27/09/2026

 3.  Adab Ibadah

Berikut ini akan dikemukakan beberapa ayat Al-Quran maupun Hadits yang menggambarkan adab dalam ibadah;

3.1.  Ibadah Dengan Sabar

Di dalam Al-Quran surat Maryam/ 19: 65 disebutkan perintah: “maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya”;

رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا ﴿مريم: ٦٥﴾  

Artinya: Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)? (QS. Maryam/ 19: 65)

3.2.  Beribadah Dengan Ikhlas

Di dalam Al-Quran surat Az-Zumar/ 39: 11 dan 14  disebutkan perintah untuk beribadah/ menyembah Allah dengan ikhlas;

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ ﴿الزمر: ١١﴾  

Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (QS. Az-Zumar/ 39: 11)

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهُ دِينِي ﴿الزمر: ١٤﴾  

Artinya: Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku". (QS. Az-Zumar/ 39: 14)

3.3.  Beribadah Dengan Rasa Syukur

Di dalam Al-Quran surat Az-Zumar/ 39: 66  disebutkan perintah untuk beribadah/ menyembah Allah dan bersyukur;

بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ ﴿الزمر: ٦٦﴾  

Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur". (39: 66)

3.4.   Tidak Merasa Angkuh dan Letih

Di dalam Al-Quran surat Al-Anbiya/ 21: 19 digambarkan bahwa semua yang ada di langit dan bumi, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih;

وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ عِندَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ ﴿الأنبياء: ١٩﴾  

Artinya: Dan kepunyaan-Nya-lah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. (QS. Al-Anbiya/ 21: 19) 

3.5.   Hanya Menyembah Allah

Allah memerintahkan kepada hambanya untuk hanaya menyembah Allah, sebagaimana dimuat di dalam Al-Quran surat Hud/ 11: 2 dan 26,  Al-Isra'/ 17: 23, Fushshilat/ 41: 14, Yusuf/ 12: 40 dan Ar-Ra'd/ 13: 36;

أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ

Artinya: Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada-Nya, (QS. Hud/ 11: 2)

أَنْ لَا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ

Artinya: Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan". QS. Hud/ 11: 26)

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.(QS, Al-Isra'/ 17: 23)

إِذْ جَاءَتْهُمُ الرُّسُلُ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ قَالُوا لَوْ شَاءَ رَبُّنَا لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً فَإِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

Artinya: Ketika para rasul datang kepada mereka dari depan dan belakang mereka (dengan menyerukan): "Janganlah kamu menyembah selain Allah". Mereka menjawab: "Kalau Tuhan kami menghendaki tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikat-Nya, maka sesungguhnya kami kafir kepada wahyu yang kamu diutus membawanya".(QS. Fushshilat/ 41: 14)

مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".

Allah dengan tegas menyebutkan larangan untuk menyembah selain Allah dimuat di dalam Al-An'am/ 6: 56;

قُلْ إِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَعْبُدَ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ قُلْ لَا أَتَّبِعُ أَهْوَاءَكُمْ قَدْ ضَلَلْتُ إِذًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah". Katakanlah: "Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk". (QS. Al-An'am/ 6: 56)

وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَفْرَحُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمِنَ الْأَحْزَابِ مَنْ يُنْكِرُ بَعْضَهُ قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا أُشْرِكَ بِهِ إِلَيْهِ أَدْعُو وَإِلَيْهِ مَآبِ

Artinya: Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu, dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu, ada yang mengingkari sebahagiannya. Katakanlah "Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali". (QS. Ar-Ra'd/ 13: 36)

3.6.   Menyembah Allah Dan Tidak Mensekutukannya

Pada sub bab ini akan dikemukakan pembahasan tentang berbagai informasi yang menggambarkan perintah menyembah Allah dan larangan mensekutukan Allah, yang dijelaskan di dalam ayat-ayat Al-Quran;

Di dalam Al-Quran surat An-Nisa'/ 4: 36 disebutkan perintah Allah untuk menyembah Allah dan larangan untuk mensekutukan Allah dengan sesuatupun;

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (QS. An-Nisa'/ 4: 36)

dan seterusnya dilanjutkan dalam post sendiri ... 
Menyembah Allah Dan Tidak Mensekutukannya

3.7. Membatalkan Sesembahan Selain Allah

Pada sub bab ini akan dikemukakan ayat-ayat Al-Quran yang memberikan penjelasan tentang sesembahan selain Allah;

Di dalam Al-Quran surat Saba'/ 3: 41 digambarkan adanya orang-orang yang menyembah jin;

قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ

Artinya: Malaikat-malaikat itu menjawab: "Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu".(QS. Saba'/ 3: 41)

dan seterusnya dilanjutkan dalam post sendiri ... Membatalkan Sesembahan Selain Allah

3.8. Takut Akibat Yang Akan Diterima Bagi Penyembah Selain Allah

Pada sub bab ini akan dikemukakan ayat-ayat Al-Quran yang memberikan gambaran akibat dari Penyembah Selain Allah;

Al-Quran surat Al-Anbiya'/ 21: 98 menegaskan bahwa akibat bagi penyembah selain Allah adalah dijadikan sebagai umpan nerka Jahannam;

إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ

Artinya: Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya. (QS. Al-Anbiya'/ 21: 98)

dan seterusnya dilanjutkan dalam post sendiri ...Takut Akibat Yang Akan Diterima Bagi Penyembah Selain Allah


26/09/2026

2. Keistimewaan Orang Yang Menyembah Allah

 2.  Keistimewaan Orang Yang Menyembah Allah

Keistimewaan orang yang hanya menyembah/ beribadah kepada Allah Dan tidak mensekukan-Nya dengan sesuatupun adalah;

2.1.   Orang Yang Beribadah Kepada Allah Tuhannya Dan Meninggalkan Manusia Dari Gangguannya Menempati Kedudukan Orang Yang Utama Setelah Jihad

Di dalam kitab Shahih Muslim Hadits nomor  disebutkan bahwa orang yang paling utama adalah orang yang berjihad di jalan Allah berikutnya adalah seorang mukmin yang berada di suatu lembah (atau tempat terpencil), ia beribadah kepada Allah Tuhannya dan meninggalkan manusia dari gangguannya;

حَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ أَبِي مُزَاحِمٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمْزَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْوَلِيدِ الزُّبَيْدِيِّ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ فَقَالَ رَجُلٌ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِمَالِهِ وَنَفْسِهِ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ مُؤْمِنٌ فِي شِعْبٍ مِنْ الشِّعَابِ يَعْبُدُ اللَّهَ رَبَّهُ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ [1]

Artinya: "Manshur bin Abi Muzahim telah menceritakan kepada kami; Yahya bin Hamzah telah menceritakan kepada kami dari Muhammad bin al-Walid az-Zubaidi dari az-Zuhri dari ‘Atha’ bin Yazid al-Laitsi dari Abu Sa‘id al-Khudri, bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ lalu bertanya: ‘Siapakah manusia yang paling utama?’ Maka beliau bersabda: ‘Seorang laki-laki yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya.’ Ia bertanya lagi: ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Seorang mukmin yang berada di suatu lembah (atau tempat terpencil), ia beribadah kepada Allah Tuhannya dan meninggalkan manusia dari gangguannya.’"

2.2. Barang Siapa Datang (Menghadap Allah) Dengan Beribadah Kepada-Nya Dan Tidak Menyekutukan-Nya Dengan Sesuatu Apa Pun, Maka Ia Berhak Mendapatkan Surga.

Di dalam kitab Al-Sunan Al-Kubra Hadits nomor 11034 dan kitab Barang siapa datang (menghadap Allah) dengan beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan menjauhi dosa-dosa besar, maka ia berhak mendapatkan surga.

أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَخْبَرَنَا بَقِيَّةُ، حَدَّثَنَا بَحِيرُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ: أَنَّ أَبَا رُهْمٍ السَّمَعِيَّ، حَدَّثَهُ: أَنَّ أَبَا أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيَّ حَدَّثَهُ، عَنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ: " مَنْ جَاءَ يَعْبُدُ اللهَ وَلَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَيُقِيمُ الصَّلَاةَ، وَيُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَيَجْتَنِبُ الْكَبَائِرَ، فَإِنَّ لَهُ الْجَنَّةَ فَسَأَلُوهُ عَنِ الْكَبَائِرِ فَقَالَ: «الْإِشْرَاكُ بِاللهِ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الْمُسْلِمَةِ، وَالْفِرَارُ يَوْمَ الزَّحْفِ»[2]

Artinya: "Ishaq bin Ibrahim telah memberitakan kepada kami; Baqiyyah telah memberitakan kepada kami; Bahir bin Sa‘d telah menceritakan kepada kami dari Khalid bin Ma‘dan, bahwa Abu Ruhm as-Sama‘i telah menceritakan kepadanya, bahwa Abu Ayyub al-Ansari telah menceritakan kepadanya dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:‘Barang siapa datang (menghadap Allah) dengan beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan menjauhi dosa-dosa besar, maka ia berhak mendapatkan surga.’Mereka bertanya: ‘Apa saja dosa-dosa besar itu?’ Beliau menjawab: *‘Menyekutukan Allah, membunuh jiwa seorang muslim, dan lari dari medan pertempuran.’”

 حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْعَلَاءِ بْنِ زِبْرِيقٍ الْحِمْصِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ عَيَّاشٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ ضَمْضَمِ بْنِ زُرْعَةَ، عَنْ شُرَيْحِ بْنِ عُبَيْدٍ، قَالَ: كَانَ أَبُو رُهْمٍ، يُحَدِّثُ، أَنَّ أَبَا أَيُّوبَ حَدَّثَهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «مَنْ جَاءَ اللهَ يَعْبُدُهُ وَلَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَآتَى الزَّكَاةَ، وَصَامَ رَمَضَانَ، وَاجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ، فَإِنَّ لَهُ الْجَنَّةَ»، فَسَأَلُوهُ وَمَا الْكَبَائِرُ؟ فَقَالَ: «الْإِشْرَاكُ بِاللهِ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الْمُسْلِمَةِ، وَفِرَارٌ يَوْمَ الزَّحْفِ [3] »

Artinya: "‘Amr bin Ishaq bin Ibrahim bin al-‘Ala’ bin Zibriq al-Himshi telah menceritakan kepada kami; Muhammad bin Isma‘il bin ‘Ayyash telah menceritakan kepada kami; ia berkata: Ayahku telah menceritakan kepadaku dari Dhamdham bin Zur‘ah dari Syuraih bin ‘Ubaid, ia berkata: Abu Ruhm biasa menceritakan bahwa Abu Ayyub telah menceritakan kepadanya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Barang siapa datang kepada Allah dalam keadaan beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, menegakkan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan menjauhi dosa-dosa besar, maka baginya surga.’ Mereka bertanya: ‘Apa saja dosa-dosa besar itu?’ Beliau menjawab: ‘Menyekutukan Allah, membunuh jiwa seorang muslim, dan lari dari medan pertempuran.’”

2.3.  Allah Mengampuni Dosa Hamba Yang Tidak Berputus Asa Dari Rahmat-Nya

Di dalam Al-Quran surat Az-Zumar/ 39: 53 Allah memanggil hambanya yang banyak dosa untuk tidak berputus asa dari rahmatnya, Allah akan mengampuni seluruh dosanya karena Dia Maha Pengampun dan Penyayang;

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar/ 39: 53)

2.4. Bumi Diwariskan Kepada Hambanya Yang Shalih

Di dalam Al-Quran surat Al-Anbiya'/ 21: 105 dinyatakan bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh;

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

Artinya: Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. (QS. Al-Anbiya'/ 21: 105)



[1] Abu Al-Hasan Muslim ibn Al-Hajaj Al-Qasyiri Al-Nisaburi, Shahih Muslim, Dar Ihya’ Al-Turats Al-‘Arabi, Beirut, 1955, Jilid 3, Halaman 1503, Hadits nomor 1888.

[2] Abu Abd Al-Rahman Ahmad Ibn Syu’aib Al-Nasa’i, Al-Sunan Al-Kubra, Muassasah Al-Risalah, Beirut, 2001, Jilid 10, Halaman 62, Hadits nomor 11034.

[3] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 4, Halaman 129, Hadits nomor 3886.

25/09/2026

1. Hikmah Ibadah

 1.  Hikmah Ibadah

Berikut ini akan dikemukakan beberapa ayat Al-Quran maupun Hadits yang menggambarkan hikmah dari ibadah;

 

1.1.            Hak Allah Atas Hamba-Nya Adalah Mereka Beribadah Kepada-Nya Dan Tidak Mempersekutukan-Nya Dengan Sesuatu Apa Pun

Di dalam kitab Shahih Bukhari Hadits nomor 2856 ditegaskan bahwa Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun;

 حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ سَمِعَ يَحْيَى بْنَ آدَمَ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ عَنْ مُعَاذٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ فَقَالَ يَا مُعَاذُ هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ قَالَ لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا [1]

Artinya: "Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepadaku; ia berkata: Yahya bin Adam mendengarnya dan menceritakannya kepada kami; Abu al-Ahwash telah menceritakan kepada kami dari Abu Ishaq dari ‘Amr bin Maimun dari Mu‘adz   radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Aku pernah membonceng Nabi ﷺ di atas seekor keledai yang bernama ‘Ufayr. Lalu beliau bersabda: ‘Wahai Mu‘adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah?’ Aku menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda: ‘Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun; dan hak hamba atas Allah adalah bahwa Dia tidak akan mengazab orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.’ Maka aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada manusia?’ Beliau menjawab: ‘Jangan engkau beri kabar gembira kepada mereka, nanti mereka akan bersandar (lalu meninggalkan amal).’"

1.2.            Apa Yang Dahulu Disembah, Mereka Akan Mengikuti Yang Dia Sembah

Di dalam kitab Shahih Al-Bukhari Hadits nomor 806 dan 4581 disebutkan pernyataan Rasulullah Muhammad ﷺ: “Siapa yang dahulu menyembah sesuatu, hendaklah mengikuti sembahannya.”;

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَعَطَاءُ بْنُ يَزِيدَ اللَّيْثِيُّ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ أَخْبَرَهُمَا أَنَّ النَّاسَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ هَلْ تُمَارُونَ فِي الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَيْسَ دُونَهُ سَحَابٌ قَالُوا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَهَلْ تُمَارُونَ فِي الشَّمْسِ لَيْسَ دُونَهَا سَحَابٌ قَالُوا لَا قَالَ فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ كَذَلِكَ يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ شَيْئًا فَلْيَتَّبِعْ فَمِنْهُمْ مَنْ يَتَّبِعُ الشَّمْسَ وَمِنْهُمْ مَنْ يَتَّبِعُ الْقَمَرَ وَمِنْهُمْ مَنْ يَتَّبِعُ الطَّوَاغِيتَ وَتَبْقَى هَذِهِ الْأُمَّةُ فِيهَا مُنَافِقُوهَا فَيَأْتِيهِمْ اللَّهُ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ هَذَا مَكَانُنَا حَتَّى يَأْتِيَنَا رَبُّنَا فَإِذَا جَاءَ رَبُّنَا عَرَفْنَاهُ فَيَأْتِيهِمْ اللَّهُ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ أَنْتَ رَبُّنَا فَيَدْعُوهُمْ فَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ جَهَنَّمَ فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يَجُوزُ مِنْ الرُّسُلِ بِأُمَّتِهِ وَلَا يَتَكَلَّمُ يَوْمَئِذٍ أَحَدٌ إِلَّا الرُّسُلُ وَكَلَامُ الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ وَفِي جَهَنَّمَ كَلَالِيبُ مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ هَلْ رَأَيْتُمْ شَوْكَ السَّعْدَانِ قَالُوا نَعَمْ قَالَ فَإِنَّهَا مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ قَدْرَ عِظَمِهَا إِلَّا اللَّهُ تَخْطَفُ النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ فَمِنْهُمْ مَنْ يُوبَقُ بِعَمَلِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُخَرْدَلُ ثُمَّ يَنْجُو حَتَّى إِذَا أَرَادَ اللَّهُ رَحْمَةَ مَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَمَرَ اللَّهُ الْمَلَائِكَةَ أَنْ يُخْرِجُوا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَيُخْرِجُونَهُمْ وَيَعْرِفُونَهُمْ بِآثَارِ السُّجُودِ وَحَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُودِ فَيَخْرُجُونَ مِنْ النَّارِ فَكُلُّ ابْنِ آدَمَ تَأْكُلُهُ النَّارُ إِلَّا أَثَرَ السُّجُودِ فَيَخْرُجُونَ مِنْ النَّارِ قَدْ امْتَحَشُوا فَيُصَبُّ عَلَيْهِمْ مَاءُ الْحَيَاةِ فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ ثُمَّ يَفْرُغُ اللَّهُ مِنْ الْقَضَاءِ بَيْنَ الْعِبَادِ وَيَبْقَى رَجُلٌ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَهُوَ آخِرُ أَهْلِ النَّارِ دُخُولًا الْجَنَّةَ مُقْبِلٌ بِوَجْهِهِ قِبَلَ النَّارِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ اصْرِفْ وَجْهِي عَنْ النَّارِ قَدْ قَشَبَنِي رِيحُهَا وَأَحْرَقَنِي ذَكَاؤُهَا فَيَقُولُ هَلْ عَسَيْتَ إِنْ فُعِلَ ذَلِكَ بِكَ أَنْ تَسْأَلَ غَيْرَ ذَلِكَ فَيَقُولُ لَا وَعِزَّتِكَ فَيُعْطِي اللَّهَ مَا يَشَاءُ مِنْ عَهْدٍ وَمِيثَاقٍ فَيَصْرِفُ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ فَإِذَا أَقْبَلَ بِهِ عَلَى الْجَنَّةِ رَأَى بَهْجَتَهَا سَكَتَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَسْكُتَ ثُمَّ قَالَ يَا رَبِّ قَدِّمْنِي عِنْدَ بَابِ الْجَنَّةِ فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ أَلَيْسَ قَدْ أَعْطَيْتَ الْعُهُودَ وَالْمِيثَاقَ أَنْ لَا تَسْأَلَ غَيْرَ الَّذِي كُنْتَ سَأَلْتَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ لَا أَكُونُ أَشْقَى خَلْقِكَ فَيَقُولُ فَمَا عَسَيْتَ إِنْ أُعْطِيتَ ذَلِكَ أَنْ لَا تَسْأَلَ غَيْرَهُ فَيَقُولُ لَا وَعِزَّتِكَ لَا أَسْأَلُ غَيْرَ ذَلِكَ فَيُعْطِي رَبَّهُ مَا شَاءَ مِنْ عَهْدٍ وَمِيثَاقٍ فَيُقَدِّمُهُ إِلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَإِذَا بَلَغَ بَابَهَا فَرَأَى زَهْرَتَهَا وَمَا فِيهَا مِنْ النَّضْرَةِ وَالسُّرُورِ فَيَسْكُتُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَسْكُتَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَدْخِلْنِي الْجَنَّةَ فَيَقُولُ اللَّهُ وَيْحَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مَا أَغْدَرَكَ أَلَيْسَ قَدْ أَعْطَيْتَ الْعُهُودَ وَالْمِيثَاقَ أَنْ لَا تَسْأَلَ غَيْرَ الَّذِي أُعْطِيتَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ لَا تَجْعَلْنِي أَشْقَى خَلْقِكَ فَيَضْحَكُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْهُ ثُمَّ يَأْذَنُ لَهُ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ فَيَقُولُ تَمَنَّ فَيَتَمَنَّى حَتَّى إِذَا انْقَطَعَ أُمْنِيَّتُهُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا أَقْبَلَ يُذَكِّرُهُ رَبُّهُ حَتَّى إِذَا انْتَهَتْ بِهِ الْأَمَانِيُّ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لَكَ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ مَعَهُ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ لِأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللَّهُ لَكَ ذَلِكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ لَمْ أَحْفَظْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا قَوْلَهُ لَكَ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ مَعَهُ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ إِنِّي سَمِعْتُهُ يَقُولُ ذَلِكَ لَكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ [2]

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamān; ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Syu‘aib, dari az-Zuhrī; ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Sa‘īd bin al-Musayyab dan ‘Aṭā’ bin Yazīd al-Laytsī bahwa Abu Hurairah mengabarkan kepada keduanya bahwa orang-orang berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat?’ Beliau bersabda: ‘Apakah kalian ragu ketika melihat bulan pada malam purnama yang tidak tertutup awan?’ Mereka menjawab: ‘Tidak, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Apakah kalian ragu ketika melihat matahari yang tidak tertutup awan?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kalian akan melihat-Nya seperti itu. Manusia dikumpulkan pada hari kiamat, lalu dikatakan: Siapa yang dahulu menyembah sesuatu, hendaklah mengikuti sembahannya. Maka sebagian mereka mengikuti matahari, sebagian mengikuti bulan, dan sebagian mengikuti thaghut. Tinggallah umat ini, termasuk munafik-munafiknya. Lalu Allah datang kepada mereka dan berfirman: “Akulah Rabb kalian.” Mereka berkata: “Kami tetap di sini sampai Rabb kami datang; apabila Rabb kami datang, kami akan mengenali-Nya.” Lalu Allah datang kepada mereka dan berfirman: “Akulah Rabb kalian.” Mereka pun berkata: “Engkau adalah Rabb kami.” Maka Allah memanggil mereka, lalu dipasanglah shirath di atas punggung Jahanam. Maka akulah rasul pertama yang menyeberang bersama umatnya. Pada hari itu tidak ada yang berbicara kecuali para rasul, dan ucapan mereka saat itu hanyalah: ‘Ya Allah, selamatkan… selamatkan.’ Di dalam Jahanam terdapat kait-kait seperti duri pohon Sa‘dān—apakah kalian telah melihat duri Sa‘dān?’ Mereka menjawab: ‘Ya.’ Beliau bersabda: ‘Ia seperti duri Sa‘dān, tetapi tidak ada yang mengetahui besar ukurannya kecuali Allah. Kait-kait itu akan mencengkeram manusia sesuai amal mereka; ada yang binasa karena amalnya, dan ada yang tercabik lalu selamat. Hingga apabila Allah menghendaki rahmat bagi orang yang dikehendaki-Nya dari penduduk neraka, Allah memerintahkan para malaikat untuk mengeluarkan orang-orang yang dahulu hanya menyembah Allah. Mereka dikeluarkan dan dikenali melalui bekas sujud mereka; Allah mengharamkan api memakan bekas sujud. Mereka keluar dari neraka dalam keadaan hangus, lalu ditumpahkan kepada mereka air kehidupan, maka mereka tumbuh seperti biji yang tumbuh di tepi arus banjir. Setelah Allah selesai memutuskan perkara di antara hamba-hamba, tinggallah seorang laki-laki di antara surga dan neraka, yang merupakan orang terakhir dari penghuni neraka yang masuk surga. Ia menghadapkan wajahnya ke arah neraka lalu berkata: “Wahai Rabbku, palingkanlah wajahku dari neraka; sungguh hembusan anginnya telah merusakku dan panasnya telah membakarku.” Allah berfirman: “Apakah mungkin jika itu Aku lakukan, engkau akan meminta selain itu?” Ia menjawab: “Tidak, demi kemuliaan-Mu.” Maka ia memberikan janji dan kesepakatan kepada Allah. Maka Allah memalingkan wajahnya dari neraka. Ketika diarahkan kepada surga dan ia melihat keindahannya, ia terdiam selama Allah berkehendak ia diam, lalu berkata: “Wahai Rabbku, dekatkan aku ke pintu surga.” Allah berfirman: “Bukankah engkau telah memberikan janji untuk tidak meminta selain yang telah engkau minta?” Ia berkata: “Wahai Rabbku, jangan jadikan aku makhluk-Mu yang paling celaka.” Allah berfirman: “Apakah jika Aku dekatkan engkau, engkau tidak akan meminta selain itu?” Ia menjawab: “Tidak, demi kemuliaan-Mu.” Maka ia kembali memberikan janji dan kesepakatan kepada Allah. Lalu Allah mendekatkannya ke pintu surga. Ketika ia telah mencapai pintunya dan melihat keindahan serta kebahagiaan di dalamnya, ia kembali diam selama Allah berkehendak ia diam, lalu berkata: “Wahai Rabbku, masukkanlah aku ke dalam surga.” Allah berfirman: “Celakalah engkau wahai anak Adam, betapa ingkarnya engkau! Bukankah engkau telah berjanji untuk tidak meminta selain yang telah diberikan kepadamu?” Ia berkata: ‘Wahai Rabbku, jangan jadikan aku makhluk-Mu yang paling celaka.’ Maka Allah tertawa kepadanya, kemudian mengizinkannya masuk surga. Allah berfirman kepadanya: ‘Beranganlah!’ Lalu ia mulai berangan-angan, hingga ketika angan-angannya habis, Allah berfirman: ‘Bagimu ini dan semisalnya bersamanya.’ Abu Sa‘id al-Khudri berkata kepada Abu Hurairah: ‘Rasulullah ﷺ bersabda: Allah berfirman: “Bagimu itu dan sepuluh kali lipatnya.”’ Abu Hurairah berkata: ‘Aku hanya menghafal dari Rasulullah ﷺ sabdanya: “Bagimu itu dan semisalnya bersamanya.” Abu Sa‘id berkata: ‘Aku sungguh mendengar beliau bersabda: “Bagimu itu dan sepuluh kali lipatnya.”’”

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ حَفْصُ بْنُ مَيْسَرَةَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ أُنَاسًا فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ هَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ الشَّمْسِ بِالظَّهِيرَةِ ضَوْءٌ لَيْسَ فِيهَا سَحَابٌ قَالُوا لَا قَالَ وَهَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ضَوْءٌ لَيْسَ فِيهَا سَحَابٌ قَالُوا لَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تُضَارُونَ فِي رُؤْيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا كَمَا تُضَارُونَ فِي رُؤْيَةِ أَحَدِهِمَا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ تَتْبَعُ كُلُّ أُمَّةٍ مَا كَانَتْ تَعْبُدُ فَلَا يَبْقَى مَنْ كَانَ يَعْبُدُ غَيْرَ اللَّهِ مِنْ الْأَصْنَامِ وَالْأَنْصَابِ إِلَّا يَتَسَاقَطُونَ فِي النَّارِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ إِلَّا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ بَرٌّ أَوْ فَاجِرٌ وَغُبَّرَاتُ أَهْلِ الْكِتَابِ فَيُدْعَى الْيَهُودُ فَيُقَالُ لَهُمْ مَنْ كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ قَالُوا كُنَّا نَعْبُدُ عُزَيْرَ ابْنَ اللَّهِ فَيُقَالُ لَهُمْ كَذَبْتُمْ مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ صَاحِبَةٍ وَلَا وَلَدٍ فَمَاذَا تَبْغُونَ فَقَالُوا عَطِشْنَا رَبَّنَا فَاسْقِنَا فَيُشَارُ أَلَا تَرِدُونَ فَيُحْشَرُونَ إِلَى النَّارِ كَأَنَّهَا سَرَابٌ يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا فَيَتَسَاقَطُونَ فِي النَّارِ ثُمَّ يُدْعَى النَّصَارَى فَيُقَالُ لَهُمْ مَنْ كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ قَالُوا كُنَّا نَعْبُدُ الْمَسِيحَ ابْنَ اللَّهِ فَيُقَالُ لَهُمْ كَذَبْتُمْ مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ صَاحِبَةٍ وَلَا وَلَدٍ فَيُقَالُ لَهُمْ مَاذَا تَبْغُونَ فَكَذَلِكَ مِثْلَ الْأَوَّلِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ إِلَّا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ مِنْ بَرٍّ أَوْ فَاجِرٍ أَتَاهُمْ رَبُّ الْعَالَمِينَ فِي أَدْنَى صُورَةٍ مِنْ الَّتِي رَأَوْهُ فِيهَا فَيُقَالُ مَاذَا تَنْتَظِرُونَ تَتْبَعُ كُلُّ أُمَّةٍ مَا كَانَتْ تَعْبُدُ قَالُوا فَارَقْنَا النَّاسَ فِي الدُّنْيَا عَلَى أَفْقَرِ مَا كُنَّا إِلَيْهِمْ وَلَمْ نُصَاحِبْهُمْ وَنَحْنُ نَنْتَظِرُ رَبَّنَا الَّذِي كُنَّا نَعْبُدُ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ لَا نُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا [3]

Artinya: "Muhammad bin ‘Abd al-‘Aziz telah menceritakan kepadaku; Abu ‘Umar Hafsh bin Maysarah telah menceritakan kepada kami dari Zaid bin Aslam dari ‘Atha’ bin Yasar dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu, bahwa beberapa orang pada zaman Nabi ﷺ berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Tuhan kami pada hari kiamat?’ Maka Nabi ﷺ bersabda: ‘Ya. Apakah kalian merasa kesulitan melihat matahari pada siang hari ketika tidak ada awan?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Beliau bersabda: ‘Apakah kalian merasa kesulitan melihat bulan pada malam purnama ketika tidak ada awan?’ Mereka menjawab: ‘Tidak.’ Maka Nabi ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya kalian tidak akan mengalami kesulitan dalam melihat Allah ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat sebagaimana kalian tidak mengalami kesulitan dalam melihat salah satu dari keduanya.’ Apabila hari kiamat tiba, seorang penyeru akan menyeru: ‘Hendaklah setiap umat mengikuti apa yang dahulu mereka sembah.’ Maka tidak tersisa seorang pun yang dahulu menyembah selain Allah—baik berupa berhala maupun patung—kecuali mereka akan berjatuhan ke dalam neraka. Hingga tidak tersisa kecuali orang-orang yang dahulu menyembah Allah, baik yang taat maupun yang durhaka, serta sisa-sisa Ahli Kitab. Lalu orang-orang Yahudi dipanggil dan ditanya: ‘Apa yang dahulu kalian sembah?’ Mereka menjawab: ‘Kami dahulu menyembah ‘Uzair putra Allah.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Kalian berdusta, Allah tidak memiliki istri dan tidak pula anak. Lalu apa yang kalian inginkan?’ Mereka berkata: ‘Kami haus, wahai Tuhan kami, maka berilah kami minum.’ Maka ditunjukkan kepada mereka: ‘Tidakkah kalian ingin menuju ke sana?’ Lalu mereka digiring ke neraka yang tampak seperti fatamorgana yang saling menghancurkan, lalu mereka berjatuhan ke dalamnya. Kemudian orang-orang Nasrani dipanggil dan ditanya: ‘Apa yang dahulu kalian sembah?’ Mereka menjawab: ‘Kami dahulu menyembah al-Masih putra Allah.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Kalian berdusta, Allah tidak memiliki istri dan tidak pula anak.’ Lalu dikatakan kepada mereka: ‘Apa yang kalian inginkan?’ Maka mereka menjawab seperti yang pertama, hingga akhirnya tidak tersisa kecuali orang-orang yang dahulu menyembah Allah, baik yang taat maupun yang durhaka. Maka datanglah kepada mereka Rabb semesta alam dalam bentuk yang paling rendah dari yang pernah mereka lihat, lalu dikatakan: ‘Apa yang kalian tunggu? Setiap umat akan mengikuti apa yang dahulu mereka sembah.’ Mereka menjawab: ‘Kami telah berpisah dari manusia di dunia dalam keadaan sangat membutuhkan mereka, namun kami tidak mengikuti mereka, dan kami menunggu Tuhan kami yang dahulu kami sembah.’ Maka Allah berfirman: ‘Aku adalah Tuhan kalian.’ Mereka berkata: ‘Kami tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun,’ (ucapan itu diulang dua atau tiga kali)."

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ الْبَزَّازُ عَنْ يُونُسَ بْنِ بُكَيْرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ إِسْحَقَ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ يَسَارٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا جَمَعَ اللَّهُ الْعِبَادَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ نَادَى مُنَادٍ لِيَلْحَقْ كُلُّ قَوْمٍ بِمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ فَيَلْحَقُ كُلُّ قَوْمٍ بِمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ وَيَبْقَى النَّاسُ عَلَى حَالِهِمْ فَيَأْتِيهِمْ فَيَقُولُ مَا بَالُ النَّاسِ ذَهَبُوا وَأَنْتُمْ هَا هُنَا فَيَقُولُونَ نَنْتَظِرُ إِلَهَنَا فَيَقُولُ هَلْ تَعْرِفُونَهُ فَيَقُولُونَ إِذَا تَعَرَّفَ إِلَيْنَا عَرَفْنَاهُ فَيَكْشِفُ لَهُمْ عَنْ سَاقِهِ فَيَقَعُونَ سُجُودًا فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى { يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ } يَبْقَى كُلُّ مُنَافِقٍ فَلَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْجُدَ ثُمَّ يَقُودُهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ [4]

Artinya: "Muhammad bin Yazīd al-Bazzāz telah mengabarkan kepada kami dari Yunus bin Bukair; ia berkata: Ibnu Ishaq telah mengabarkan kepadaku; ia berkata: Sa‘id bin Yasar telah mengabarkan kepadaku; ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Apabila Allah mengumpulkan seluruh hamba di satu tempat yang luas, seorang penyeru akan menyeru: Hendaklah setiap kaum mengikuti apa yang dahulu mereka sembah.’ Maka setiap kaum pun akan mengikuti apa yang dahulu mereka sembah, dan orang-orang (yang beriman) tetap tinggal di tempat mereka. Lalu Allah mendatangi mereka dan berfirman: ‘Apa yang membuat manusia pergi sedangkan kalian tetap di sini?’ Mereka menjawab: ‘Kami sedang menunggu Tuhan kami.’ Allah berfirman: ‘Apakah kalian mengenal-Nya?’ Mereka menjawab: ‘Apabila Dia memperkenalkan diri kepada kami, kami pasti mengenal-Nya.’ Maka Allah menyingkapkan betis-Nya, lalu mereka pun tersungkur bersujud; itulah firman Allah Ta‘ala: “Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud tetapi mereka tidak mampu.” Maka setiap orang munafik pun tetap tinggal (tidak bisa sujud), kemudian Allah menggiring mereka menuju surga."

1.3.            Semua Rasul Mengajak Umatnya Untuk Hanya Menyembah Allah

Di dalam Al-Quran surat Al-Anbiya’/ 21: 25 menggambarkan bahwa semua Rasul diwahyukan: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku";

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ ﴿الأنبياء: ٢٥﴾  

Artinya: Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. Al-Anbiya’/ 21: 25)

Allah telah menetapkan di antara hamba-hambanya yang dijadikan sebagai Rasul, ketetapan ini dituangkan di dalam Al-Quran Surat Ash-Shaffat/ 37: 171;

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ

Artinya: Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (QS. Ash-Shaffat/ 37: 171)

Para Rasul meskipun ditugaskan pada zaman dan umat yang berbeda, tetapi seluruh memiliki kesamaan risalah yang harus disampaikan, yaitu memerintahkan untuk hanya menyembah Allah, karena tidak ada Tuhan selain Allah dan memerintahkan untuk bertakwa, sebagaimana dimuat di dalam Al-Quran surat Al-Mu'minun/ 23: 32, Fushshilat/ 41: 14, Az-Zukhruf/ 43: 45  dan Al-Anbiya'/ 21: 25 berikut;

فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Artinya: Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): "Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya). (QS. Al-Mu'minun/ 23: 32)

إِذْ جَاءَتْهُمُ الرُّسُلُ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ قَالُوا لَوْ شَاءَ رَبُّنَا لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً فَإِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

Artinya: Ketika para rasul datang kepada mereka dari depan dan belakang mereka (dengan menyerukan): "Janganlah kamu menyembah selain Allah". Mereka menjawab: "Kalau Tuhan kami menghendaki tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikat-Nya, maka sesungguhnya kami kafir kepada wahyu yang kamu diutus membawanya". (QS. Fushshilat/ 41: 14)

وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ

Artinya: Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: "Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?" (QS. Az-Zukhruf/ 43: 45)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Artinya: Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. Al-Anbiya'/ 21: 25)

Berikut beberapa Rasul yang diutus Allah untuk menyampaikan risalah tersebut, yang disebutkan di dalam Al-Quran, antara lain;

1.3.1.              Nabi Nuh

Nabi Nuh melaksanakan tugasnya dengan memerintahkan kepada kaumnya Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya, apakah kamu tidak bertakwa, sebagaimana dimuat di dalam Al-Quran surat Al-Mu'minun/ 23: 23,  Al-A'raf/ 7: 59

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?" (QS. Al-Mu'minun/ 23: 23)

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya". Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). (QS. Al-A'raf/ 7: 59)

1.3.2.              Nabi Hud

Nabi Hud melaksanakan tugasnya dengan memerintahkan kepada kaumnya Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya, apakah kamu tidak bertakwa, sebagaimana dimuat di dalam Al-Quran surat Al-A'raf/ 7: 65 dan surat Hud/ 11: 50;

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Artinya: Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?" (QS. Al-A'raf/ 7: 65)

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا مُفْتَرُونَ

Artinya: Dan kepada kaum 'Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja. (QS. Hud/ 11: 50)

1.3.3.              Nabi Shaleh

Nabi Shaleh melaksanakan tugasnya dengan memerintahkan kepada kaumnya Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya, sebagaimana dimuat di dalam Al-Quran surat Al-A'raf/ 7: 73, Hud/ 11: 61 dan surat An-Naml/ 27: 45;

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya: Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih". (QS. Al-A'raf/ 7: 73)

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

Artinya: Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)". (QS. Hud/ 11: 61)

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (yang berseru): "Sembahlah Allah". Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) dua golongan yang bermusuhan. (QS. An-Naml/ 27: 45)

1.3.4.              Nabi Ibrahim

Nabi Ibrahim AS juga menjalankan tugasnya untuk memerintahkan kepada kaumnya untuk menyembah Allah dan bertakwa, disebutkan di dalam Al-Quran surat Al-'Ankabut/ 29: 16;

وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: "Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. Al-'Ankabut/ 29: 16)

Millah Ibrahim adalah lurus, benar dan tidak mensekutakan Allah, gambaran ini dimuat di dalam Al-Quran surat Al-An'am/ 6: 161, Ali-'Imran/ 3: 95, An-Nisa'/ 4: 125 dan surat An-Nahl/ 16: 120;

قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik". (QS. Al-An'am/ 6: 161)

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Artinya: Katakanlah: "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah". Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Ali-'Imran/ 3: 95)

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Artinya: Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. (QS. An-Nisa'/ 4: 125)

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Artinya: Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (QS. An-Nahl/ 16: 120)

1.3.5.              Nabi Ibrahim, Ya’qub, Ismail Dan Ishaq

Al-Quran surat Yusuf/ 12: 38 menyebutkan bahwa Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah;

وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ذَلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

Artinya: Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya'qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya). (QS. Yusuf/ 12: 38)

Sedangkan di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah/ 2: 133, ketika menjelang wafatnya menanyakan kepada anak-anaknya apa yang akan disembah sepeninggalnya, mereka menjawab Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa;

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Artinya: Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS. Al-Baqarah/ 2: 133)

1.3.6.              Nabi Syu’aib

Nabi Syu’aib melaksanakan tugasnya dengan memerintahkan kepada kaumnya Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya, sebagaimana dimuat di dalam Al-Quran surat Al-A'raf/ 7: 85, Hud/ 11: 84 dan Al-'Ankabut/ 29: 36;

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya: Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman".

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ

Artinya: Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)". (QS. Hud/ 11: 84)

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَارْجُوا الْيَوْمَ الْآخِرَ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

Artinya: Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan, saudara mereka Syu'aib, maka ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan". (QS. Al-'Ankabut/ 29: 36)

1.3.7.              Nabi Isa Ibnu Maryam

Di dalam Al-Quran surat At-Taubah/ 9: 31 tergambar bahwa Nabi Isa hanya menyuruh untuk menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia;

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Artinya: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah/ 9: 31)



[1] Abu Abdullah Muhammad Ibn Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Sulthaniyah, Mesir, 1311 H, Jilid 4, Halaman 29, Hadits nomor 2856.

[2] Abu Abdullah Muhammad Ibn Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Sulthaniyah, Mesir, 1311 H, Jilid 1, Halaman 163, Hadits nomor 806.

[3] Abu Abdullah Muhammad Ibn Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Sulthaniyah, Mesir, 1311 H, Jilid 2, Halaman 44, Hadits nomor 4581.

[4] Abd Al-Rahman ibn Al-Fadl ibn Bahram ibn Abd Al-Shamad Al-Darimi, Sunan Al-Darimi, Dar Al-Mughni Li Nasyr Wa Al-Tauzi’, Saudi Arabia, 2000, Jilid 3, Halaman 1848, Hadits nomor 2845.

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post