bahwa kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri
itu dinding rumah yang ahaya roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa
berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”
فَانطَلَقَا
حَتَّىٰ إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَن
يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ فَأَقَامَهُ
قَالَ لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا ﴿الكهف: ٧٧﴾
Artinya: Maka keduanya berjalan;
hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta
dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu
mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang ahaya
roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau,
niscaya kamu mengambil upah untuk itu”. (1QS. Al-Kahfi/ 8: 77)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Kahfi/ 8: 79 digambarkan bahwa aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena
di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera;
أَمَّا
السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ
أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا ﴿الكهف:
٧٩﴾
Artinya: Adapun bahtera
itu ahaya kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan
merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas
tiap-tiap bahtera. (QS. Al-Kahfi/ 18: 79)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Kahfi/ 8: 81 digambarkan bahwa kami menghendaki, supaya Tuhan mereka
mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya
itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya);
فَأَرَدْنَا
أَن يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا ﴿الكهف:
٨١﴾
Artinya: Dan kami menghendaki,
supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik
kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu
bapaknya). (QS. Al-Kahfi/ 18: 81)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Kahfi/ 8: 82 digambarkan bahwa Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai
kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai ahaya dari
Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri;
وَأَمَّا
الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ
كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَا
أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ
عَنْ أَمْرِي ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا ﴿الكهف:
٨٢﴾
Artinya: Adapun dinding
rumah ahaya kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada
harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya ahaya seorang yang
saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya
dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai ahaya dari Tuhanmu; dan bukanlah aku
melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu ahaya tujuan
perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”. (Al-Kahfi/
18: 82)
Di dalam Al-Quran surat
An-Nur/ 24: 33 ditegaskan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk
melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu
hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka
sesungguhnya Allah ahaya Maha Pengampun lagi Maha Penyayang;
وَلْيَسْتَعْفِفِ
الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ
إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا وَآتُوهُم مِّن مَّالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ
وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا
لِّتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَن يُكْرِههُّنَّ فَإِنَّ اللَّهَ
مِن بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿النور: ٣٣﴾
Artinya: Dan orang-orang yang
tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah
memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang
memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika
kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka
sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu
paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri
mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan
barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah ahaya Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu. (QS.
An-Nur/ 24: 33)
Berikut akan dikemukakan beberapa ayat
Al-Quran yang menggambarkan adanya kemauan atau kehendak di Tingkat mahabbah;
cinta; suka, yang teridiri dari kemauan
Allah atau kemauan manusia, karena mahabbah merupakan tingkatan pertama di atas
ihsan maka pengungkapkan rasa cinta tidak didahului dengan kata menginginkan,
berkemauan atau menghendaki, tetapi dapat langsung diungkapkan dengan kata yuhibbu,
atau menggunakan kata atau kalimat yang tersamar namun perbuatan tersebut
merupakan bentuk mahabbah;
Di dalam Al-Quran surat
Ali-‘Imran/ 3: 31 dinyatakan Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah
aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu;
قُلْ إِنْ
كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴿آلعمران: 31﴾
Artinya: Katakanlah: “Jika kamu
(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali-‘Imran/ 3: 31)
Di dalam Al-Quran surat
Ali-‘Imran/ 3: 92 Ditegaskan bahwa Kamu sekali-kali tidak
sampai kepada ahayan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta
yang kamu cintai;
لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا
مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ ﴿آلعمران:
٩٢﴾
Artinya: Kamu sekali-kali tidak
sampai kepada ahayan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta
yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah
mengetahuinya. (QS. Ali-Imran/ 3: 92)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Maidah/ 5: 54 diserukan dan
dinyatakan Hai
orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya,
maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan
merekapun mencintai-Nya;
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ
بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ
عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ
لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
﴿المائدة: 54﴾
Artinya: Hai orang-orang yang
beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah
akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun
mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang
bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan
yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah,
diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas
(pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maidah/ 5: 54)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Hujurat/ 49: 7 dinyatakan bahwa Allah menjadikan kamu “cinta” kepada
keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan
kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan;
وَاعْلَمُوا
أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ
لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي
قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ
أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ
Artinya: Dan ketahuilah olehmu
bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa
urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu
“cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta
menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka
itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, (QS. Al-Hujurat/ 49: 7)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Ahzab/ 33: 33 dinyatakan bahwa Sesungguhnya Allah bermaksud hendak
menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya, hal ini merupakan bentuk kecintaan Allah kepada para istri
nabi Muhammad SAW;
وَقَرْنَ فِي
بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ وَأَقِمْنَ
الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ
اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ
تَطْهِيرًا ﴿الأحزاب: ٣٣﴾
Artinya: dan hendaklah kamu
tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti
orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan
taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan
dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
(QS. Al-Ahzab/ 33: 33)
Berikut akan dikemukakan beberapa ayat
Al-Quran yang menggambarkan adanya kemauan atau kehendak di Tingkat rahmah; kasih-sayang, karena ahaya merupakan tingkatan kedua di atas ihsan maka
pengungkapkan kasih-sayang, ada yang didahului dengan kata menginginkan,
berkemauan atau menghendaki, ada yang tidak didahului tetapi langsung
diungkapkan dengan kata arada, atau menggunakan kata atau kalimat yang tersamar namun perbuatan tersebut
merupakan bentuk arada;
Di dalam Al-Quran surat
Ali Imran/ 3: 108 dinyatakan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya
hamba-hamba-Nya, hal tersebut merupakan bentuk kasih-sayang Allah;
تِلْكَ
آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا
لِّلْعَالَمِينَ ﴿آلعمران: ١٠٨﴾
Artinya: Itulah ayat-ayat Allah.
Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah
berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya. (QS. Ali-Imran/ 3: 108)
Sedangkan di dalam
Al-Quran surat Ali Imran/ 5: 145 dinyatakan Barang siapa menghendaki pahala
dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa
menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat;
وَمَا كَانَ
لِنَفْسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُّؤَجَّلًا وَمَن يُرِدْ
ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ
مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ ﴿آلعمران: ١٤٥﴾
Artinya: Sesuatu yang bernyawa
tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah
ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami
berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala
akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan
memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Ali Imran/ 3: 145)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Furqan/ 25: 62 digambarkan bahwa Allah yang menjadikan malam dan siang silih
berganti bagi orang yang ingin mengambil ahayan atau orang yang ingin
bersyukur, bersyukur merupakan bentuk penghormatan kepada Allah atas pemberian
nikmatnya;
وَهُوَ
الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ
أَوْ أَرَادَ شُكُورًا ﴿الفرقان: ٦٢﴾
Artinya: Dan Dia (pula) yang
menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil ahayan
atau orang yang ingin bersyukur. (QS. Al-Furqan/ 25: 62)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Qashash/ 26: 5 digambarkan bahwa Dan Kami hendak memberi karunia kepada
orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka
pemimpin, karunia tersebut merupakan bentuk Rahmah;
وَنُرِيدُ
أَن نَّمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ
أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ ﴿القصص: ٥﴾
Artinya: Dan Kami hendak memberi
karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak
menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi
(bumi), (QS. Al-Qashash/ 28: 5)
Rahmat khusus untuk Nabi
Muhammad SAW untuk menikahi ahaya yang disebutkan di dalam Al-Quran surat
Al-Ahzab/ 33: 50 sebagai pengkhususan bagi Beliau, bukan untuk semua orang
mukmin;
يَا أَيُّهَا
النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ
وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ
وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ
مَعَكَ وَامْرَأَةً مُّؤْمِنَةً إِن وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ
النَّبِيُّ أَن يَسْتَنكِحَهَا خَالِصَةً لَّكَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ قَدْ
عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ
أَيْمَانُهُمْ لِكَيْلَا يَكُونَ عَلَيْكَ حَرَجٌ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا
رَّحِيمًا ﴿الأحزاب: ٥٠﴾
Artinya: Hai Nabi, sesungguhnya
Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas
kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh
dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak
ahayan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak ahayan dari saudara ahayan
bapakmu, anak-anak ahayan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak ahayan
dari saudara ahayan ibumu yang turut hijrah ahaya kamu dan ahayan mukmin yang
menyerahkan dirinya kepada Nabi ahay Nabi mau mengawininya, sebagai
pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah
mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka
dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan
ahaya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab/ 33: 50)
Sedangkan di dalam
Al-Quran surat Al-Ahzab/ 33: 56 ditegaskan Sesungguhnya Allah dan
malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman,
bershalawatlah kamu untuk Nabi, shalawat merupakan bentuk Rahmah Allah,
malaikat dan orang beriman;
إِنَّ
اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya: Sesungguhnya Allah dan
malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman,
bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS.
Al-Ahzab/ 33: 56)
Adapun di dalam Al-Quran
surat Az-Zumar/ 39: 38 ditanyakan jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan
kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu,
atau jika Allah hendak memberi ahaya kepadaku, apakah mereka dapat menahan ahaya-Nya;
وَلَئِن
سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ
أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ
هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ
رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ ﴿الزمر:
٣٨﴾
Artinya: Dan sungguh jika kamu
bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya
mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa
yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan
kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu,
atau jika Allah hendak memberi ahaya kepadaku, apakah mereka dapat menahan ahaya-Nya?.
Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang
yang berserah diri. (QS. Az-Zumar/ 39: 38)
Berikut akan dikemukakan beberapa ayat
Al-Quran yang menggambarkan adanya kemauan atau kehendak di Tingkat ridha; rela, karena ahay merupakan tingkatan ketiga di
atas ihsan maka pengungkapkan ahay, ada yang didahului dengan kata menginginkan, berkemauan atau
menghendaki, ada yang tidak didahului tetapi langsung diungkapkan dengan kata
radhiya, atau menggunakan kata atau kalimat yang tersamar namun perbuatan
tersebut merupakan bentuk ahay;
وَلَا
تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ
وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِم مِّن شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ
عَلَيْهِم مِّن شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ ﴿الأنعام: ٥٢﴾
Artinya: Dan janganlah kamu
mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang
mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun
terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun
terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga
kamu termasuk orang-orang yang zalim). (QS. Al-An’am/ 6: 52)
Di dalam Al-Quran surat
Yunus/ 10: 107 dinyatakan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka ahaya
yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang
dikehendaki-Nya (diridhai) di antara hamba-hamba-Nya;
وَإِن
يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِن يُرِدْكَ
بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ
الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿يونس: ١٠٧﴾
Artinya: Jika Allah menimpakan
sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya
kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka ahaya yang
dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang
dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. (QS. Yunus/ 10: 107)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Kahfi/ 18: 28 disebutkan perintah bersabarlah kamu ahaya-sama dengan
orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap
keridhaan-Nya;
وَاصْبِرْ
نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ
وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ
أَمْرُهُ فُرُطًا ﴿الكهف: ٢٨﴾
Artinya: Dan bersabarlah kamu ahaya-sama
dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan
mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka
(karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang
yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa
nafsunya dan ahaya keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi/ 18: 28)
Adapun di dalam Al-Quran
surat Ar-Rum/ 30: 38 dinyatakan Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang
mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung;
فَآتِ ذَا
الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ ذَٰلِكَ خَيْرٌ
لِّلَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿الروم:
٣٨﴾
Artinya: Maka berikanlah kepada
kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan
orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang
mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung. (QS.
Ar-Rum/ 30: 38)
Di dalam Al-Quran surat
Ar-Rum/ 30: 39 dinyatakan Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu
maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah
orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya);
وَمَا
آتَيْتُم مِّن رِّبًا لِّيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِندَ
اللَّهِ وَمَا آتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ
الْمُضْعِفُونَ ﴿الروم: ٣٩﴾
Artinya: Dan sesuatu riba
(tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka ahaya
tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang
kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian)
itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). (QS. Ar-Rum/ 30: 39)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Ahzab/ 33: 29 dinyatakan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah
dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah
menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar;
وَإِن
كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ
أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا ﴿الأحزاب: ٢٩﴾
Artinya: Dan jika kamu sekalian
menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri
akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik
diantaramu pahala yang besar. (QS. Al-Ahzab/ 33: 29)
Sedangkan di dalam
Al-Quran surat Al-Insan/ 76: 9 disebutkan pernyataan Sesungguhnya kami memberi
makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak
menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih;
إِنَّمَا
نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
﴿الانسان: ٩﴾
Artinya: Sesungguhnya kami
memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami
tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.
(QS. Al-Insan/ 76: 9)
Berikut akan dikemukakan beberapa ayat
Al-Quran yang menggambarkan adanya kemauan atau kehendak di tingkat hidayah; petunjuk, karena hidayah
merupakan tingkatan keempat di atas ihsan maka pengungkapkan hidayah, ada yang
didahului dengan kata menginginkan, berkemauan atau menghendaki, ada yang tidak
didahului tetapi langsung diungkapkan dengan kata hada-yahdi; ihtada-yahtadi,
atau menggunakan kata atau kalimat lainnya namun perbuatan tersebut merupakan
bentuk hidayah;
Di dalam Al-Quran surat
Al-Baqarah/ 2: 26 ditanyakan dan dinyatakan Apakah maksud Allah menjadikan ini
untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah,
dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk;
إِنَّ
اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَن يَضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا
فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ
وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا
مَثَلًا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا
الْفَاسِقِينَ ﴿البقرة: ٢٦﴾
Artinya: Sesungguhnya Allah
tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.
Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar
dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan
ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan
Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk.
Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (QS.
Al-Baqarah/ 2: 26)
Sedangkan di dalam
Al-Quran surat An-Nisa’/ 4: 26 dinyatakan bahwa Allah hendak menerangkan (hukum
syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum
kamu (para nabi dan shalihin);
يُرِيدُ
اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ
وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿النساء: ٢٦﴾
Artinya: Allah hendak
menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan
orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima
taubatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa’/ 4:
26)
Adapan di dalam Al-Quran
surat Al-An’am/ 6: 125 dinyatakan Barangsiapa yang Allah menghendaki akan
memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk
agama) Islam;
فَمَن يُرِدِ
اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَن يُرِدْ أَن
يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي
السَّمَاءِ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
﴿الأنعام: ١٢٥﴾
Artinya: Barangsiapa yang Allah
menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya
untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah
kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah
ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang
yang tidak beriman. (QS. Al-An’am/ 6: 125)
Di dalam Al-Quran surat
Al-Hajj/ 22: 16 ditegaskan bahwasanya Allah memberikan petunjuk kepada siapa
yang Dia kehendaki;
وَكَذَٰلِكَ
أَنزَلْنَاهُ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ وَأَنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يُرِيدُ ﴿الحج:
١٦﴾
Artinya: Dan demikianlah Kami
telah menurunkan Al Quran yang merupakan ayat-ayat yang nyata, dan bahwasanya
Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. (QS. Al-Hajj/
22: 16)
Barangsiapa yang
mendapat; menerima petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat; menerima
petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, pernyataan ini disebutkan di dalam Al-Quran
surat Yunus/ 10: 108, Al-Isra’/ 17: 15 dan An-Naml/ 27: 92;
قُلْ يَا
أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَنِ اهْتَدَىٰ
فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا
أَنَا عَلَيْكُم بِوَكِيلٍ ﴿يونس: ١٠٨﴾
Artinya: Katakanlah: “Hai
manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari Tuhanmu,
sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu)
untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya
kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga
terhadap dirimu”. (QS. Yunus/ 10: 108)
مَّنِ
اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ
عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ
حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا ﴿الإسراء: ١٥﴾
Artinya: Barangsiapa yang
berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk
(keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia
tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat
memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus
seorang rasul. (QS. Al-Isra’/ 17: 15)
وَأَنْ
أَتْلُوَ الْقُرْآنَ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَن
ضَلَّ فَقُلْ إِنَّمَا أَنَا مِنَ الْمُنذِرِينَ ﴿النمل: ٩٢﴾
Artinya: Dan supaya aku
membacakan Al Quran (kepada manusia). Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk
maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan
barangsiapa yang sesat maka katakanlah: “Sesungguhnya aku (ini) tidak lain
hanyalah salah seorang pemberi peringatan”. (QS. An-Naml/ 27: 92)
Berikut akan dikemukakan beberapa ayat
Al-Quran yang menggambarkan adanya kemauan atau kehendak di Tingkat jannah; Surga, karena jannah merupakan tingkatan ihsan yang
tertinggi maka pengungkapkan janah, ada yang didahului dengan kata
menginginkan, berkemauan atau menghendaki, ada yang tidak didahului tetapi
langsung diungkapkan dengan kata jannah, atau menggunakan kata atau kalimat lainnya namun perbuatan tersebut
merupakan bentuk kemauan di Tingkat jannah;
Sedangkan di dalam
Al-Quran surat Ali Imran/ 3: 152 dan Al-Isra’/ 17: 19 digambarkan bahwa di
antara manusia ada orang yang menghendaki dunia dan di antara manusia ada orang
yang menghendaki akhirat (Jannah) ;
وَلَقَدْ
صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ حَتَّىٰ إِذَا
فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّن بَعْدِ مَا أَرَاكُم
مَّا تُحِبُّونَ مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الْآخِرَةَ
ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ وَاللَّهُ ذُو
فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ ﴿آلعمران: ١٥٢﴾
Artinya: Dan sesungguhnya Allah
telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ahaya kamu membunuh mereka dengan
izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan
mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang
kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada
orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka
untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah
mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman. (QS.
Ali Imran/ 3: 152)
وَمَنْ
أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ
سَعْيُهُم مَّشْكُورًا ﴿الإسراء: ١٩﴾
Artinya: Dan barangsiapa yang
menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ahaya itu dengan sungguh-sungguh
sedang ia ahaya mukmin, maka mereka itu ahaya orang-orang yang usahanya
dibalasi dengan baik. (Jannah) (QS. Al-Isra’/ 17: 19)
Sedangkan di dalam
Al-Quran surat Ali Imran/ 5: 145 dinyatakan Barang siapa menghendaki pahala
dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa
menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat
(Jannah);
وَمَا كَانَ
لِنَفْسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُّؤَجَّلًا وَمَن يُرِدْ
ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ
مِنْهَا وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ ﴿آلعمران: ١٤٥﴾
Artinya: Sesuatu yang bernyawa
tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah
ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami
berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala
akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan
memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Ali Imran/ 3: 145)
Di dalam Al-Quran surat
Asy-Syura/ 42: 20 dinyatakan bahwa Barang siapa yang menghendaki keuntungan di
akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya (Jannah) dan barang siapa yang
menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya ahaya dari keuntungan
dunia;
مَن كَانَ
يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ
الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ ﴿الشورى:
٢٠﴾
Artinya: Barang siapa
yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya
dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya ahaya
dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.
(QS. Asy-Syura/ 42: 20)
Apakah kamu mengira
bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang cobaan yang berat dan belum
berjihad di jalan Allah, pertanyaan tersebut dimuat di dalam Al-Quran surat
Al-Baqarah/ 2: 214 dan Ali Imran/ 3: 142;
أَمْ
حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ
خَلَوْا مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا
حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ
أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ ﴿البقرة: ٢١٤﴾
Artinya: Apakah kamu mengira
bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana
halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan
kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah
Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan
Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.(QS.
Al-Baqarah/ 2: 214)
أَمْ
حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ
جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ ﴿آلعمران: ١٤٢﴾
Artinya: Apakah kamu mengira
bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang
berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imran/
3: 142)
Di dalam Al-Quran surat
Az-Zumar/ 39: 73 ditegaskan bahwa orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa
ke dalam surga berombong-rombongan;
وَسِيقَ
الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا
وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ
فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ ﴿الزمر: ٧٣﴾
Artinya: Dan orang-orang yang
bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula).
Sehingga apabila mereka sampai ke ahayan sedang pintu-pintunya telah terbuka
dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan)
atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah ahayan, sedang kamu kekal di
dalamnya. (QS. Az-Zumar/ 39: 73)
Sedangkan di dalam
Al-Quran surat Maryam/ 19: 63 ditegaskan bahwa Jannah Kami wariskan kepada
hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa;
تِلْكَ
الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَن كَانَ تَقِيًّا ﴿مريم: ٦٣﴾
Artinya: Itulah surga yang akan
Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa. (QS. Maryam/
19: 63)
Adapun di dalam Al-Quran
surat At-Taubah/ 9: 111 dinyatakan bahwa Sesungguhnya Allah telah membeli dari
orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.
Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh;
إِنَّ
اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ
الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا
عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَىٰ
بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ
وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿التوبة: ١١١﴾
Artinya: Sesungguhnya Allah
telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan
surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh
atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat,
Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada
Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan
itulah kemenangan yang besar. (9: 111)
Allah memerintahkan
kepada Nabi Adam Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu ahayan, dan makanlah
makanan-makanannya yang banyak lagi baik ahaya saja yang kamu sukai, dimuat di
dalam Al-Quran surat Al-Baqarah/ 2: 35 dan Al-A’raf/ 7: 19;
وَقُلْنَا
يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ
شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
﴿البقرة: ٣٥﴾
Artinya: Dan Kami berfirman:
“Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu ahayan, dan makanlah
makanan-makanannya yang banyak lagi baik ahaya saja yang kamu sukai, dan
janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang
yang zalim. (QS. Al-Baqarah/ 2: 35)
وَيَا آدَمُ
اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا
تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ ﴿الأعراف: ١٩﴾
Artinya: (Dan Allah berfirman):
“Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu
berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua
mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang
zalim (QS. Al-A’raf/ 7: 19)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar