29/03/2026

21. Orang Bertakwa Diselamatkan Dan Tidak Akan Dimasukkan Ke Neraka

21. Orang Bertakwa Diselamatkan Dan Tidak Akan Dimasukkan Ke Neraka

Keistimewaan Takwa ke dua puluh satu “Orang bertakwa diselamatkan dan tidak akan dimasukkan ke neraka”, di dalam Al Quran surat Maryam/ 19: 72 dinyatakan bahwa Allah menyelamatkan orang bertakwa dari Neraka;

ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

Artinya: Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.(QS. Maryam/ 19: 72).

Sedangkan di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 23109 digambarkan bahwa orang-orang yang beramal di dunia akan dimasukkan neraka kecuali orang bertakwa;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي يَعْقُوبَ قَالَ سَمِعْتُ شَقِيقَ بْنَ حَيَّانَ يُحَدِّثُ عَنْ مَسْعُودِ بْنِ قَبِيصَةَ أَوْ قَبِيصَةَ بْنِ مَسْعُودٍ يَقُولُ صَلَّى هَذَا الْحَيُّ مِنْ مُحَارِبٍ الصُّبْحَ فَلَمَّا صَلَّوْا قَالَ شَابٌّ مِنْهُمْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّهُ سَيُفْتَحُ لَكُمْ مَشَارِقُ الْأَرْضِ وَمَغَارِبُهَا وَإِنَّ عُمَّالَهَا فِي النَّارِ إِلَّا مَنْ اتَّقَى اللَّهَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ [1]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abi Ya’qub berkata; aku telah mendengar Syaqiq ibnu Hayan membicarakan tentang Mas’ud ibnu Qabishah atau Qabishah ibnu Mas’ud berkata telah shalat dalam kehidupan ini di antara pejuang subuh maka setelah mereka shalat berkata seorang pemuda di antara mereka: aku telah mendengan dari Rasulullah SAW bersabda: Bahwa beliau akan membuka untuk kalian timur dan barat bumi dan sesungguhnya orang-orang yang beramalnya di dalam neraka, kecuali orang yang bertakwa kepada Allah dan menunaikan Amanah”

Di dalam kitab Musnad Ahmad Hadits nomor 27154 disebutkan bahwa amal yang dapat menyelamatkan dari neraka adalah bertakwa;

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ عَمْرِو بْنِ حَسَّانَ يَعْنِي الْمَسْلِيَّ قَالَ حَدَّثَنِي الْمُغِيرَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْيَشْكُرِيُّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ دَخَلْتُ مَسْجِدَ الْكُوفَةِ أَوَّلَ مَا بُنِيَ مَسْجِدُهَا وَهُوَ فِي أَصْحَابِ التَّمْرِ يَوْمَئِذٍ وَجُدُرُهُ مِنْ سِهْلَةٍ فَإِذَا رَجُلٌ يُحَدِّثُ النَّاسَ قَالَ بَلَغَنِي حَجَّةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَجَّةُ الْوَدَاعِ قَالَ فَاسْتَتْبَعْتُ رَاحِلَةً مِنْ إِبِلِي ثُمَّ خَرَجْتُ حَتَّى جَلَسْتُ لَهُ فِي طَرِيقِ عَرَفَةَ أَوْ وَقَفْتُ لَهُ فِي طَرِيقِ عَرَفَةَ قَالَ فَإِذَا رَكْبٌ عَرَفْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِمْ بِالصِّفَةِ فَقَالَ رَجُلٌ أَمَامَهُ خَلِّ عَنْ طَرِيقِ الرِّكَابِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيْحَهُ دَعْهُ فَأَرِبَ مَا لَهُ فَدَنَوْتُ مِنْهُ حَتَّى اخْتَلَفَتْ رَأْسُ النَّاقَتَيْنِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُنَجِّينِي مِنْ النَّارِ قَالَ بَخٍ بَخٍ لَئِنْ كُنْتَ قَصَّرْتَ فِي الْخُطْبَةِ لَقَدْ أَبْلَغْتَ فِي الْمَسْأَلَةِ اتَّقِ اللَّهَ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ وَتَحُجُّ الْبَيْتَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ خَلِّ عَنْ طَرِيقِ الرِّكَابِ قَالَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ يُونُسَ يَعْنِي ابْنَ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ سَمِعْتُ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ نَحْوَهُ [2]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Waki' dari 'Amru bin Hasan -yakni Al Masli- dia berkata: telah menceritakan kepadaku Al Mughirah bin 'Abdullah Al Yasykuri dari ayahnya dia berkata: "Aku masuk masjid Kufah waktu pertama kali dibangun masjidnya, sedagkan waktu itu ia digunakan oleh para penjual kurma, dan dindingnya terbuat dari pasir yang mudah hancur. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang meriwayatkan hadits kepada orang-orang, laki-laki itu berkata: "Telah sampai berita kepadaku hajinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu haji wada'." Kemudian aku menyusulnya dengan berkendaraan untaku, kemudian aku keluar sampai akhirnya aku duduk di jalan 'Arafah, atau aku berhenti di jalan 'Arafah." Abdullah berkata: "Kemudian muncul satu rombongan, dan aku tahu bahwa dalamrombongan tersebut ada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu seorang laki-laki yang ada di depannya berkata: "Minggirlah dari jalan pengendara, " maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Celaka kamu! Biarkanlah dia." Kemudian aku menyeru mendekat hingga kedua unta (untaku dan unta beliau) kepalanya saling bersentuhan." Abdullah berkata: "Aku lalu berkata: "Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku amalan yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menyelamatkan aku dari Neraka." Beliau menjawab: "Bagus, bagus, sekiranya kamu singkat dalam khutbah (doa) sungguh kamu telah sampai pada apa yang kamu minta. Bertakwalah kepada Allah dan jangan menyekutukan Allah, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, berhaji ke Baitul Haram, dan berpuasa pada bulan Ramadan. Sekarang minggirlah dari jalan pengendara." Abdullah berkata: "Telah menceritakan kepada kami Waki' dari Yunus -yakni Ibnu Abu Ishaq- dia berkata: aku mendengar hadits ini dari Mughirah bin 'Abdullah dari ayahnya seperti itu."



[1] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 38, Halaman 194.Hadits nomor 23109.

[2] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 45, Halaman 133.Hadits nomor 27154.

28/03/2026

20. Orang Yang Paling Banyak Masuk Surga Adalah Karena Ketakwaannya

20. Orang Yang Paling Banyak Masuk Surga Adalah Karena Ketakwaannya

Keistimewaan takwa ke dua puluh “Orang yang paling banyak masuk surga adalah karena ketakwaannya”, dijelaskan di dalam Hadits Riwayat Tirmudzi nomor 2004, Sunan Ibnu Majah Hadits nomor 4246, Musnad Ahmad Hadits nomor 9696, Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 476, bahwa orang yang paling banyak masuk surga adalah karena ketakwaannya;

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ, قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ هُوَ ابْنُ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَوْدِيُّ [1]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al Ala`, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris, telah menceritakan kepadaku bapakku dari kakekku dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, maka beliau pun menjawab: "Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia." Dan beliau juga ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, maka beliau menjawab: "Mulut dan kemaluan." Abu Isa berkata; Ini adalah hadits shahih gharib. Abdullah bin Idris adalah Ibnu Yazid bin Abdurrahman Al Audi.

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ إِسْحَقَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ أَبِيهِ وَعَمِّهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ الْجَنَّةَ قَالَ التَّقْوَى وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ مَا أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّارَ قَالَ الْأَجْوَفَانِ الْفَمُ وَالْفَرْجُ [2]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ishaq dan Abdullah bin Sa'id keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dari ayahnya dan pamannya dari kakeknya dari Abu Hurairah dia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah di tanya: "perkara apa yang banyak menyebabkan masuk surga?" beliau menjawab: "Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia." Dan beliau di tanya: "Perkara apa yang banyak menyebabkan masuk neraka?" beliau menjawab: "Dua rongga yang terbuka yaitu mulut dan kemaluan."

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا دَاوُدُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَكْثَرَ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الْأَجْوَفَانِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْأَجْوَفَانِ قَالَ الْفَرْجُ وَالْفَمُ قَالَ أَتَدْرُونَ أَكْثَرَ مَا يُدْخِلُ الْجَنَّةَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ [3]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Ubaid berkata: telah menceritakan kepada kami Dawud dari bapaknya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya kebanyakkan yang menyebabkan manusia masuk neraka adalah dua lubang, " para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan dua lubang?" maka beliau bersabda: "Kemaluan dan mulut, " beliau bersabda: "Tahukah kalian apa yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga? takwa kepada Allah dan akhlaq yang mulia."

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ الْكَرْخِيُّ، بِبَلَدِ الْمَوْصِلِ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ‏:‏ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ مَا أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ‏؟‏ قَالَ‏:‏ تَقْوَى اللهِ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ قِيلَ‏:‏ فَمَا أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ‏؟‏ قَالَ‏:‏ الأَجْوَفَانِ‏:‏ الْفَمُ وَالْفَرْجُ‏.‏قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ‏:‏ ابْنُ إِدْرِيسَ هَذَا اسْمُهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الزَّعَافِرِيُّ الأَوْدِيُّ مِنْ ثِقَاتِ الْكُوفَةِ وَمُتْقِنِيهِمْ، وَلَمْ يَكُنْ فِي عَصْرِهِ بِالْكُوفَةِ مَنْ لاَ يَشْرَبُ غَيْرُهُ‏.‏ [4]

Artinya: Muhammad bin Ja’far Al Karkhi di negeri Mosul mengabarkan kepada kami, ia berkata, Usman bin Abu Syaibah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibnu Idris menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Abu Hurairah, ia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di tanya, Perbuatan apakah yang paling banyak mengantarkan manusia ke surga? Beliau menjawab, “Ketakwaan dan akhlak yang baik." Beliau ditanya, “Lalu perbuatan apakah yang paling banyak menjerumuskan manusia ke neraka? Beliau menjawab, “Perbuatan yang berasal dari dua lubang, yaitu mulut dan kemaluan.” 238 Abu Hatim RA berkata, Ibnu Idris di sini namanya adalah Abdullah bin Idris bin Yazid bin Abdurrahman239 Az-Za’afiri, Al Audi, la termasuk ulama Kufah yang tsiqah. Dan pada masanya, belum ada di Kufah seseorang yang tidak pemah berdusta selain dia.



[1] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 3 halaman 536, Hadits nomor 2004.

[2] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman 1418, Hadits nomor 4246.

[3] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 15, Halaman 435.Hadits nomor 9696.

[4] Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibnu Hazm, Beirut, Jilid 1, Halaman 490, Hadits nomor 726.

3. Tingkatan Manusia Dalam Al Quran Dan Hadits

3.     Tingkatan Manusia Dalam Al Quran Dan Hadits

Allah SWT menurunkan ayat-ayat Al Quran dengan jelas dan terperinci yang dapat digunakan sebagai petunjuk dan rahmat bagi mannusia, pernyataan ini di dasari Al Quran surat Al-A'raf (7): 52;

وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَى عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-A'raf (7): 52)

Nabi Muhammad SAW juga memiliki perkataan yang jelas dan terperinci, sebagaimana di sebutkan di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 23926;

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أُسَامَةَ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ كَلَامُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصْلًا يَفْقَهُهُ كُلُّ أَحَدٍ لَمْ يَكُنْ يَسْرُدُهُ سَرْدًا. [1]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan dari Usamah dari Az-Zuhri dari Urwah dari Aisyah berkata; "Perkataan Nabi Shallallahu'alaihiwasallam adalah sangat terperinci yang setiap orang memahaminya dan beliau tidak pura-pura membagus-baguskannya."

Ayat dan hadits di atas memberi pengertian bahwa urut-urutan kata yang disebutkan di dalam Al Quran merupakan bagian dari penjelasan atau rincian pada suatu permasalahan, sehingga dapat ditarik pengertian bahawa urut-urutan kata yang disebutkan di dalam Al Quran merupakan urutan hierarkis ataupun urutan klasifikasi dari suatu permasalahan. Maka berikut ini akan dikemukakan beberapa ayat Al Quran dan Hadits Rasulullah Muhammad SAW, yang dapat dijadikan sebagai dasar penyusunan urutan, tingkatan hierarki ajaran Islam;

1.1.     Bertaubat – Sabar – Ikhlas – Islam -Iman

Al Quran Surat An Nisa’ayat 145-146, menjelaskan bahwa orang munafik akan dimasukkan di kerak api neraka, kecuali mau bertaubat, mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah(:sabar) dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama(:Islam) mereka karena Allah, Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman;

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا, إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan (sabar) dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” (QS. An Nisa’: 145-146).

1.2.     Sabar – Ikhlas – Islam – Iman - Ikhsan

Al Quran Surat Az-Zumar Ayat 10-11-12-13, memberi gambaran bahwa Keaqwaan di tingkat Ihsan; harus dilalui dari ketakwaan di tingkat sabar, ikhlas, islam dan iman;

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ, قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ, وَأُمِرْتُ لِأَنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ, قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Artinya: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik (ihsan) di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri (Islam)". Katakanlah: "Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar (Iman pada hari akhir) jika aku durhaka kepada Tuhanku".

1.3.     Islam - Iman - Ihsan

Di dalam Hadits Riwayat Muslim nomor 10, dijelaskan bahwa Malaikat Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang agama, dengan tujuan untuk menjelaskan kepada umat Nabi Muhammad, mengenai Islam, Iman dan Ihsan, pertanyaan tersebut juga menggambarkan tingkatan ketakwaan;

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ وَهُوَ ابْنُ الْقَعْقَاعِ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَال,َ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَلُونِي فَهَابُوهُ أَنْ يَسْأَلُوهُ فَجَاءَ رَجُلٌ فَجَلَسَ عِنْدَ رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ لَا تُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِيمَانُ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكِتَابِهِ وَلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ كُلِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ صَدَقْتَ...[2]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir dari Umarah -yaitu Ibnu al-Qa'qa'- dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Kalian bertanyalah kepadaku'. Namun mereka takut dan segan untuk bertanya kepada beliau. Maka seorang laki-laki datang lalu duduk di hadapan kedua lutut beliau, laki-laki itu bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? ' Beliau menjawab, 'Islam adalah kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, membayar zakat, dan berpuasa Ramadlan.' Dia berkata, 'Kamu benar.' Lalu dia bertanya lagi, 'Wahai Rasulullah, apakah iman itu? ' Beliau menjawab, 'Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, beriman kepada kejadian pertemuan dengan-Nya, beriman kepada para Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari kebangkitan serta beriman kepada takdir semuanya'. Dia berkata, 'Kamu benar'. Lalu dia bertanya lagi, 'Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ' Beliau menjawab, 'Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.' Dia berkata, 'Kamu benar'.

1.4.     Iman - Ihsan – Mahabbah- Rahmat - Ridha

Rasulullah mewasiatkan (mengajarkan) doa kebaikan kepada Salman, doa tersebut menggambarkan peningkatan Ketakwaan, yakni Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu benarnya iman, dan keimanan dalam akhlak yang baik (ihsan) dan kesuksesan yang diikuti keberuntungan (bahagia;mahabah), dan aku memohon rahmat dan 'afiyat dari-Mu dan aku juga memohon ampunan dan keridhaaan dari-Mu, dimuat dalam hadits riwayat Ahmad nomor 8272, berikut;

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْوَلِيدِ عَنِ ابْنِ حُجَيْرَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى سَلْمَانَ الْخَيْرَ قَالَ إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلَام يُرِيدُ أَنْ يَمْنَحَكَ كَلِمَاتٍ تَسْأَلُهُنَّ الرَّحْمَنَ تَرْغَبُ إِلَيْهِ فِيهِنَّ وَتَدْعُوَ بِهِنَّ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ صِحَّةَ إِيمَانٍ وَإِيمَانًا فِي خُلُقٍ حَسَنٍ وَنَجَاحًا يَتْبَعُهُ فَلَاحٌ يَعْنِي وَرَحْمَةً مِنْكَ وَعَافِيَةً وَمَغْفِرَةً مِنْكَ وَرِضْوَانًا, قَالَ أَبِي وَهُنَّ مَرْفُوعَةٌ فِي الْكِتَابِ يَتْبَعُهُ فَلَاحٌ وَرَحْمَةٌ مِنْكَ وَعَافِيَةٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنْكَ وَرِضْوَانٌ. [3]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Sa'id telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnul Walid dari Ibnu Hujairah dari Abu Hurairah, dia berkata; "Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mewasiatkan kepada Salman pada suatu kebaikan, beliau bersabda: "Sesungguhnya Nabi Allah 'Alaihis Salam ingin memberimu beberapa kalimat yang kamu mohon kepada Allah yang Maha Penyayang, dan kamu cinta kepadanya dengan kalimat tersebut serta kamu berdoa dengannya di waktu malam dan siang hari, Rasulullah mengucapkan; Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu benarnya iman, dan keimanan dalam akhlak yang baik dan kesuksesan yang diikuti keberuntungan, dan aku memohon rahmat dan 'afiyat dari-Mu dan aku juga memohon ampunan dan keridhaaan dari-Mu." Ayahku berkata; "Dan semua kalimat tersebut dalam kitab di tulis dengan marfu'ah (menggunakan harakat dhammah): falaahun wa rahmatun minka wa aafiyatun wa maghfiratun minka wa ridhwaanun."

1.5.     Rahmah – Ridha - Jannah

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah 3836, disebutkan doa; Ya Allah! Ampuni kami, rahmati kami, ridlai kami, terimalah (amalan) kami, masukkanlah kami ke surga;

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ مِسْعَرٍ عَنْ أَبِي مَرْزُوقٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُتَّكِئٌ عَلَى عَصًا فَلَمَّا رَأَيْنَاهُ قُمْنَا فَقَالَ لَا تَفْعَلُوا كَمَا يَفْعَلُ أَهْلُ فَارِسَ بِعُظَمَائِهَا قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ دَعَوْتَ اللَّهَ لَنَا قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَارْضَ عَنَّا وَتَقَبَّلْ مِنَّا وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَنَجِّنَا مِنْ النَّارِ وَأَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ قَالَ فَكَأَنَّمَا أَحْبَبْنَا أَنْ يَزِيدَنَا فَقَالَ أَوَلَيْسَ قَدْ جَمَعْتُ لَكُمْ الْأَمْرَ. [4]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Waki' dari Mis'ar dari Abu Marzuq dari Abu Wa`il dari Abu Umamah Al Bahili dia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menemui kami sambil berpegangan pada tongkat, lalu kami berdiri ketika melihat beliau, beliau bersabda: "Janganlah kalian melakukan perbuatan seperti perbuatan orang-orang Persia terhadap para pembesar kerajaan." Kami bertanya: "Wahai Rasulullah, sekiranya anda berkenan mendo'akan kami semua!." Beliau bersabda: "Ya Allah! Ampuni kami, rahmati kami, ridlai kami, terimalah (amalan) kami, masukkanlah kami ke surga, dan selamatkanlah kami dari neraka serta perbaikilah kondisi kami seluruhnya." Abu Umamah berkata: "Sepertinya kami menginginkan beliau menambahi do`a untuk kami, lalu beliau bersabda: "Tidakkah saya telah menyatukan urusan kalian menjadi satu?."

1.6.     Kafir - Dhalim - Fasiq

Di dalam Al Quran  Surat Al Maidah ayat 44, 45 dan 47, disetiap akhir ayatnya disebutkan secara berurutan, hal tersebut memberikan gambaran tetang tingkatan Kafir, Dhalim dan Fasik;

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْكَافِرُونَ

Artinya: “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (QS. Al-Maidah: 44)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الظَّالِمُونَ

Artinya: “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Maidah: 45).

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْفَاسِقُونَ

Artinya: “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Maidah: 47)

1.7.     Takut - Sedih - Putus Asa - Fasiq - Dhalim - Kafir

Di dalam kitab Hadits Shahih Bukhari hadis nomor 6002, disebutkan bahwa urutan doa yang dipanjatkan Rasulullah menggambarkan permohonan dari keluh kesah (takut) dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan(putus asa), dari sifat bakhil (fasiq) dan pengecut (dhalim) dan dari lilitan hutang dan penindasan (kafir);

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو مَوْلَى الْمُطَّلِبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَنْطَبٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي طَلْحَةَ الْتَمِسْ غُلَامًا مِنْ غِلْمَانِكُمْ يَخْدُمُنِي فَخَرَجَ بِي أَبُو طَلْحَةَ يُرْدِفُنِي وَرَاءَهُ فَكُنْتُ أَخْدُمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّمَا نَزَلَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ فَلَمْ أَزَلْ أَخْدُمُهُ حَتَّى أَقْبَلْنَا مِنْ خَيْبَرَ وَأَقْبَلَ بِصَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ قَدْ حَازَهَا فَكُنْتُ أَرَاهُ يُحَوِّي لَهَا وَرَاءَهُ بِعَبَاءَةٍ أَوْ بِكِسَاءٍ ثُمَّ يُرْدِفُهَا وَرَاءَهُ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِالصَّهْبَاءِ صَنَعَ حَيْسًا فِي نِطَعٍ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَدَعَوْتُ رِجَالًا فَأَكَلُوا وَكَانَ ذَلِكَ بِنَاءَهُ بِهَا ثُمَّ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا بَدَا لَهُ أُحُدٌ قَالَ هَذَا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ فَلَمَّا أَشْرَفَ عَلَى الْمَدِينَةِ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أُحَرِّمُ مَا بَيْنَ جَبَلَيْهَا مِثْلَ مَا حَرَّمَ بِهِ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي مُدِّهِمْ وَصَاعِهِمْ. [5]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah berkata; telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ja'far dari Amru bin Abu Amru mantan budak Al Muthallib bin Abdullah bin Hanthab, bahwa ia mendengar Anas bin Malik ia berkata; "Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Thalhah: 'Berilah aku seorang pelayan lelaki dari yang kamu miliki hingga ia bisa membantuku.' Abu Thalhah lalu keluar dengan membawaku di belakang boncengannya. Aku lalu menjadi pelayan Rasulullah SAW. Setiap kali beliau singgah pada suatu tempat, beliau banyak membaca: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan pengecut, dan dari lilitan hutang dan penindasan) '. Aku selalu melayani (keperluan) beliau hingga kembali dari Khaibar, beliau kembali dengan membawa (mengiring) Shafiyah binti Huyai. Dan aku lihat beliau menutupinya dengan kain kemudian memboncengkannya di belakang beliau. Sehingga ketika kami tiba di daerah Shahba`, beliau membuat hais dalam bejana dari kulit, kemudian beliau menyuruh agar aku mengundang para sahabat. Lalu mereka menyantap hidangan tersebut, maka itulah awal rumah tangga beliau dengannya. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan, hingga ketika tiba di gunung Uhud, beliau bersabda: 'Ini adalah gunung yang kita mencintainya dan dia mencintai kita.' Ketika memasuki kota Madinah beliau mengatakan: 'Ya Allah, sesungguhnya aku mengharamkan apa yang ada di antara dua gunungnya (Madinah), sebagaimana Ibrahim mengharamkan (mensucikan) Makkah. Ya Allah, berkahilah mereka dalam mud dan sha' mereka.'

Ayat-ayat Al Quran dan Hadits Nabi yang telah dikemukakan di atas akan digunakan sebagai dasar utama penyusunan hierarki tingkat kesadaran takwa.



[1] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 41, Halaman 520.Hadits nomor 25077.

[2] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1 , Halaman 40, Hadits nomor 7 (10).

[3] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 14, Halaman 23.Hadits nomor 8272.

[4] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman 1262, Hadits nomor 3836. 

[5] Abu Abdullah ibn Ismail Al Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Ibnu Katsir, Damsyiq, 1993 H, Jilid 5, Halaman 2341, Hadits nomor 6002.

19. Rasulullah Muhammad SAW Tidak Pernah Dikagumkan Kecuali Kepada Orang Bertakwa

19. Rasulullah Muhammad SAW Tidak Pernah Dikagumkan Kecuali Kepada Orang Bertakwa

Keistimewaan takwa ke sembilan belas “Rasulullah Muhammad saw tidak pernah dikagumkan kecuali kepada orang bertakwa”,  di dasari hadis nomor 24400 dan 24403 dalam kitab Musnad Ahmad yang menyatakan bahwa Rasulullah tidak pernah dikagumkan kecuali kepada orang yang bertakwa;

 حَدَّثَنَا حَسَنٌ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَسْوَدِ عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا أَعْجَبَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْءٌ مِنْ الدُّنْيَا وَلَا أَعْجَبَهُ أَحَدٌ قَطُّ إِلَّا ذُو تُقًى [1]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Hassan] berkata; Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Lahi'ah] Telah menceritakan kepada kami [Abu Al-Aswad] dari [Al-Qasim bin Muhammad] dari [Aisyah] berkata; "Rasulullah SAW tidak pernah dikagumkan sedikitpun oleh dunia dan beliau juga tidak pernah dikagumkan oleh seseorang sama sekali, kecuali orang yang bertakwa."

حَدَّثَنَا يَحْيَى قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ عَنْ عُرْوَةَ وَالْقَاسِمِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا أُعْجِبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَيْءٍ وَلَا أَعْجَبَهُ شَيْءٌ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِيهَا ذُو تُقًى [2]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya berkata: Telah mengkabarkan kepada kami Ibnu Lahi'ah dari Abu Al-Aswad dari Urwah dan Al-Qasim dari Aisyah berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah dikagumkan dengan sesuatu pun, dan dunia sama sekali tidak menjadikannya kagum, kecuali orang yang memiliki ketakwaan."

Di dalam kitab Shahih Muslim Hadis nomor 2999 dinyatakan Bahwa perkara orang mu`min mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min;

 حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ الْأَزْدِيُّ وَشَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ جَمِيعًا عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ الْمُغِيرَةِ وَاللَّفْظُ لِشَيْبَانَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ [3]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Haddab bin Khalid Al Azdi dan Syaiban bin Farrukh semuanya dari Sulaiman bin Al Mughirah dan lafazhnya milik Syaiban. Telah menceritakan kepada kami Sulaiman telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Shuhaib berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Perkara orang mu`min mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya."



[1] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 40, Halaman 464.Hadits nomor 24400.

[2] Ibid, Jilid 40, Halaman 466.Hadits nomor 24403.

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post