25/09/2026

1. Hikmah Ibadah

 1.  Hikmah Ibadah

Berikut ini akan dikemukakan beberapa ayat Al-Quran maupun Hadits yang menggambarkan hikmah dari ibadah;

 

1.1.            Hak Allah Atas Hamba-Nya Adalah Mereka Beribadah Kepada-Nya Dan Tidak Mempersekutukan-Nya Dengan Sesuatu Apa Pun

Di dalam kitab Shahih Bukhari Hadits nomor 2856 ditegaskan bahwa Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun;

 حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ سَمِعَ يَحْيَى بْنَ آدَمَ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ عَنْ مُعَاذٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ فَقَالَ يَا مُعَاذُ هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ قَالَ لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا [1]

Artinya: "Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepadaku; ia berkata: Yahya bin Adam mendengarnya dan menceritakannya kepada kami; Abu al-Ahwash telah menceritakan kepada kami dari Abu Ishaq dari ‘Amr bin Maimun dari Mu‘adz   radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Aku pernah membonceng Nabi ﷺ di atas seekor keledai yang bernama ‘Ufayr. Lalu beliau bersabda: ‘Wahai Mu‘adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah?’ Aku menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda: ‘Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun; dan hak hamba atas Allah adalah bahwa Dia tidak akan mengazab orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.’ Maka aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada manusia?’ Beliau menjawab: ‘Jangan engkau beri kabar gembira kepada mereka, nanti mereka akan bersandar (lalu meninggalkan amal).’"

1.2.            Apa Yang Dahulu Disembah, Mereka Akan Mengikuti Yang Dia Sembah

Di dalam kitab Shahih Al-Bukhari Hadits nomor 806 dan 4581 disebutkan pernyataan Rasulullah Muhammad ﷺ: “Siapa yang dahulu menyembah sesuatu, hendaklah mengikuti sembahannya.”;

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَعَطَاءُ بْنُ يَزِيدَ اللَّيْثِيُّ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ أَخْبَرَهُمَا أَنَّ النَّاسَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ هَلْ تُمَارُونَ فِي الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَيْسَ دُونَهُ سَحَابٌ قَالُوا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَهَلْ تُمَارُونَ فِي الشَّمْسِ لَيْسَ دُونَهَا سَحَابٌ قَالُوا لَا قَالَ فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ كَذَلِكَ يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ شَيْئًا فَلْيَتَّبِعْ فَمِنْهُمْ مَنْ يَتَّبِعُ الشَّمْسَ وَمِنْهُمْ مَنْ يَتَّبِعُ الْقَمَرَ وَمِنْهُمْ مَنْ يَتَّبِعُ الطَّوَاغِيتَ وَتَبْقَى هَذِهِ الْأُمَّةُ فِيهَا مُنَافِقُوهَا فَيَأْتِيهِمْ اللَّهُ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ هَذَا مَكَانُنَا حَتَّى يَأْتِيَنَا رَبُّنَا فَإِذَا جَاءَ رَبُّنَا عَرَفْنَاهُ فَيَأْتِيهِمْ اللَّهُ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ أَنْتَ رَبُّنَا فَيَدْعُوهُمْ فَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ جَهَنَّمَ فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يَجُوزُ مِنْ الرُّسُلِ بِأُمَّتِهِ وَلَا يَتَكَلَّمُ يَوْمَئِذٍ أَحَدٌ إِلَّا الرُّسُلُ وَكَلَامُ الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ وَفِي جَهَنَّمَ كَلَالِيبُ مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ هَلْ رَأَيْتُمْ شَوْكَ السَّعْدَانِ قَالُوا نَعَمْ قَالَ فَإِنَّهَا مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ قَدْرَ عِظَمِهَا إِلَّا اللَّهُ تَخْطَفُ النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ فَمِنْهُمْ مَنْ يُوبَقُ بِعَمَلِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُخَرْدَلُ ثُمَّ يَنْجُو حَتَّى إِذَا أَرَادَ اللَّهُ رَحْمَةَ مَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَمَرَ اللَّهُ الْمَلَائِكَةَ أَنْ يُخْرِجُوا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَيُخْرِجُونَهُمْ وَيَعْرِفُونَهُمْ بِآثَارِ السُّجُودِ وَحَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُودِ فَيَخْرُجُونَ مِنْ النَّارِ فَكُلُّ ابْنِ آدَمَ تَأْكُلُهُ النَّارُ إِلَّا أَثَرَ السُّجُودِ فَيَخْرُجُونَ مِنْ النَّارِ قَدْ امْتَحَشُوا فَيُصَبُّ عَلَيْهِمْ مَاءُ الْحَيَاةِ فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ ثُمَّ يَفْرُغُ اللَّهُ مِنْ الْقَضَاءِ بَيْنَ الْعِبَادِ وَيَبْقَى رَجُلٌ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَهُوَ آخِرُ أَهْلِ النَّارِ دُخُولًا الْجَنَّةَ مُقْبِلٌ بِوَجْهِهِ قِبَلَ النَّارِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ اصْرِفْ وَجْهِي عَنْ النَّارِ قَدْ قَشَبَنِي رِيحُهَا وَأَحْرَقَنِي ذَكَاؤُهَا فَيَقُولُ هَلْ عَسَيْتَ إِنْ فُعِلَ ذَلِكَ بِكَ أَنْ تَسْأَلَ غَيْرَ ذَلِكَ فَيَقُولُ لَا وَعِزَّتِكَ فَيُعْطِي اللَّهَ مَا يَشَاءُ مِنْ عَهْدٍ وَمِيثَاقٍ فَيَصْرِفُ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ فَإِذَا أَقْبَلَ بِهِ عَلَى الْجَنَّةِ رَأَى بَهْجَتَهَا سَكَتَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَسْكُتَ ثُمَّ قَالَ يَا رَبِّ قَدِّمْنِي عِنْدَ بَابِ الْجَنَّةِ فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ أَلَيْسَ قَدْ أَعْطَيْتَ الْعُهُودَ وَالْمِيثَاقَ أَنْ لَا تَسْأَلَ غَيْرَ الَّذِي كُنْتَ سَأَلْتَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ لَا أَكُونُ أَشْقَى خَلْقِكَ فَيَقُولُ فَمَا عَسَيْتَ إِنْ أُعْطِيتَ ذَلِكَ أَنْ لَا تَسْأَلَ غَيْرَهُ فَيَقُولُ لَا وَعِزَّتِكَ لَا أَسْأَلُ غَيْرَ ذَلِكَ فَيُعْطِي رَبَّهُ مَا شَاءَ مِنْ عَهْدٍ وَمِيثَاقٍ فَيُقَدِّمُهُ إِلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَإِذَا بَلَغَ بَابَهَا فَرَأَى زَهْرَتَهَا وَمَا فِيهَا مِنْ النَّضْرَةِ وَالسُّرُورِ فَيَسْكُتُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَسْكُتَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَدْخِلْنِي الْجَنَّةَ فَيَقُولُ اللَّهُ وَيْحَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مَا أَغْدَرَكَ أَلَيْسَ قَدْ أَعْطَيْتَ الْعُهُودَ وَالْمِيثَاقَ أَنْ لَا تَسْأَلَ غَيْرَ الَّذِي أُعْطِيتَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ لَا تَجْعَلْنِي أَشْقَى خَلْقِكَ فَيَضْحَكُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْهُ ثُمَّ يَأْذَنُ لَهُ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ فَيَقُولُ تَمَنَّ فَيَتَمَنَّى حَتَّى إِذَا انْقَطَعَ أُمْنِيَّتُهُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا أَقْبَلَ يُذَكِّرُهُ رَبُّهُ حَتَّى إِذَا انْتَهَتْ بِهِ الْأَمَانِيُّ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لَكَ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ مَعَهُ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ لِأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللَّهُ لَكَ ذَلِكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ لَمْ أَحْفَظْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا قَوْلَهُ لَكَ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ مَعَهُ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ إِنِّي سَمِعْتُهُ يَقُولُ ذَلِكَ لَكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ [2]

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamān; ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Syu‘aib, dari az-Zuhrī; ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Sa‘īd bin al-Musayyab dan ‘Aṭā’ bin Yazīd al-Laytsī bahwa Abu Hurairah mengabarkan kepada keduanya bahwa orang-orang berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat?’ Beliau bersabda: ‘Apakah kalian ragu ketika melihat bulan pada malam purnama yang tidak tertutup awan?’ Mereka menjawab: ‘Tidak, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Apakah kalian ragu ketika melihat matahari yang tidak tertutup awan?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kalian akan melihat-Nya seperti itu. Manusia dikumpulkan pada hari kiamat, lalu dikatakan: Siapa yang dahulu menyembah sesuatu, hendaklah mengikuti sembahannya. Maka sebagian mereka mengikuti matahari, sebagian mengikuti bulan, dan sebagian mengikuti thaghut. Tinggallah umat ini, termasuk munafik-munafiknya. Lalu Allah datang kepada mereka dan berfirman: “Akulah Rabb kalian.” Mereka berkata: “Kami tetap di sini sampai Rabb kami datang; apabila Rabb kami datang, kami akan mengenali-Nya.” Lalu Allah datang kepada mereka dan berfirman: “Akulah Rabb kalian.” Mereka pun berkata: “Engkau adalah Rabb kami.” Maka Allah memanggil mereka, lalu dipasanglah shirath di atas punggung Jahanam. Maka akulah rasul pertama yang menyeberang bersama umatnya. Pada hari itu tidak ada yang berbicara kecuali para rasul, dan ucapan mereka saat itu hanyalah: ‘Ya Allah, selamatkan… selamatkan.’ Di dalam Jahanam terdapat kait-kait seperti duri pohon Sa‘dān—apakah kalian telah melihat duri Sa‘dān?’ Mereka menjawab: ‘Ya.’ Beliau bersabda: ‘Ia seperti duri Sa‘dān, tetapi tidak ada yang mengetahui besar ukurannya kecuali Allah. Kait-kait itu akan mencengkeram manusia sesuai amal mereka; ada yang binasa karena amalnya, dan ada yang tercabik lalu selamat. Hingga apabila Allah menghendaki rahmat bagi orang yang dikehendaki-Nya dari penduduk neraka, Allah memerintahkan para malaikat untuk mengeluarkan orang-orang yang dahulu hanya menyembah Allah. Mereka dikeluarkan dan dikenali melalui bekas sujud mereka; Allah mengharamkan api memakan bekas sujud. Mereka keluar dari neraka dalam keadaan hangus, lalu ditumpahkan kepada mereka air kehidupan, maka mereka tumbuh seperti biji yang tumbuh di tepi arus banjir. Setelah Allah selesai memutuskan perkara di antara hamba-hamba, tinggallah seorang laki-laki di antara surga dan neraka, yang merupakan orang terakhir dari penghuni neraka yang masuk surga. Ia menghadapkan wajahnya ke arah neraka lalu berkata: “Wahai Rabbku, palingkanlah wajahku dari neraka; sungguh hembusan anginnya telah merusakku dan panasnya telah membakarku.” Allah berfirman: “Apakah mungkin jika itu Aku lakukan, engkau akan meminta selain itu?” Ia menjawab: “Tidak, demi kemuliaan-Mu.” Maka ia memberikan janji dan kesepakatan kepada Allah. Maka Allah memalingkan wajahnya dari neraka. Ketika diarahkan kepada surga dan ia melihat keindahannya, ia terdiam selama Allah berkehendak ia diam, lalu berkata: “Wahai Rabbku, dekatkan aku ke pintu surga.” Allah berfirman: “Bukankah engkau telah memberikan janji untuk tidak meminta selain yang telah engkau minta?” Ia berkata: “Wahai Rabbku, jangan jadikan aku makhluk-Mu yang paling celaka.” Allah berfirman: “Apakah jika Aku dekatkan engkau, engkau tidak akan meminta selain itu?” Ia menjawab: “Tidak, demi kemuliaan-Mu.” Maka ia kembali memberikan janji dan kesepakatan kepada Allah. Lalu Allah mendekatkannya ke pintu surga. Ketika ia telah mencapai pintunya dan melihat keindahan serta kebahagiaan di dalamnya, ia kembali diam selama Allah berkehendak ia diam, lalu berkata: “Wahai Rabbku, masukkanlah aku ke dalam surga.” Allah berfirman: “Celakalah engkau wahai anak Adam, betapa ingkarnya engkau! Bukankah engkau telah berjanji untuk tidak meminta selain yang telah diberikan kepadamu?” Ia berkata: ‘Wahai Rabbku, jangan jadikan aku makhluk-Mu yang paling celaka.’ Maka Allah tertawa kepadanya, kemudian mengizinkannya masuk surga. Allah berfirman kepadanya: ‘Beranganlah!’ Lalu ia mulai berangan-angan, hingga ketika angan-angannya habis, Allah berfirman: ‘Bagimu ini dan semisalnya bersamanya.’ Abu Sa‘id al-Khudri berkata kepada Abu Hurairah: ‘Rasulullah ﷺ bersabda: Allah berfirman: “Bagimu itu dan sepuluh kali lipatnya.”’ Abu Hurairah berkata: ‘Aku hanya menghafal dari Rasulullah ﷺ sabdanya: “Bagimu itu dan semisalnya bersamanya.” Abu Sa‘id berkata: ‘Aku sungguh mendengar beliau bersabda: “Bagimu itu dan sepuluh kali lipatnya.”’”

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ حَفْصُ بْنُ مَيْسَرَةَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ أُنَاسًا فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ هَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ الشَّمْسِ بِالظَّهِيرَةِ ضَوْءٌ لَيْسَ فِيهَا سَحَابٌ قَالُوا لَا قَالَ وَهَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ضَوْءٌ لَيْسَ فِيهَا سَحَابٌ قَالُوا لَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تُضَارُونَ فِي رُؤْيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا كَمَا تُضَارُونَ فِي رُؤْيَةِ أَحَدِهِمَا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ تَتْبَعُ كُلُّ أُمَّةٍ مَا كَانَتْ تَعْبُدُ فَلَا يَبْقَى مَنْ كَانَ يَعْبُدُ غَيْرَ اللَّهِ مِنْ الْأَصْنَامِ وَالْأَنْصَابِ إِلَّا يَتَسَاقَطُونَ فِي النَّارِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ إِلَّا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ بَرٌّ أَوْ فَاجِرٌ وَغُبَّرَاتُ أَهْلِ الْكِتَابِ فَيُدْعَى الْيَهُودُ فَيُقَالُ لَهُمْ مَنْ كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ قَالُوا كُنَّا نَعْبُدُ عُزَيْرَ ابْنَ اللَّهِ فَيُقَالُ لَهُمْ كَذَبْتُمْ مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ صَاحِبَةٍ وَلَا وَلَدٍ فَمَاذَا تَبْغُونَ فَقَالُوا عَطِشْنَا رَبَّنَا فَاسْقِنَا فَيُشَارُ أَلَا تَرِدُونَ فَيُحْشَرُونَ إِلَى النَّارِ كَأَنَّهَا سَرَابٌ يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا فَيَتَسَاقَطُونَ فِي النَّارِ ثُمَّ يُدْعَى النَّصَارَى فَيُقَالُ لَهُمْ مَنْ كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ قَالُوا كُنَّا نَعْبُدُ الْمَسِيحَ ابْنَ اللَّهِ فَيُقَالُ لَهُمْ كَذَبْتُمْ مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ صَاحِبَةٍ وَلَا وَلَدٍ فَيُقَالُ لَهُمْ مَاذَا تَبْغُونَ فَكَذَلِكَ مِثْلَ الْأَوَّلِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ إِلَّا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ مِنْ بَرٍّ أَوْ فَاجِرٍ أَتَاهُمْ رَبُّ الْعَالَمِينَ فِي أَدْنَى صُورَةٍ مِنْ الَّتِي رَأَوْهُ فِيهَا فَيُقَالُ مَاذَا تَنْتَظِرُونَ تَتْبَعُ كُلُّ أُمَّةٍ مَا كَانَتْ تَعْبُدُ قَالُوا فَارَقْنَا النَّاسَ فِي الدُّنْيَا عَلَى أَفْقَرِ مَا كُنَّا إِلَيْهِمْ وَلَمْ نُصَاحِبْهُمْ وَنَحْنُ نَنْتَظِرُ رَبَّنَا الَّذِي كُنَّا نَعْبُدُ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ لَا نُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا [3]

Artinya: "Muhammad bin ‘Abd al-‘Aziz telah menceritakan kepadaku; Abu ‘Umar Hafsh bin Maysarah telah menceritakan kepada kami dari Zaid bin Aslam dari ‘Atha’ bin Yasar dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu, bahwa beberapa orang pada zaman Nabi ﷺ berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Tuhan kami pada hari kiamat?’ Maka Nabi ﷺ bersabda: ‘Ya. Apakah kalian merasa kesulitan melihat matahari pada siang hari ketika tidak ada awan?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Beliau bersabda: ‘Apakah kalian merasa kesulitan melihat bulan pada malam purnama ketika tidak ada awan?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Maka Nabi ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya kalian tidak akan mengalami kesulitan dalam melihat Allah ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat sebagaimana kalian tidak mengalami kesulitan dalam melihat salah satu dari keduanya.’ Apabila hari kiamat tiba, seorang penyeru akan menyeru: ‘Hendaklah setiap umat mengikuti apa yang dahulu mereka sembah.’ Maka tidak tersisa seorang pun yang dahulu menyembah selain Allah—baik berupa berhala maupun patung—kecuali mereka akan berjatuhan ke dalam neraka. Hingga tidak tersisa kecuali orang-orang yang dahulu menyembah Allah, baik yang taat maupun yang durhaka, serta sisa-sisa Ahli Kitab. Lalu orang-orang Yahudi dipanggil dan ditanya: ‘Apa yang dahulu kalian sembah?’ Mereka menjawab: ‘Kami dahulu menyembah ‘Uzair putra Allah.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Kalian berdusta, Allah tidak memiliki istri dan tidak pula anak. Lalu apa yang kalian inginkan?’ Mereka berkata: ‘Kami haus, wahai Tuhan kami, maka berilah kami minum.’ Maka ditunjukkan kepada mereka: ‘Tidakkah kalian ingin menuju ke sana?’ Lalu mereka digiring ke neraka yang tampak seperti fatamorgana yang saling menghancurkan, lalu mereka berjatuhan ke dalamnya. Kemudian orang-orang Nasrani dipanggil dan ditanya: ‘Apa yang dahulu kalian sembah?’ Mereka menjawab: ‘Kami dahulu menyembah al-Masih putra Allah.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Kalian berdusta, Allah tidak memiliki istri dan tidak pula anak.’ Lalu dikatakan kepada mereka: ‘Apa yang kalian inginkan?’ Maka mereka menjawab seperti yang pertama, hingga akhirnya tidak tersisa kecuali orang-orang yang dahulu menyembah Allah, baik yang taat maupun yang durhaka. Maka datanglah kepada mereka Rabb semesta alam dalam bentuk yang paling rendah dari yang pernah mereka lihat, lalu dikatakan: ‘Apa yang kalian tunggu? Setiap umat akan mengikuti apa yang dahulu mereka sembah.’ Mereka menjawab: ‘Kami telah berpisah dari manusia di dunia dalam keadaan sangat membutuhkan mereka, namun kami tidak mengikuti mereka, dan kami menunggu Tuhan kami yang dahulu kami sembah.’ Maka Allah berfirman: ‘Aku adalah Tuhan kalian.’ Mereka berkata: ‘Kami tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun,’ (ucapan itu diulang dua atau tiga kali)."

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ الْبَزَّازُ عَنْ يُونُسَ بْنِ بُكَيْرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ إِسْحَقَ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ يَسَارٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا جَمَعَ اللَّهُ الْعِبَادَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ نَادَى مُنَادٍ لِيَلْحَقْ كُلُّ قَوْمٍ بِمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ فَيَلْحَقُ كُلُّ قَوْمٍ بِمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ وَيَبْقَى النَّاسُ عَلَى حَالِهِمْ فَيَأْتِيهِمْ فَيَقُولُ مَا بَالُ النَّاسِ ذَهَبُوا وَأَنْتُمْ هَا هُنَا فَيَقُولُونَ نَنْتَظِرُ إِلَهَنَا فَيَقُولُ هَلْ تَعْرِفُونَهُ فَيَقُولُونَ إِذَا تَعَرَّفَ إِلَيْنَا عَرَفْنَاهُ فَيَكْشِفُ لَهُمْ عَنْ سَاقِهِ فَيَقَعُونَ سُجُودًا فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى { يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ } يَبْقَى كُلُّ مُنَافِقٍ فَلَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْجُدَ ثُمَّ يَقُودُهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ [4]

Artinya: "Muhammad bin Yazīd al-Bazzāz telah mengabarkan kepada kami dari Yunus bin Bukair; ia berkata: Ibnu Ishaq telah mengabarkan kepadaku; ia berkata: Sa‘id bin Yasar telah mengabarkan kepadaku; ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Apabila Allah mengumpulkan seluruh hamba di satu tempat yang luas, seorang penyeru akan menyeru: Hendaklah setiap kaum mengikuti apa yang dahulu mereka sembah.’ Maka setiap kaum pun akan mengikuti apa yang dahulu mereka sembah, dan orang-orang (yang beriman) tetap tinggal di tempat mereka. Lalu Allah mendatangi mereka dan berfirman: ‘Apa yang membuat manusia pergi sedangkan kalian tetap di sini?’ Mereka menjawab: ‘Kami sedang menunggu Tuhan kami.’ Allah berfirman: ‘Apakah kalian mengenal-Nya?’ Mereka menjawab: ‘Apabila Dia memperkenalkan diri kepada kami, kami pasti mengenal-Nya.’ Maka Allah menyingkapkan betis-Nya, lalu mereka pun tersungkur bersujud; itulah firman Allah Ta‘ala: “Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud tetapi mereka tidak mampu.” Maka setiap orang munafik pun tetap tinggal (tidak bisa sujud), kemudian Allah menggiring mereka menuju surga."

1.3.            Semua Rasul Mengajak Umatnya Untuk Hanya Menyembah Allah

Di dalam Al-Quran surat Al-Anbiya’/ 21: 25 menggambarkan bahwa semua Rasul diwahyukan: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku";

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ ﴿الأنبياء: ٢٥﴾  

Artinya: Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. Al-Anbiya’/ 21: 25)

Allah telah menetapkan di antara hamba-hambanya yang dijadikan sebagai Rasul, ketetapan ini dituangkan di dalam Al-Quran Surat Ash-Shaffat/ 37: 171;

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ

Artinya: Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (QS. Ash-Shaffat/ 37: 171)

Para Rasul meskipun ditugaskan pada zaman dan umat yang berbeda, tetapi seluruh memiliki kesamaan risalah yang harus disampaikan, yaitu memerintahkan untuk hanya menyembah Allah, karena tidak ada Tuhan selain Allah dan memerintahkan untuk bertakwa, sebagaimana dimuat di dalam Al-Quran surat Al-Mu'minun/ 23: 32, Fushshilat/ 41: 14, Az-Zukhruf/ 43: 45  dan Al-Anbiya'/ 21: 25 berikut;

فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Artinya: Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): "Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya). (QS. Al-Mu'minun/ 23: 32)

إِذْ جَاءَتْهُمُ الرُّسُلُ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ قَالُوا لَوْ شَاءَ رَبُّنَا لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً فَإِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

Artinya: Ketika para rasul datang kepada mereka dari depan dan belakang mereka (dengan menyerukan): "Janganlah kamu menyembah selain Allah". Mereka menjawab: "Kalau Tuhan kami menghendaki tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikat-Nya, maka sesungguhnya kami kafir kepada wahyu yang kamu diutus membawanya". (QS. Fushshilat/ 41: 14)

وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ

Artinya: Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: "Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?" (QS. Az-Zukhruf/ 43: 45)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Artinya: Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. Al-Anbiya'/ 21: 25)

Berikut beberapa Rasul yang diutus Allah untuk menyampaikan risalah tersebut, yang disebutkan di dalam Al-Quran, antara lain;

1.3.1.              Nabi Nuh

Nabi Nuh melaksanakan tugasnya dengan memerintahkan kepada kaumnya Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya, apakah kamu tidak bertakwa, sebagaimana dimuat di dalam Al-Quran surat Al-Mu'minun/ 23: 23,  Al-A'raf/ 7: 59

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?" (QS. Al-Mu'minun/ 23: 23)

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya". Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). (QS. Al-A'raf/ 7: 59)

1.3.2.              Nabi Hud

Nabi Hud melaksanakan tugasnya dengan memerintahkan kepada kaumnya Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya, apakah kamu tidak bertakwa, sebagaimana dimuat di dalam Al-Quran surat Al-A'raf/ 7: 65 dan surat Hud/ 11: 50;

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Artinya: Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?" (QS. Al-A'raf/ 7: 65)

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا مُفْتَرُونَ

Artinya: Dan kepada kaum 'Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja. (QS. Hud/ 11: 50)

1.3.3.              Nabi Shaleh

Nabi Shaleh melaksanakan tugasnya dengan memerintahkan kepada kaumnya Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya, sebagaimana dimuat di dalam Al-Quran surat Al-A'raf/ 7: 73, Hud/ 11: 61 dan surat An-Naml/ 27: 45;

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya: Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih". (QS. Al-A'raf/ 7: 73)

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

Artinya: Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)". (QS. Hud/ 11: 61)

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (yang berseru): "Sembahlah Allah". Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) dua golongan yang bermusuhan. (QS. An-Naml/ 27: 45)

1.3.4.              Nabi Ibrahim

Nabi Ibrahim AS juga menjalankan tugasnya untuk memerintahkan kepada kaumnya untuk menyembah Allah dan bertakwa, disebutkan di dalam Al-Quran surat Al-'Ankabut/ 29: 16;

وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: "Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. Al-'Ankabut/ 29: 16)

Millah Ibrahim adalah lurus, benar dan tidak mensekutakan Allah, gambaran ini dimuat di dalam Al-Quran surat Al-An'am/ 6: 161, Ali-'Imran/ 3: 95, An-Nisa'/ 4: 125 dan surat An-Nahl/ 16: 120;

قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik". (QS. Al-An'am/ 6: 161)

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Artinya: Katakanlah: "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah". Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Ali-'Imran/ 3: 95)

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Artinya: Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. (QS. An-Nisa'/ 4: 125)

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Artinya: Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (QS. An-Nahl/ 16: 120)

1.3.5.              Nabi Ibrahim, Ya’qub, Ismail Dan Ishaq

Al-Quran surat Yusuf/ 12: 38 menyebutkan bahwa Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah;

وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ذَلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

Artinya: Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya'qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya). (QS. Yusuf/ 12: 38)

Sedangkan di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah/ 2: 133, ketika menjelang wafatnya menanyakan kepada anak-anaknya apa yang akan disembah sepeninggalnya, mereka menjawab Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa;

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Artinya: Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS. Al-Baqarah/ 2: 133)

1.3.6.              Nabi Syu’aib

Nabi Syu’aib melaksanakan tugasnya dengan memerintahkan kepada kaumnya Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya, sebagaimana dimuat di dalam Al-Quran surat Al-A'raf/ 7: 85, Hud/ 11: 84 dan Al-'Ankabut/ 29: 36;

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya: Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman".

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ

Artinya: Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)". (QS. Hud/ 11: 84)

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَارْجُوا الْيَوْمَ الْآخِرَ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

Artinya: Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan, saudara mereka Syu'aib, maka ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan". (QS. Al-'Ankabut/ 29: 36)

1.3.7.              Nabi Isa Ibnu Maryam

Di dalam Al-Quran surat At-Taubah/ 9: 31 tergambar bahwa Nabi Isa hanya menyuruh untuk menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia;

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Artinya: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah/ 9: 31)



[1] Abu Abdullah Muhammad Ibn Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Sulthaniyah, Mesir, 1311 H, Jilid 4, Halaman 29, Hadits nomor 2856.

[2] Abu Abdullah Muhammad Ibn Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Sulthaniyah, Mesir, 1311 H, Jilid 1, Halaman 163, Hadits nomor 806.

[3] Abu Abdullah Muhammad Ibn Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Sulthaniyah, Mesir, 1311 H, Jilid 2, Halaman 44, Hadits nomor 4581.

[4] Abd Al-Rahman ibn Al-Fadl ibn Bahram ibn Abd Al-Shamad Al-Darimi, Sunan Al-Darimi, Dar Al-Mughni Li Nasyr Wa Al-Tauzi’, Saudi Arabia, 2000, Jilid 3, Halaman 1848, Hadits nomor 2845.

24/09/2026

Ibadah

Ibadah

Secara bahasa kata ibadah berasal dari kata dasar abada-ya’budu-ibadatan, yang artinya beribadah, menyembah, mengabdi, memuja, tunduk, patuh, merendahkan diri, dan menjadi hamba. [1] Adapun pengertian secara istilah adalah:

الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرْضَاهُ مِنَ الأَقْوَالِ وَالأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ

Artinya: Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang batin (tersembunyi) maupun yang lahir (nampak).[2]

Pada dasarnya tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah; mengabdi kepada Allah, sebagaimana diketahui dari dalam Al Quran surat Adz-Dzariyat/ 51: 56 yang menegaskan bahwa tidaklah jin dan manusia diciptakan kecuali untuk mengabdi kepada Allah;

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat/ 51: 56)

Demikian juga di dalam Al Quran surat Al-Bayyinah/ 98: 5 juga ditegaskan bahwa manusia tidaklah disuruh kecuali mengabdi/ menyembah Allah;

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah/ 98: 5)

Sedangkan tujuan dari menyembah; mengabdi kepada Allah disebutkan di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 21 yaitu agar bertakwa;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, (QS. Al-Baqarah/ 2: 21)

Salah satu bentuk pengabdian manusia kepada Allah adalah berpuasa, sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 183, tujuan perintah berpuasa adalah agar bertakwa;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al-Baqarah/ 2: 183)

Di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 187 diberikan gambaran tentang batasan berpuasa, dengan tujuan agar bertakwa;

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Artinya: Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

Di dalam dua ayat Al-Quran berikut; surat Nuh/ 71: 3 dan Al-'Ankabut/ 29: 16 disebutkan perintah untuk menyembah Allah dan bertakwa;

أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ

Artinya: (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, (QS. Nuh/ 71: 3)

وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: "Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. Al-'Ankabut/ 29: 16)

Perintah menyembah Allah diikuti perintah untuk bertakwa kepada Allah menunjukkan pelaksanaannya berupa sebuah perbuatan yaitu menyembah Allah yang dilakukan atas dasar ketakwaan kepada Allah.

Perintah ini juga diperkuat dengan tiga ayat Al-Quran berikut; surat Al-A'raf/ 7: 65, Al-Mu'minun/ 23: 23 dan 32 yang menegaskan perintah untuk menyembah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia yang diikuti dengan pertanyaan mengapa kamu tidak bertakwa kepada Allah ;

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Artinya: Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?" (QS. Al-A'raf/ 7: 65)

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?" (QS. Al-Mu'minun/ 23: 23)

فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Artinya: Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): "Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya). (QS. Al-Mu'minun/ 23: 32)

Adanya pertanyaan mengapakan kamu tidak bertakwa kepada Allah tersebut juga memberikan gambaran bahwa ada di antara manusia yang secara lahiriyah tampak menyembah Allah, tetapi perbuatannya dilakukan bukan atas dasar ketakwaan kepada Allah, bisa jadi dilakukan karena ria’, takabur atau kemunafikan.

Upaya Allah agar hambanya mau mengabdi dan bertakwa kepadanya dengan cara mempertakutinya, sebagaimana dimuat di dalam Al-Quran surat Az-Zumar/ 39: 16;

لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ذَلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ

Artinya: Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku. (QS. Az-Zumar/ 39: 16)

Rasa takut kepada sesuatu dapat menyebabkan seorang hamba mengingat Allah, sehingga tumbuh keinginan untuk mengharapkan perlindungan dan pertolongan dari Allah, hal tersebut merupakan bagian bentuk ketakwaan kepada Allah yang diharapkan Allah.

Untuk dapat memberikan gambaran menyeluruh tentang ibadah, maka di sini akan dikemukakan pembahasan berdasar kajian mendalam terhadap kata dasar abada yang terdapat di dalam  ayat-ayat Al-Quran, berdasar pencarian menggunakan aplikasi Zekr 1.1.0 yakni ditemukan sejumlah 275 kata di 251 ayat.

Kajian terhadap ayat-ayat yang di dalamnya terdapat kata abada pembahasannya akan dikemukakan dalam sub bab berikut;

1. Hikmah Ibadah

2. Keistimewaan Orang Yang Menyembah Allah  

3. Adab Beribadah

4. Tingkatan Ibadah

5. Risalah Rasul Dan Nabi

6. Keistimewaan Orang Yang Menyembah Allah

7. Bentuk Amal Ibdah

Pembahasannya adalah sebagai berikut;



[1] https://www.almaany.com/id/dict/ar-id/عبد/

[2] Ibn Taymiyyah, Taqiyuddin Ahmad bin 'Abd al-Halim. Al-'Ubudiyyah. Tahqiq: Muhammad Zuhri Al-Shawish. Beirut: Al-Maktab al-Islami, 1426 H / 2005 M, hlm. 44.

23/09/2026

5. Tazkiyah Al-Nafs Menurut Para Ulama’, Tasawuf Dan Tokoh

 5.  Tazkiyah Al-Nafs Menurut Para Ulama’, Tasawuf Dan Tokoh

Di sini akan dikemukakan secara singkat beberapa cara Tazkiyah Al-Nafs yang telah diformulasikan menjadi sebuah metode, antara lain;

5.1.            Tazkiyah Al-Nafs Imam Al Ghazali

Tazkiyah Al-Nafs menurut Imam Al Ghazali adalah usaha seseorang agar dapat meleraikan dan melumpuhkan penyakit-penyakit jiwa serta membersihkan dirinya dari sifat-sifat buruk ataupun sifat-sifat yang tercela sehingga hatinya dapat dibebaskan dari sesuatu yang tidak baik. Tazkiyah Al-Nafs sangat erat kaitannya dengan Qalb/Jantung (Hati) karena dengan hati yang bersih maka seseorang dapat mengenal Tuhannya. Ketenangan batin hanya dapat dirasakan bagi orang-orang yang senantiasa dalam hatinya terus mengingat Allah.[1]

Tazkiyah Al-Nafs dapat dilakukan melalui proses mujahadah an nafs (takhalli) kemudian menghiasinya dengan riyadah an nafs (tahalli) yang memerlukan kesabaran yang gigih dan akhirnya akan menemukan penampakan diri Tuhan (Tajalli),[2] dengan penjelasan rinci sebagai berikut:

Takhalli : adalah metode pengosongan diri dari bekasan kedurhakaan dan pengingkaran dosa terhadap Allah SWT dengan jalan taubat secara sungguh-sungguh/ taubatan nasuha. Tahalli sebagai tahap dalam mengurus hati, yaitu usaha untuk membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, salah satu dari akhlaq tercela yang paling banyak menyebabkan hati tidak bersih  antara lain adalah kecintaan yang berlebihan kepada urusan duniawi. Hendaknya terbebas dari kecintaan terhdap duni, anak, istri, harta dam segala keinginan yang berbau duniawi.[3]

Beberapa sifat yang perlu dibersihkan Ketika seorang salik ingin mempraktekkan tingkatan takhalli, yakni; 1. Hasad: iri, dengki 2. Hiqd: benci, mendengus 3. Su’udzan: buruk sangka 4. Takabur: sombong, pongah 5. Ujub: berbangga diri 6. Riya: Pamer 7. Sum’ah: mencari kemashuran 8. Bakhil: kikir 9. Hub al Mal: materialistis 10. Tafakhur: bersaing dalam kebanggaan diri 11. Ghadab: amarah 12. Namimah: menyebar fitnah 13. Kidzib: Bohong 14. Khianat: tidak jujur, tidak amanah 15. Ghibah: membeicarakan kejelekan orang lain.[4]

Tahalli : adalah upaya pengisian hati yang telah dikosongkan denga nisi yang lain, yaitu Allah. Pada tahap ini, hati harus disibukkan dengan dzikir (mengingat Allah), dengan mengingat Allah, melepas selain-Nya, akan akan mendatangkan kedamaian. Tidak ada yang ditakutkan selain lepasnya Allah dari dari dalam hatinya. Hilangnya dunia, bagi hati yang telah tahalli, tidak akan mengecewakan. Untuk melakukan tahalli langkahnya adalah membeina pribadi agar memiliki akhlaqul karimah dan selalu konsisten dengan Langkah yang dirintis sebelumnya dalam takhalli, yang pada gilirannya akan menghasilkan manusia yang sempurna.[5]

Pada saat tahalli, lantaran kesibukan dengan mengingat dan berdzikir kepada Allah dalam hatinya, anggota tubuh lainnya tergerak dengan sendirinya ikut bersenandung dzikir,. Lidahnya basah lafadz kebesaran Allah yang tidak henti-hentinya didengungkan setiap saat. Tangannya berdzikir untuk kebesaran tuhannya dalam berbuat. Begitu pula mata, kaki, dan anggota tubuh lainnya.[6]

Pada tahap ini hati akan merasakan adanya ketenangan, kegelisahnnya bukan pada dunia yang menipu. Kesedihannya bukan kepada anak istri yang tidak akan menyertai kita maut menjemput. Kepedihannya bukan pada syahwat badani yang seringkali memerosokkan pada nafsu kebinatangan. Tetapi hanya kepada Allah hatinya sedih jika tidak mengingat Allah dalam setiap desahan nafas.[7]

Akhlaqul mahmudah yang harus dibiasakan agar dapat menyinari hati antara lain: 1. Taubat: menyesali dari perbuatan tercela 2. Khauf/taqwa: perasaan takutkepada Allah 3. Ikhlas: niat dan amal yang tulus dan suci 4. Syukur: rasa terimakasih atas segala nikmat 5. Zuhud: hidup sederhana, apa adanya 6. Sabar: tahan dari segala kesukaran 7. Ridha: rela dalam menerima taqdir Allah 8. Tawakkal; berserah diri kepada Allah 9. Mahabbah: perasaan cinta hanya kepada Allah 10. Dzikrul Maut: selalu mengingat mati.[8]

Tajalli : adalah kelahiran atau munculnya eksistensi baru manusia, yaitu perbuatan, ucapan, sikap dan gerak gerik yang baru, martabat dan status yang baru, sifat-sifat dan karakter yang baru dan esensi diri yang baru. Tajalli adalah tahapan dimana kebahagiaan sejati telah dating, ia lenyap dalam jalla jalaluh Allah Subhanahu wata’ala. Ia lebur Bersama Allah dalam kenikmatan yang tidak bisa dilukiskan. Ia Bahagia dalam keridhaan-Nya. Di tahap ini para sufi menyebutnya sebagai Ma’rifah.[9]

5.2.            Tazkiyah Al-Nafs Ibnu Qayim Al Jauziyah

Ilmu : merupakan jalan menuju surga. Seperti perkataan seorang salaf (Orang-orang shalih terdahulu), yaitu: “Setiap orang yang menuntut ilmu maka dia akan ditolong”. Kata tersebut bisa bermakna jalan menuju surga pada hari kiamat, yaitu shirat, termasuk apa apa yang terjadi sebelumnya dan apa-apa yang terjadi sesudahnya. Ilmu adalah hakim (penentu) yang membedakan antara keraguan dan keyakinan, antara jalan simpang dan jalan lurus, dan antara hidayah dan kesesatan. Ilmu akan menjadi penerang bagi pemiliknya, karena ilmu merupakan sarana untuk menundukkan nafsu yang berkobar-kobar ketika melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu di dalam getaran hati. [10]

Tadzakkur : adalah bentuk kata tafa’ul dari kata dzikr dan ia adalah kebalikan dari kata nisyan, yakni menghadirkan gambaran sesuatu yang diingat berdasarkan pengetahuan yang di dalam hati. Dan dipilihlah untuknya bentuk tafa’ul karena ia diperoleh setelah diupayakan dengan perlahan-lahan dan bertahap, sabagaimana halnya kata tabshirah, tafahhum dan ta’allum. [11]

Riyadhah : merupakan salah satu wujud dari beberapa kedudukan muslim yang mengabdikan diri untuk beribadah hanya kepada Allah. Ibnu Qayyim al Jauziyah menafsirkan kalimat:

 الرياضة هي تمرين النفس على الصدق و الإخلاص [12]

“ Riyadhah adalah melatih jiwa untuk bersikap jujur dan ikhlas.”

Dalam tradisi tasawuf, riyāḍah al-nafs berarti latihan spiritual untuk menundukkan hawa nafsu melalui pembiasaan amal-amal kebaikan. Istilah riyāḍah diambil dari akar kata راض – يروض yang bermakna “melatih hewan sampai jinak”. Para sufi menggunakan kata ini sebagai metafora bahwa jiwa manusia perlu dijinakkan dari kecenderungan buruknya.

Latihan ini tidak sekadar berkaitan dengan ibadah fisik, tetapi lebih mendalam: pembentukan kualitas batin seperti kejujuran (ṣidq) dan keikhlasan (ikhlāṣ). ṣidq adalah Kesesuaian antara ucapan, niat, dan perbuatan, Keteguhan hati dalam menjalani kebenaran dan Tidak berpura-pura di hadapan Allah maupun manusia, sedangkan al-Ikhlāṣ Keikhlasan adalah kondisi ketika seorang hamba: Beramal hanya karena Allah, Tidak mengharapkan pujian makhluk dan Tidak tergoda oleh riya’, sum’ah, atau motif duniawi, ikhlas adalah puncak dari riyāḍah, sebab keikhlasan tidak hadir tanpa pembiasaan panjang dalam mengendalikan ego dan hawa nafsu.

5.3.            Tazkiyah Al-Nafs Ibnu Taimiyah

Amar Ma’ruf - Nahi Mungkar , amar ma’ruf : memerintahkan untuk berbuat kebaikan, pijakan dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah Kasih sayang. Oleh karena itu, Hendaklah amar ma’ruf yang engkau jalankan dengan cara yang ma‟ruf pula, dan engkau mencegah kemungkaran bukan dengan kemungkaran. Apabila amar ma‟ruf dan nahi mungkar merupakan kewajiban atau hal sunnah yang paling agung, maka kewajiban dan hal yang disunnakan tersebut maslahatnya harus lebih besar daripada mudhratnya, karena dengan inilah para rasul diutus, dan kitab-kitab diturunkan. Allah tidak menyukai kerusakan, tetapi semua yang diperintahkan oleh Allah pastilah mengandung kebaikan.

Tiga perkara ini harus dimilki bagi orang-orang yang menyeru kepada yang ma‟ruf dan mencegah yang mungkar, yaitu ilmu, kasih sayang dan sabar. Sebelum melakukan amar ma‟ruf nahi mungkar haruslah memiliki ilmu, dan ketika melaksanaknya harus disertai dengan kasih sayang dan setelah melakukannya dibutuhkan kesabaran. Ketiga hal ini harus selalu sejalan dalam segala kondisi.

At-Tadzkir : Memberi Peringatan, Allah mengkhususkan dzikir, pemberian peringatan dan semisalnya, untuk orang –orang yang beriman. Mereka dikhususkan dengan kesempurnaan yang bermanfaat yang membuat mereka bahagia, dimana pula Allah membuat secara umum, semua terlibat di dalam peringatan yang telah ditegakan hujjah atas makhluk-Nya, apakah mereka menerima atau tidak.

إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ ۖ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ

Artinya: Sesungguhnya kamu Hanya memberi peringatan kepada orangorang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. (Q.S. Yasin: 11)

At-Tadzakkur - Al-Khasyyah: Mengingat dan merasa takut kepada Allah, keterkaitan antara tadzakkur dan khasyah adalah bahwa Mengingat dapat menimbulkan perasaan takut sehingga seseorang akan mengingat Allah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Qatadah, “Demi Allah, tidaklah seorang hamba takut kepada Allah kecuali ia mengingat-Nya.” Ini adalah suatu kebenaran karena orang yang yang diberi peringatan boleh jadi ia orang yang ingat apa yang mengajaknya kepada kasih syang, nikmat dan ganjaran sebagaimana ingtanya seseorang dengan apa-apa yang ia minta kemudian ia bertaubat. Atau boleh jadi ia mengingat sesuatu yang mendorongnya merasa takut dan khawatir, ia harus bertaubat ketika itu juga untuk menghindari  sesuatu yang ia khawatirkan. Oleh sebab itu, dikatakan kepada Fir‟aun, agar ia mengingat kemudian bertaubat atau kemudian ia merasa takut. Musa berkata kepada Fir‟aun dalam surah An-Naazi‟aat

فَقُلۡ هَلۡ لَّكَ اِلٰٓى اَنۡ تَزَكّٰى ۙ‏ , وَاَهۡدِيَكَ اِلٰى رَبِّكَ فَتَخۡشٰى

Artinya: Dan Katakanlah (kepada Fir'aun): "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)" Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?" (Q.S. An-Naazi‟aat: 18-19)

5.4.            Tazkiyah Al-Nafs Dalam Tasawuf

Dalam ilmu Tasawuf tazkiyath al-nafs sudah tersusun secara terstruktur dalam bentuk mujahadah menapaki maqamat tasawuf, namun tidak ada kesamaan antara satu imam tasawuf dengan lainnya dalam susnan maqamatnya, karena para imam dalam menyusun maqamat didasari pengalaman ruhaninya masing-masing.

5.5.            Tazkiyah Al-Nafs Modern

Pembersihan jiwa dengan cara modern, cirinya adalah penggunaan alat untuk mempermudah mencapai tujuan. Seiring dengan perkembangan dunia fisika Quantum, dan Neuro sains, maka dibuat alat-alat yang dapat mengukur vibrasi otak maupun jantung, hasilnya dapat digunakan untuk berbagai keperluan ilmu pengetahuan lainya; Kedokteran, Kesehatan, Psikologi bahkan untuk keperluan spiritual.

Metode Tazkiyah Al-Nafs modern di Indonesia dipelopori Ari Ginanjar Agustian dengan Metode ESQ Way 165 yaitu penanaman nilai Ihsan, Rukun Iman dan Rukun Islam, Adapun penerapannya dalam bentuk penjernihan jiwa, pembangunan mental, ketangguhan pribadi dan ketangguhan sosial, dalam penyusunan metode belum menggunakan teknologi Fibrasi, Quantum, maupun neuro sains, sedangkan dalam pelaksanaan pelatihan sudah menggunakan teknologi IT dan Audivisual.

Tahapan penerapan  ESQ  Way  165  antara  lain: penjernihan emosi, pembangunan mental, ketangguhan  pribadi,  dan  ketangguhan sosial. metode ESQ  Way 165 tersebut  antara lain nilai-nilai  ihsan, rukun  iman  dan  rukun  Islam. 

Erbe Sentanu melalui Kata Hati Institute, dengan bukunya Quantum Ikhlas mengembangan Tazkiyah Al-Nafs dengan menggunakan teknologi fisika Quantum, yakni dengan fibrasi irama Freqwensi gelombang beta, alpha, theta dan delta. Dengan bantuan iringan irama tersebut seseorang dapat diajak masuk ke dalam perasaan Khusyuk, tentram, damai, bahagia hingga dapat mencapai ektase.

Sedangkan ustadz Nasrullah dalam bukunya Rahasia Magnet Rezeki, mengkorelasikan hasil penelitian  di bidang Psikologi David R Hawkins, tentang klasifikasi kesadaran emosi Force: yang merusak dan Power: yang membangun dengan ajaran Islam nafsu dan takwa, kemudian diformulasikan menjadi spiritual meter. Diaplikasikan untuk Tazkiyah Al-Nafs dalam bentuk jurus-jurus, seperti; jurus merawat terumbu karang, jurus kick back, jendela buram, garputala dll.

Dr. Aisyah Dahlan, C Ht.  dengan Rumah Ilmu Al Hilya, banyak mengkorelasikan kajian Tazkiyah Al-Nafs dengan hasil penelitian di bidang neuro sains. Seperti; Nur Muhammad, Doa Ibu, Istighfar, dzikir meningkatkan kecerdasan , karakter anak dll.



[1] Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Juz III (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, t.t.), Halaman 52–53.

[2] Abu Hamid al-Ghazali, Minhaj al-‘Abidin, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1989), Halaman 45–46.

[3] Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Juz III (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, t.t.), Halaman 58–60.

[4] Ibid, Halaman 61–70.

[5] Abu Hamid al-Ghazali, Minhaj al-‘Abidin, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1989), Halaman 47–48.

[6] Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Juz VI (Beirut: Dar al-Ma‘rifah, t.t.), Halaman 12–13.

[7] Ibid, Juz III, 75–76.

[8] Ibid, Halaman 80–90.

[9] Abu Hamid al-Ghazali, Minhaj al-‘Abidin, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1989), Halaman 90–92.

[10] Ibn Qayyim al-Jawziyya, Madarij al-Salikin, Jilid 1 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1996), 78–80.

[11] Ibn Qayyim al-Jawziyya, Madarij al-Salikin, Jilid 3 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1996), 127–128.

[12] Ibid., Jilid 2, 312.

22/09/2026

4. Tazkiyah Al-Nafs Di Dalam Hadits

 4.  Tazkiyah Al-Nafs Di Dalam Hadits

Berikut akan dikemukakan beberapa Hadits yang mengandung pengertian tazkiyah al-nafs

4.1. Tazkiyah Al-Nafs Adalah Bila Dia Selalu Merasakan Bahwa Allah Selalu Bersamanya Di Mana Pun Ia Berada

Di dalam kitab Mujam Thabarani Shaghir hadits nomor 555, disebutkan bahwa Nabi menjelaskan Tazkiyah Al-Nafs adalah “Bila dia selalu merasakan bahwa Allah selalu bersamanya di mana pun ia berada”;

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ مَعْرُوفٍ الْحِمْصِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو تَقِيٍّ عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ سَالِمِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْوَلِيدِ الزُّبَيْدِيُّ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ جَابِرٍ الطَّائِيُّ، أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ مُعَاوِيَةَ الْغَاضِرِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ حَدَّثَهُمْ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ : ثَلاثٌ مَنْ فَعَلَهُنَّ فَقَدْ ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ : مَنْ عَبَدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَحْدَهُ بِأَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّاهُوَ، وَأَعْطَى زَكَاةَ مَالِهِ طَيِّبَةً بِهَا نَفْسُهُ فِي كُلِّ عَامٍ ، وَلَمْ يُعْطِ الْهَرِمَةَ وَلاَ الدَّرِنَةَ وَلاَ الْمَرِيضَةَ ، وَلَكِنْ مِنْ أَوْسَطِ أَمْوَالِكُمْ ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَسْأَلْكُمْ خَيْرَهَا وَلَمْ يَأْمُرْكُمْ بَشَّرِهَا ، وَزَكَّى نَفْسَهُ ، فَقَالَ رَجُلٌ : وَمَا تَزْكِيَةُ النَّفْسِ ؟ فَقَالَ : أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مَعَهُ حَيْثُ كَانَ  [1]

Artinya: Telah menyampaikan kepada kami Ali Ibnu hasan  bin Ma’ruf al Himsiy, telah menceriterkan kepada kami Abu Taqi Abdul Hamid bin Ibrahim, telah menceriterkan kepada kami Abdullah bin Salim bin Muhammad bin Walid Az Zubaidy, telah menceriterkan kepada kami Yahya bin Jabir At Thaiy, bahwa Abdur Rahman bin Jubair bin Nufair menceriterkan kepadanya, bahwa  bapaknya menceriterakan,  bahwa Abdullah ibnu Mu’awiyah Al Ghadhiry RA menceriterkan kepada mereka, bahwa Rasulullah SAW bersabda; Ada tiga hal yang bila dikerjakan pelakunya berarti telah merasakan manisnya iman, yaitu jika ia selalu beribadah kepada Allah dalam kesendiriannya bahwa tiada Ilah kecuali Allah, dan menyerahkan zakat hartanya dengan hati yang tulus ikhlas setiap tahunnya, dan tidak membayarnya dengan ternak yang sudah tua, ternak yang buruk, ternak yang cacat parah, dan tidak pula ternak yang sakit, tetapi dari standar harta yang dimilikinya, karena Allah tidak meminta yang terbaiknya dan tidak menyuruh dengan yang terburuknya dan menyucikan diri/jiwanya. Lalu ada seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan pengertian menyucikan diri ?" Rasulullah Saw. menjawab: “Bila dia mengetahui/menyadari bahwa Allah selalu bersamanya di mana pun ia berada”.

4.2. Beruntunglah Orang Yang Memurnikan Hatinya Untuk Keimanan, Menjadikan Hatinya Bersih, Lisannya Jujur, Jiwanya Tenang, Akhlaknya Lurus

Nabi Muhammad SAW menyatakan beruntunglah orang yang menyucikan hati karena iman dan menjadikan hatinya sehat, perkataannya benar, jiwanya tenang, akhlaqnya istiqamah,  di dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 21310:

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي الْعَبَّاسِ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ قَالَ وَأَخْبَرَنِي بَحِيرُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ قَالَ قَالَ أَبُو ذَرٍّ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَخْلَصَ قَلْبَهُ لِلْإِيمَانِ وَجَعَلَ قَلْبَهُ سَلِيمًا وَلِسَانَهُ صَادِقًا وَنَفْسَهُ مُطْمَئِنَّةً وَخَلِيقَتَهُ مُسْتَقِيمَةً وَجَعَلَ أُذُنَهُ مُسْتَمِعَةً وَعَيْنَهُ نَاظِرَةً فَأَمَّا الْأُذُنُ فَقَمِعٌ وَالْعَيْنُ بِمُقِرَّةٍ لِمَا يُوعَى الْقَلْبُ وَقَدْ أَفْلَحَ مَنْ جَعَلَ قَلْبَهُ وَاعِيًا [2]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Abul 'Abbas] telah menceritakan kepada kami [Baqiyyah] ia berkata, telah mengabarkan kepada kami [Bahir bin sa'ad] dari [Khalid bin Ma'dan] dia berkata, [Abu Dzar] berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Beruntunglah orang yang memurnikan hatinya untuk keimanan, menjadikan hatinya bersih, lisannya jujur, jiwanya tenang, akhlaknya lurus, menjadikan telinganya mendengar dan matanya melihat. Telinga itu tunduk dan mata itu menurut dengan apa yang diperintahkan oleh hati, dan sungguh telah beruntung orang yang menjadikan hatinya bisa memahami."

4.3. Ya Allah, Karuniakanlah Hatiku Ketakwaan, Sucikanlah Ia, Engkaulah Sebaik-Baik Dzat Yang Mensucikannya, Engkaulah Walinya

Untuk menjaga kesucian hati, Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan doa “Ya Allah karuniakanlah pada hatiku ketakwaan, sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya..”, dimuat di dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 18503.

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ حَدَّثَنَا عَاصِمٌ الْأَحْوَلُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْهَرَمِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَنَفَسٍ لَا تَشْبَعُ وَعِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَدَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا قَالَ فَقَالَ زَيْدُ بْنُ أَرْقَمَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَاهُنَّ وَنَحْنُ نُعَلِّمُكُمُوهُنَّ [3]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami ['Affan] Telah menceritakan kepada kami [Abdul Wahid bin Ziyad] Telah menceritakan kepada kami [Ashim Al Ahwal] dari [Abdullah bin Harits] dari [Zaid bin Arqam] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdo'a: Ya Allah, aku berlindung pada-Mu daripada kelemahan, kemalasan, kepikunan, sifat pengecut, bakhil dan dari siksa kubur. Ya Allah, karuniakanlah hatiku ketakwaan, sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah walinya (Penolongnya). Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, dari hati yang tak pernah khyusu', nafsu yang tak pernah puas, ilmu tidak bermanfaat dan do'a yang tidak pernah terkabulkan." Zaid bin Arqam berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan do'a itu pada kami, dan kami mengajarkannya kepada kalian.



[1] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Raudh Al-Dani (Al-Mu’jam Al-Shaghir), Al-Maktab Al-Islami, Dar Umar, Beirut, 1985, Jilid 1, Halaman 334, Hadits nomor 555.

[2] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 35, Halaman 239, Hadits nomor 21310.

[3] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 2088, Hadits nomor 73 (2722).

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post