1. Hikmah Ibadah
Berikut ini akan
dikemukakan beberapa ayat Al-Quran maupun Hadits yang menggambarkan hikmah dari
ibadah;
Di dalam kitab Shahih Bukhari
Hadits nomor 2856 ditegaskan bahwa Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka
beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun;
حَدَّثَنِي
إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ سَمِعَ يَحْيَى بْنَ آدَمَ حَدَّثَنَا أَبُو
الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ عَنْ مُعَاذٍ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ فَقَالَ يَا مُعَاذُ هَلْ تَدْرِي
حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ
اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ
يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ
لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
أَفَلَا أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ قَالَ لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا [1]
Artinya: "Ishaq
bin Ibrahim telah menceritakan kepadaku; ia berkata: Yahya bin Adam
mendengarnya dan menceritakannya kepada kami; Abu al-Ahwash telah menceritakan
kepada kami dari Abu Ishaq dari ‘Amr bin Maimun dari Mu‘adz radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Aku pernah
membonceng Nabi ﷺ di atas seekor keledai yang bernama ‘Ufayr. Lalu beliau
bersabda: ‘Wahai Mu‘adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya dan apa
hak hamba atas Allah?’ Aku menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’
Beliau bersabda: ‘Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka beribadah kepada-Nya
dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun; dan hak hamba atas Allah
adalah bahwa Dia tidak akan mengazab orang yang tidak mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu apa pun.’ Maka aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, bolehkah aku
menyampaikan kabar gembira ini kepada manusia?’ Beliau menjawab: ‘Jangan engkau
beri kabar gembira kepada mereka, nanti mereka akan bersandar (lalu
meninggalkan amal).’"
1.2.
Apa
Yang Dahulu Disembah, Mereka Akan Mengikuti Yang Dia Sembah
Di dalam kitab Shahih
Al-Bukhari Hadits nomor 806 dan 4581 disebutkan pernyataan Rasulullah Muhammad ﷺ: “Siapa yang
dahulu menyembah sesuatu, hendaklah mengikuti sembahannya.”;
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ
أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ
الْمُسَيَّبِ وَعَطَاءُ بْنُ يَزِيدَ اللَّيْثِيُّ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ
أَخْبَرَهُمَا أَنَّ النَّاسَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ قَالَ هَلْ تُمَارُونَ فِي الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَيْسَ
دُونَهُ سَحَابٌ قَالُوا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَهَلْ تُمَارُونَ فِي
الشَّمْسِ لَيْسَ دُونَهَا سَحَابٌ قَالُوا لَا قَالَ فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ
كَذَلِكَ يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ
شَيْئًا فَلْيَتَّبِعْ فَمِنْهُمْ مَنْ يَتَّبِعُ الشَّمْسَ وَمِنْهُمْ مَنْ
يَتَّبِعُ الْقَمَرَ وَمِنْهُمْ مَنْ يَتَّبِعُ الطَّوَاغِيتَ وَتَبْقَى هَذِهِ
الْأُمَّةُ فِيهَا مُنَافِقُوهَا فَيَأْتِيهِمْ اللَّهُ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ
فَيَقُولُونَ هَذَا مَكَانُنَا حَتَّى يَأْتِيَنَا رَبُّنَا فَإِذَا جَاءَ
رَبُّنَا عَرَفْنَاهُ فَيَأْتِيهِمْ اللَّهُ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ
فَيَقُولُونَ أَنْتَ رَبُّنَا فَيَدْعُوهُمْ فَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ
ظَهْرَانَيْ جَهَنَّمَ فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يَجُوزُ مِنْ الرُّسُلِ بِأُمَّتِهِ
وَلَا يَتَكَلَّمُ يَوْمَئِذٍ أَحَدٌ إِلَّا الرُّسُلُ وَكَلَامُ الرُّسُلِ
يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ وَفِي جَهَنَّمَ كَلَالِيبُ مِثْلُ شَوْكِ
السَّعْدَانِ هَلْ رَأَيْتُمْ شَوْكَ السَّعْدَانِ قَالُوا نَعَمْ قَالَ
فَإِنَّهَا مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ قَدْرَ
عِظَمِهَا إِلَّا اللَّهُ تَخْطَفُ النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ فَمِنْهُمْ مَنْ
يُوبَقُ بِعَمَلِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُخَرْدَلُ ثُمَّ يَنْجُو حَتَّى إِذَا أَرَادَ
اللَّهُ رَحْمَةَ مَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَمَرَ اللَّهُ
الْمَلَائِكَةَ أَنْ يُخْرِجُوا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَيُخْرِجُونَهُمْ
وَيَعْرِفُونَهُمْ بِآثَارِ السُّجُودِ وَحَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ
تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُودِ فَيَخْرُجُونَ مِنْ النَّارِ فَكُلُّ ابْنِ آدَمَ
تَأْكُلُهُ النَّارُ إِلَّا أَثَرَ السُّجُودِ فَيَخْرُجُونَ مِنْ النَّارِ قَدْ
امْتَحَشُوا فَيُصَبُّ عَلَيْهِمْ مَاءُ الْحَيَاةِ فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ
الْحِبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ ثُمَّ يَفْرُغُ اللَّهُ مِنْ الْقَضَاءِ بَيْنَ
الْعِبَادِ وَيَبْقَى رَجُلٌ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَهُوَ آخِرُ أَهْلِ
النَّارِ دُخُولًا الْجَنَّةَ مُقْبِلٌ بِوَجْهِهِ قِبَلَ النَّارِ فَيَقُولُ يَا
رَبِّ اصْرِفْ وَجْهِي عَنْ النَّارِ قَدْ قَشَبَنِي رِيحُهَا وَأَحْرَقَنِي
ذَكَاؤُهَا فَيَقُولُ هَلْ عَسَيْتَ إِنْ فُعِلَ ذَلِكَ بِكَ أَنْ تَسْأَلَ غَيْرَ
ذَلِكَ فَيَقُولُ لَا وَعِزَّتِكَ فَيُعْطِي اللَّهَ مَا يَشَاءُ مِنْ عَهْدٍ
وَمِيثَاقٍ فَيَصْرِفُ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ فَإِذَا أَقْبَلَ بِهِ
عَلَى الْجَنَّةِ رَأَى بَهْجَتَهَا سَكَتَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَسْكُتَ ثُمَّ
قَالَ يَا رَبِّ قَدِّمْنِي عِنْدَ بَابِ الْجَنَّةِ فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ
أَلَيْسَ قَدْ أَعْطَيْتَ الْعُهُودَ وَالْمِيثَاقَ أَنْ لَا تَسْأَلَ غَيْرَ
الَّذِي كُنْتَ سَأَلْتَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ لَا أَكُونُ أَشْقَى خَلْقِكَ
فَيَقُولُ فَمَا عَسَيْتَ إِنْ أُعْطِيتَ ذَلِكَ أَنْ لَا تَسْأَلَ غَيْرَهُ
فَيَقُولُ لَا وَعِزَّتِكَ لَا أَسْأَلُ غَيْرَ ذَلِكَ فَيُعْطِي رَبَّهُ مَا
شَاءَ مِنْ عَهْدٍ وَمِيثَاقٍ فَيُقَدِّمُهُ إِلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَإِذَا
بَلَغَ بَابَهَا فَرَأَى زَهْرَتَهَا وَمَا فِيهَا مِنْ النَّضْرَةِ وَالسُّرُورِ
فَيَسْكُتُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَسْكُتَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَدْخِلْنِي
الْجَنَّةَ فَيَقُولُ اللَّهُ وَيْحَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مَا أَغْدَرَكَ أَلَيْسَ
قَدْ أَعْطَيْتَ الْعُهُودَ وَالْمِيثَاقَ أَنْ لَا تَسْأَلَ غَيْرَ الَّذِي
أُعْطِيتَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ لَا تَجْعَلْنِي أَشْقَى خَلْقِكَ فَيَضْحَكُ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْهُ ثُمَّ يَأْذَنُ لَهُ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ
فَيَقُولُ تَمَنَّ فَيَتَمَنَّى حَتَّى إِذَا انْقَطَعَ أُمْنِيَّتُهُ قَالَ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا أَقْبَلَ يُذَكِّرُهُ رَبُّهُ حَتَّى
إِذَا انْتَهَتْ بِهِ الْأَمَانِيُّ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لَكَ ذَلِكَ
وَمِثْلُهُ مَعَهُ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ لِأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
قَالَ اللَّهُ لَكَ ذَلِكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ لَمْ
أَحْفَظْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا قَوْلَهُ
لَكَ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ مَعَهُ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ إِنِّي سَمِعْتُهُ يَقُولُ
ذَلِكَ لَكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ [2]
Artinya: “Telah
menceritakan kepada kami Abul-Yamān; ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami
Syu‘aib, dari az-Zuhrī; ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Sa‘īd bin
al-Musayyab dan ‘Aṭā’ bin Yazīd al-Laytsī bahwa Abu Hurairah mengabarkan kepada
keduanya bahwa orang-orang berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat
Rabb kita pada hari kiamat?’ Beliau bersabda: ‘Apakah kalian ragu ketika
melihat bulan pada malam purnama yang tidak tertutup awan?’ Mereka menjawab:
‘Tidak, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Apakah kalian ragu ketika melihat
matahari yang tidak tertutup awan?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Beliau bersabda:
‘Sesungguhnya kalian akan melihat-Nya seperti itu. Manusia dikumpulkan pada
hari kiamat, lalu dikatakan: Siapa yang dahulu menyembah sesuatu, hendaklah
mengikuti sembahannya. Maka sebagian mereka mengikuti matahari, sebagian
mengikuti bulan, dan sebagian mengikuti thaghut. Tinggallah umat ini, termasuk
munafik-munafiknya. Lalu Allah datang kepada mereka dan berfirman: “Akulah Rabb
kalian.” Mereka berkata: “Kami tetap di sini sampai Rabb kami datang; apabila
Rabb kami datang, kami akan mengenali-Nya.” Lalu Allah datang kepada mereka dan
berfirman: “Akulah Rabb kalian.” Mereka pun berkata: “Engkau adalah Rabb kami.”
Maka Allah memanggil mereka, lalu dipasanglah shirath di atas punggung Jahanam.
Maka akulah rasul pertama yang menyeberang bersama umatnya. Pada hari itu tidak
ada yang berbicara kecuali para rasul, dan ucapan mereka saat itu hanyalah: ‘Ya
Allah, selamatkan… selamatkan.’ Di dalam Jahanam terdapat kait-kait seperti
duri pohon Sa‘dān—apakah kalian telah melihat duri Sa‘dān?’ Mereka menjawab:
‘Ya.’ Beliau bersabda: ‘Ia seperti duri Sa‘dān, tetapi tidak ada yang
mengetahui besar ukurannya kecuali Allah. Kait-kait itu akan mencengkeram
manusia sesuai amal mereka; ada yang binasa karena amalnya, dan ada yang
tercabik lalu selamat. Hingga apabila Allah menghendaki rahmat bagi orang yang
dikehendaki-Nya dari penduduk neraka, Allah memerintahkan para malaikat
untuk mengeluarkan orang-orang yang dahulu hanya menyembah Allah. Mereka
dikeluarkan dan dikenali melalui bekas sujud mereka; Allah mengharamkan api
memakan bekas sujud. Mereka keluar dari neraka dalam keadaan hangus, lalu
ditumpahkan kepada mereka air kehidupan, maka mereka tumbuh seperti biji
yang tumbuh di tepi arus banjir. Setelah Allah selesai memutuskan perkara di
antara hamba-hamba, tinggallah seorang laki-laki di antara surga dan neraka,
yang merupakan orang terakhir dari penghuni neraka yang masuk surga. Ia
menghadapkan wajahnya ke arah neraka lalu berkata: “Wahai Rabbku, palingkanlah
wajahku dari neraka; sungguh hembusan anginnya telah merusakku dan panasnya
telah membakarku.” Allah berfirman: “Apakah mungkin jika itu Aku lakukan,
engkau akan meminta selain itu?” Ia menjawab: “Tidak, demi kemuliaan-Mu.” Maka
ia memberikan janji dan kesepakatan kepada Allah. Maka Allah memalingkan
wajahnya dari neraka. Ketika diarahkan kepada surga dan ia melihat
keindahannya, ia terdiam selama Allah berkehendak ia diam, lalu berkata: “Wahai
Rabbku, dekatkan aku ke pintu surga.” Allah berfirman: “Bukankah engkau telah
memberikan janji untuk tidak meminta selain yang telah engkau minta?” Ia
berkata: “Wahai Rabbku, jangan jadikan aku makhluk-Mu yang paling celaka.”
Allah berfirman: “Apakah jika Aku dekatkan engkau, engkau tidak akan meminta
selain itu?” Ia menjawab: “Tidak, demi kemuliaan-Mu.” Maka ia kembali
memberikan janji dan kesepakatan kepada Allah. Lalu Allah mendekatkannya ke
pintu surga. Ketika ia telah mencapai pintunya dan melihat keindahan serta
kebahagiaan di dalamnya, ia kembali diam selama Allah berkehendak ia diam, lalu
berkata: “Wahai Rabbku, masukkanlah aku ke dalam surga.” Allah berfirman:
“Celakalah engkau wahai anak Adam, betapa ingkarnya engkau! Bukankah engkau
telah berjanji untuk tidak meminta selain yang telah diberikan kepadamu?” Ia
berkata: ‘Wahai Rabbku, jangan jadikan aku makhluk-Mu yang paling celaka.’ Maka
Allah tertawa kepadanya, kemudian mengizinkannya masuk surga. Allah berfirman
kepadanya: ‘Beranganlah!’ Lalu ia mulai berangan-angan, hingga ketika
angan-angannya habis, Allah berfirman: ‘Bagimu ini dan semisalnya bersamanya.’
Abu Sa‘id al-Khudri berkata kepada Abu Hurairah: ‘Rasulullah ﷺ bersabda:
Allah berfirman: “Bagimu itu dan sepuluh kali lipatnya.”’ Abu Hurairah berkata:
‘Aku hanya menghafal dari Rasulullah ﷺ sabdanya: “Bagimu itu dan semisalnya
bersamanya.” Abu Sa‘id berkata: ‘Aku sungguh mendengar beliau bersabda: “Bagimu
itu dan sepuluh kali lipatnya.”’”
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ
الْعَزِيزِ حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ حَفْصُ بْنُ مَيْسَرَةَ عَنْ زَيْدِ بْنِ
أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ أُنَاسًا فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ هَلْ تُضَارُّونَ فِي
رُؤْيَةِ الشَّمْسِ بِالظَّهِيرَةِ ضَوْءٌ لَيْسَ فِيهَا سَحَابٌ قَالُوا لَا
قَالَ وَهَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ضَوْءٌ
لَيْسَ فِيهَا سَحَابٌ قَالُوا لَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَا تُضَارُونَ فِي رُؤْيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
إِلَّا كَمَا تُضَارُونَ فِي رُؤْيَةِ أَحَدِهِمَا إِذَا كَانَ يَوْمُ
الْقِيَامَةِ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ تَتْبَعُ كُلُّ أُمَّةٍ مَا كَانَتْ تَعْبُدُ
فَلَا يَبْقَى مَنْ كَانَ يَعْبُدُ غَيْرَ اللَّهِ مِنْ الْأَصْنَامِ وَالْأَنْصَابِ
إِلَّا يَتَسَاقَطُونَ فِي النَّارِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ إِلَّا مَنْ كَانَ
يَعْبُدُ اللَّهَ بَرٌّ أَوْ فَاجِرٌ وَغُبَّرَاتُ أَهْلِ الْكِتَابِ فَيُدْعَى
الْيَهُودُ فَيُقَالُ لَهُمْ مَنْ كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ قَالُوا كُنَّا نَعْبُدُ
عُزَيْرَ ابْنَ اللَّهِ فَيُقَالُ لَهُمْ كَذَبْتُمْ مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ
صَاحِبَةٍ وَلَا وَلَدٍ فَمَاذَا تَبْغُونَ فَقَالُوا عَطِشْنَا رَبَّنَا
فَاسْقِنَا فَيُشَارُ أَلَا تَرِدُونَ فَيُحْشَرُونَ إِلَى النَّارِ كَأَنَّهَا
سَرَابٌ يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا فَيَتَسَاقَطُونَ فِي النَّارِ ثُمَّ يُدْعَى
النَّصَارَى فَيُقَالُ لَهُمْ مَنْ كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ قَالُوا كُنَّا نَعْبُدُ
الْمَسِيحَ ابْنَ اللَّهِ فَيُقَالُ لَهُمْ كَذَبْتُمْ مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ
صَاحِبَةٍ وَلَا وَلَدٍ فَيُقَالُ لَهُمْ مَاذَا تَبْغُونَ فَكَذَلِكَ مِثْلَ
الْأَوَّلِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ إِلَّا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ مِنْ
بَرٍّ أَوْ فَاجِرٍ أَتَاهُمْ رَبُّ الْعَالَمِينَ فِي أَدْنَى صُورَةٍ مِنْ
الَّتِي رَأَوْهُ فِيهَا فَيُقَالُ مَاذَا تَنْتَظِرُونَ تَتْبَعُ كُلُّ أُمَّةٍ
مَا كَانَتْ تَعْبُدُ قَالُوا فَارَقْنَا النَّاسَ فِي الدُّنْيَا عَلَى أَفْقَرِ
مَا كُنَّا إِلَيْهِمْ وَلَمْ نُصَاحِبْهُمْ وَنَحْنُ نَنْتَظِرُ رَبَّنَا الَّذِي
كُنَّا نَعْبُدُ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ لَا نُشْرِكُ بِاللَّهِ
شَيْئًا مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا [3]
Artinya: "Muhammad
bin ‘Abd al-‘Aziz telah menceritakan kepadaku; Abu ‘Umar Hafsh bin Maysarah
telah menceritakan kepada kami dari Zaid bin Aslam dari ‘Atha’ bin Yasar dari
Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu, bahwa beberapa orang pada zaman Nabi ﷺ berkata:
‘Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Tuhan kami pada hari kiamat?’ Maka
Nabi ﷺ bersabda: ‘Ya.
Apakah kalian merasa kesulitan melihat matahari pada siang hari ketika tidak
ada awan?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Beliau bersabda: ‘Apakah kalian merasa
kesulitan melihat bulan pada malam purnama ketika tidak ada awan?’ Mereka
menjawab: ‘Tidak.’ Maka Nabi ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya kalian tidak akan
mengalami kesulitan dalam melihat Allah ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat
sebagaimana kalian tidak mengalami kesulitan dalam melihat salah satu dari
keduanya.’ Apabila hari kiamat tiba, seorang penyeru akan menyeru: ‘Hendaklah
setiap umat mengikuti apa yang dahulu mereka sembah.’ Maka tidak tersisa
seorang pun yang dahulu menyembah selain Allah—baik berupa berhala maupun
patung—kecuali mereka akan berjatuhan ke dalam neraka. Hingga tidak tersisa
kecuali orang-orang yang dahulu menyembah Allah, baik yang taat maupun yang
durhaka, serta sisa-sisa Ahli Kitab. Lalu orang-orang Yahudi dipanggil dan
ditanya: ‘Apa yang dahulu kalian sembah?’ Mereka menjawab: ‘Kami dahulu
menyembah ‘Uzair putra Allah.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Kalian berdusta,
Allah tidak memiliki istri dan tidak pula anak. Lalu apa yang kalian inginkan?’
Mereka berkata: ‘Kami haus, wahai Tuhan kami, maka berilah kami minum.’ Maka
ditunjukkan kepada mereka: ‘Tidakkah kalian ingin menuju ke sana?’ Lalu mereka
digiring ke neraka yang tampak seperti fatamorgana yang saling menghancurkan,
lalu mereka berjatuhan ke dalamnya. Kemudian orang-orang Nasrani dipanggil dan
ditanya: ‘Apa yang dahulu kalian sembah?’ Mereka menjawab: ‘Kami dahulu
menyembah al-Masih putra Allah.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Kalian
berdusta, Allah tidak memiliki istri dan tidak pula anak.’ Lalu dikatakan
kepada mereka: ‘Apa yang kalian inginkan?’ Maka mereka menjawab seperti yang
pertama, hingga akhirnya tidak tersisa kecuali orang-orang yang dahulu
menyembah Allah, baik yang taat maupun yang durhaka. Maka datanglah kepada
mereka Rabb semesta alam dalam bentuk yang paling rendah dari yang pernah
mereka lihat, lalu dikatakan: ‘Apa yang kalian tunggu? Setiap umat akan
mengikuti apa yang dahulu mereka sembah.’ Mereka menjawab: ‘Kami telah berpisah
dari manusia di dunia dalam keadaan sangat membutuhkan mereka, namun kami tidak
mengikuti mereka, dan kami menunggu Tuhan kami yang dahulu kami sembah.’ Maka
Allah berfirman: ‘Aku adalah Tuhan kalian.’ Mereka berkata: ‘Kami tidak
mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun,’ (ucapan itu diulang dua atau
tiga kali)."
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ
الْبَزَّازُ عَنْ يُونُسَ بْنِ بُكَيْرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ إِسْحَقَ قَالَ
أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ يَسَارٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا جَمَعَ
اللَّهُ الْعِبَادَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ نَادَى مُنَادٍ لِيَلْحَقْ كُلُّ قَوْمٍ
بِمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ فَيَلْحَقُ كُلُّ قَوْمٍ بِمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ
وَيَبْقَى النَّاسُ عَلَى حَالِهِمْ فَيَأْتِيهِمْ فَيَقُولُ مَا بَالُ النَّاسِ
ذَهَبُوا وَأَنْتُمْ هَا هُنَا فَيَقُولُونَ نَنْتَظِرُ إِلَهَنَا فَيَقُولُ هَلْ
تَعْرِفُونَهُ فَيَقُولُونَ إِذَا تَعَرَّفَ إِلَيْنَا عَرَفْنَاهُ فَيَكْشِفُ
لَهُمْ عَنْ سَاقِهِ فَيَقَعُونَ سُجُودًا فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى {
يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ }
يَبْقَى كُلُّ مُنَافِقٍ فَلَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْجُدَ ثُمَّ يَقُودُهُمْ إِلَى
الْجَنَّةِ [4]
Artinya: "Muhammad
bin Yazīd al-Bazzāz telah mengabarkan kepada kami dari Yunus bin Bukair; ia
berkata: Ibnu Ishaq telah mengabarkan kepadaku; ia berkata: Sa‘id bin Yasar
telah mengabarkan kepadaku; ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Aku
mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Apabila Allah mengumpulkan seluruh hamba di satu
tempat yang luas, seorang penyeru akan menyeru: Hendaklah setiap kaum mengikuti
apa yang dahulu mereka sembah.’ Maka setiap kaum pun akan mengikuti apa yang
dahulu mereka sembah, dan orang-orang (yang beriman) tetap tinggal di tempat
mereka. Lalu Allah mendatangi mereka dan berfirman: ‘Apa yang membuat manusia
pergi sedangkan kalian tetap di sini?’ Mereka menjawab: ‘Kami sedang menunggu
Tuhan kami.’ Allah berfirman: ‘Apakah kalian mengenal-Nya?’ Mereka menjawab:
‘Apabila Dia memperkenalkan diri kepada kami, kami pasti mengenal-Nya.’ Maka
Allah menyingkapkan betis-Nya, lalu mereka pun tersungkur bersujud; itulah
firman Allah Ta‘ala: “Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk
bersujud tetapi mereka tidak mampu.” Maka setiap orang munafik pun tetap
tinggal (tidak bisa sujud), kemudian Allah menggiring mereka menuju
surga."
1.3.
Semua
Rasul Mengajak Umatnya Untuk Hanya Menyembah Allah
Di dalam Al-Quran surat
Al-Anbiya’/ 21: 25 menggambarkan bahwa semua Rasul diwahyukan: "Bahwasanya
tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan
Aku";
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن
رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
﴿الأنبياء: ٢٥﴾
Artinya: Dan
Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan
kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka
sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. Al-Anbiya’/ 21: 25)
Allah telah menetapkan di
antara hamba-hambanya yang dijadikan sebagai Rasul, ketetapan ini dituangkan di
dalam Al-Quran Surat Ash-Shaffat/ 37: 171;
وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا
لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ
Artinya: Dan
sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul,
(QS. Ash-Shaffat/ 37: 171)
Para Rasul meskipun
ditugaskan pada zaman dan umat yang berbeda, tetapi seluruh memiliki kesamaan
risalah yang harus disampaikan, yaitu memerintahkan untuk hanya menyembah
Allah, karena tidak ada Tuhan selain Allah dan memerintahkan untuk bertakwa,
sebagaimana dimuat di dalam Al-Quran surat Al-Mu'minun/ 23: 32, Fushshilat/ 41:
14, Az-Zukhruf/ 43: 45 dan Al-Anbiya'/
21: 25 berikut;
فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ
أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Artinya: Lalu
Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang
berkata): "Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan
selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya). (QS.
Al-Mu'minun/ 23: 32)
إِذْ جَاءَتْهُمُ الرُّسُلُ مِنْ بَيْنِ
أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ قَالُوا لَوْ
شَاءَ رَبُّنَا لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً فَإِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ
كَافِرُونَ
Artinya: Ketika
para rasul datang kepada mereka dari depan dan belakang mereka (dengan
menyerukan): "Janganlah kamu menyembah selain Allah". Mereka
menjawab: "Kalau Tuhan kami menghendaki tentu Dia akan menurunkan
malaikat-malaikat-Nya, maka sesungguhnya kami kafir kepada wahyu yang kamu
diutus membawanya". (QS. Fushshilat/ 41: 14)
وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ
مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ
Artinya: Dan
tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu:
"Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha
Pemurah?" (QS. Az-Zukhruf/ 43: 45)
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ
رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
Artinya: Dan
Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan
kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka
sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. Al-Anbiya'/ 21: 25)
Berikut beberapa Rasul yang
diutus Allah untuk menyampaikan risalah tersebut, yang disebutkan di dalam
Al-Quran, antara lain;
Nabi Nuh melaksanakan tugasnya dengan memerintahkan
kepada kaumnya Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu
selain-Nya, apakah kamu tidak bertakwa, sebagaimana dimuat di dalam Al-Quran
surat Al-Mu'minun/ 23: 23, Al-A'raf/ 7:
59
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى
قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
أَفَلَا تَتَّقُونَ
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata:
"Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada
Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?"
(QS. Al-Mu'minun/ 23: 23)
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ
فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي
أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Artinya:
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata:
"Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu
selain-Nya". Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut
kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). (QS. Al-A'raf/ 7: 59)
Nabi Hud melaksanakan tugasnya dengan memerintahkan
kepada kaumnya Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu
selain-Nya, apakah kamu tidak bertakwa, sebagaimana dimuat di dalam Al-Quran
surat Al-A'raf/ 7: 65 dan surat Hud/ 11: 50;
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا
قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Artinya:
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata:
"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain
dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?" (QS. Al-A'raf/
7: 65)
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا
قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا
مُفْتَرُونَ
Artinya:
Dan kepada kaum 'Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: "Hai
kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu
hanyalah mengada-adakan saja. (QS. Hud/ 11: 50)
Nabi Shaleh melaksanakan tugasnya dengan memerintahkan
kepada kaumnya Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu
selain-Nya, sebagaimana dimuat di dalam Al-Quran surat Al-A'raf/ 7: 73, Hud/
11: 61 dan surat An-Naml/ 27: 45;
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ
يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ
بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا
تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ
أَلِيمٌ
Artinya:
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia
berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu
selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu.
Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi
Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang
karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih". (QS. Al-A'raf/ 7:
73)
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ
يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ
مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ
إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ
Artinya:
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata:
"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain
Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu
pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya,
Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa
hamba-Nya)". (QS. Hud/ 11: 61)
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ
أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka
Shaleh (yang berseru): "Sembahlah Allah". Tetapi tiba-tiba mereka
(jadi) dua golongan yang bermusuhan. (QS. An-Naml/ 27: 45)
Nabi Ibrahim AS juga menjalankan tugasnya untuk
memerintahkan kepada kaumnya untuk menyembah Allah dan bertakwa, disebutkan di
dalam Al-Quran surat Al-'Ankabut/ 29: 16;
وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ
اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya:
Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: "Sembahlah
olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik
bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. Al-'Ankabut/ 29: 16)
Millah Ibrahim adalah lurus, benar dan tidak mensekutakan
Allah, gambaran ini dimuat di dalam Al-Quran surat Al-An'am/ 6: 161,
Ali-'Imran/ 3: 95, An-Nisa'/ 4: 125 dan surat An-Nahl/ 16: 120;
قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى
صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ
مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Artinya:
Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan
yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu
bukanlah termasuk orang-orang musyrik". (QS. Al-An'am/ 6: 161)
قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ
إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Artinya:
Katakanlah: "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah". Maka ikutilah
agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.
(QS. Ali-'Imran/ 3: 95)
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ
وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
Artinya:
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas
menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia
mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi
kesayangan-Nya. (QS. An-Nisa'/ 4: 125)
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً
قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Artinya:
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi
patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang
yang mempersekutukan (Tuhan), (QS. An-Nahl/ 16: 120)
1.3.5.
Nabi
Ibrahim, Ya’qub, Ismail Dan Ishaq
Al-Quran surat Yusuf/ 12: 38 menyebutkan bahwa Tiadalah
patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah;
وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي
إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ
مِنْ شَيْءٍ ذَلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ
أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ
Artinya:
Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya'qub.
Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan
Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada
manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya).
(QS. Yusuf/ 12: 38)
Sedangkan di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah/ 2: 133,
ketika menjelang wafatnya menanyakan kepada anak-anaknya apa yang akan disembah
sepeninggalnya, mereka menjawab Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek
moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa;
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ
يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا
نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ
إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Artinya:
Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia
berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?"
Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu,
Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk
patuh kepada-Nya". (QS. Al-Baqarah/ 2: 133)
Nabi Syu’aib melaksanakan tugasnya dengan memerintahkan
kepada kaumnya Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu
selain-Nya, sebagaimana dimuat di dalam Al-Quran surat Al-A'raf/ 7: 85, Hud/
11: 84 dan Al-'Ankabut/ 29: 36;
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا
قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ
جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا
تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ
إِصْلَاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Artinya:
Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu'aib.
Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan
bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari
Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan
bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat
kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih
baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman".
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا
قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ وَلَا
تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي
أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ
Artinya:
Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Ia
berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu
selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku
melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir
terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)". (QS. Hud/ 11:
84)
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا
فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَارْجُوا الْيَوْمَ الْآخِرَ وَلَا
تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
Artinya:
Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan, saudara mereka Syu'aib,
maka ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala)
hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan". (QS.
Al-'Ankabut/ 29: 36)
Di dalam Al-Quran surat At-Taubah/ 9: 31 tergambar bahwa
Nabi Isa hanya menyuruh untuk menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) selain Dia;
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ
أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا
لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا
يُشْرِكُونَ
Artinya:
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan
selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal
mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
(QS. At-Taubah/ 9: 31)
[1] Abu Abdullah Muhammad Ibn Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
Sulthaniyah, Mesir, 1311 H, Jilid 4, Halaman 29, Hadits nomor 2856.
[2] Abu Abdullah Muhammad Ibn Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
Sulthaniyah, Mesir, 1311 H, Jilid 1, Halaman 163, Hadits nomor 806.
[3] Abu Abdullah Muhammad Ibn Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
Sulthaniyah, Mesir, 1311 H, Jilid 2, Halaman 44, Hadits nomor 4581.
[4] Abd Al-Rahman ibn Al-Fadl ibn Bahram ibn Abd Al-Shamad Al-Darimi, Sunan
Al-Darimi, Dar Al-Mughni Li Nasyr Wa Al-Tauzi’, Saudi Arabia, 2000, Jilid
3, Halaman 1848, Hadits nomor 2845.