Sejak dini Allah mempersiapkan Muhammad SAW, bahwa
beliau kelak akan diberi amanah untuk menjalankan tugas menjadi Rasulullah,
Allah menjaga kesucian Qalbu Nabi Muhammad dari pengaruh buruk sebelum dan
sesudah menjadi Nabi dan Rasul, Rasulullah Muhammad SAW menjalani pembersihan
Qalbu oleh Malaikat Jibril sebanyak empat kali, pembersihan Qalbu ini juga
dapat disebut sebagai Tazkiyatun Nafs, dalam buku ini gambaran proses
pembersihan qalbu Nabi Muhammad SAW dikemukakan dalam bentuk riwayat hadits.
2.1. Pembersihan Qalbu Pertama,
Pada usia 4 tahun, yang tergambar dalam Kitab
Shahih Muslim Hadits nomor 261 berikut:
حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ
حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ عَنْ أَنَسِ
بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ
جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ
فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ فَاسْتَخْرَجَ الْقَلْبَ
فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً فَقَالَ هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ ثُمَّ
غَسَلَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ لَأَمَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ
فِي مَكَانِهِ وَجَاءَ الْغِلْمَانُ يَسْعَوْنَ إِلَى أُمِّهِ يَعْنِي ظِئْرَهُ
فَقَالُوا إِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ قُتِلَ فَاسْتَقْبَلُوهُ وَهُوَ مُنْتَقِعُ
اللَّوْنِ قَالَ أَنَسٌ وَقَدْ كُنْتُ أَرْئِي أَثَرَ ذَلِكَ الْمِخْيَطِ فِي
صَدْرِهِ .[1]
Artinya: Telah menceritakan kepada
kami Syaiban bin Farrukh telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah
telah menceritakan kepada kami Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik bahwa
Rasulullah SAW didatangi Jibril shallallahu 'alaihi wasallam, saat beliau
sedang bermain bersama anak-anak. Malaikat itu kemudian mengambil lalu
merebahkan beliau, lalu membelah hatinya, mengeluarkan hati dan mengeluarkan
segumpal darah darinya seraya berkata, 'Ini bagian setan darimu kemudian
mencucinya dalam bejana dari emas dengan air Zamzam', kemudian malaikat
menjahitnya dan kemudian mengembalikannya ke tempat semula. Anak-anak lalu
datang dan mengadu kepada ibu susuannya, mereka berkata, 'Sesungguhnya Muhammad
telah dibunuh.' Orang-orang lalu menyambut beliau dengan wajah pucat pasi
(karena ketakutan) '." Anas berkata, "Aku telah melihat bekas jahitan
tersebut pada dada beliau."
Ditinjau dari perkembangan psikologis pada usia
satu sampai dua tahun seorang anak akan menangkap nilai sesuatu dan meyakininya
berdasar apa yang dia dengar dan lihat, karena fungsi logikanya belum tumbuh di
usia ini karakter seseorang terbentuk dan melekat kuat hingga dewasa, sedangkan
di usia tiga tahun mulai tumbuh egonya dan mempunyai kemauan dan cara pandang
sendiri terhadap suatu hal, serta mulai munculnya emosi Bahagia dan sedih.
Sedangkan pada usia empat sampai lima tahun mulai
senang menjadi pusat perhatian biasanya menjadi salah satu karakter anak yang
terbentuk di usia tersebut. Namun demikian, jiwa sosialnya juga lebih matang
karena pada usia ini anak sudah mulai bisa bergaul dengan orang lain, dalam
perergaulan tidak menutup kemungkinan akan timbul konflik di antara mereka,
sehingga akan tampak sifat yang pemarah, pemaaf, penghibur, atau suka berbagi.
Pembersihan Qalbu pada usia 4 tahun secara
psikologis dapat dikatakan untuk membersihkan pengaruh nilai tidak baik yang
telah didengar, dilihat atau dialaminya dalam kurun waktu tersebut, yaitu;
membersihkan ego negatif dan sifat pemarah, sehingga tumbuh berkembang menjadi
anak yang berakhlaq mulia.
2.2. Pembersihan Qalbu Kedua
Pada usia 10 tahun dapat digambarkan di dalam kitab
Musnad Ahmad Hadits nomor 21261 berikut:
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ أَبُو يَحْيَى الْبَزَّازُ
حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُعَاذِ بْنِ
مُحَمَّدِ بْنِ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، حَدَّثَنِي أَبِي مُحَمَّدُ بْنُ مُعَاذٍ،
عَنْ مُعَاذٍ، عَنْ مُحَمَّدٍ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ: أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ
كَانَ جَرِيًّا عَلَى أَنْ يَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ عَنْ أَشْيَاءَ لَا يَسْأَلُهُ عَنْهَا غَيْرُهُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ
اللَّهِ، مَا أولُ مَا رَأَيْتَ مِنْ أَمْرِ النُّبُوَّةِ؟ فَاسْتَوَى رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا وَقَالَ: "لَقَدْ سألتَ
يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، إِنِّي لَفِي الصَّحْرَاءِ ابنُ عَشْرِ سِنِينَ وَأَشْهُرٍ،
وَإِذَا بِكَلَامٍ فَوْقَ رَأْسِي، وَإِذَا رَجُلٌ يَقُولُ لِرَجُلٍ: أَهُوَ هُوَ؟ [قَالَ:
نَعَمْ] فَاسْتَقْبَلَانِي بِوُجُوهٍ لَمْ أَرَهَا [لِخَلْقٍ] قَطُّ، وَأَرْوَاحٍ
لَمْ أَجِدْهَا مِنْ خَلْقٍ قَطُّ، وَثِيَابٍ لَمْ أَرَهَا عَلَى أَحَدٍ قَطُّ.
فَأَقْبَلَا إِلَيَّ يَمْشِيَانِ، حَتَّى أَخَذَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بعَضُدي،
لَا أَجِدُ لِأَحَدِهِمَا مَسًّا، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: أَضْجِعْهُ.
فَأَضْجَعَانِي بِلَا قَصْر وَلَا هَصْر. فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ:
افْلِقْ صَدْرَهُ. فَهَوَى أَحَدُهُمَا إِلَى صَدْرِي فَفَلَقَهُ فِيمَا أَرَى
بِلَا دَمٍ وَلَا وَجَعٍ، فَقَالَ لَهُ: أَخْرِجِ الغِلّ والحَسَد. فَأَخْرَجَ
شَيْئًا كَهَيْئَةِ الْعَلَقَةِ ثُمَّ نَبَذَهَا فَطَرَحَهَا، فَقَالَ لَهُ:
أَدْخِلِ الرَّأْفَةَ وَالرَّحْمَةَ، فَإِذَا مِثْلُ الَّذِي أَخْرَجَ شبهُ الفضة،
ثم هز إِبْهَامَ رِجْلِي الْيُمْنَى فَقَالَ: اغدُ وَاسْلَمْ. فَرَجَعْتُ بِهَا
أَغْدُو، رِقَّةً عَلَى الصَّغِيرِ، وَرَحْمَةً لِلْكَبِيرِ" [2]
Artinya: Telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abdur Rahim
alias Abu Yahya Al-Bazzar, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad,
telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnu Muhammad ibnu Ubay ibnu Ka'b, telah
menceritakan kepadaku Abu Muhammad ibnu Mu'az, dari Muhammad, dari Ubay ibnu
Ka'b, bahwa Abu Hurairah adalah orang yang paling berani menanyakan kepada Rasulullah Saw. tentang berbagai masalah yang tidak ada seorang pun berani
menanyakannya kepada beliau Saw. selain dia. Maka Abu Hurairah bertanya,
"Wahai Rasulullah, apakah yang
mula-mula engkau Iihat dari urusan kenabian ini?" Rasulullah Saw. Duduk
tegak dan menjawab: Sesungguhnya engkau telah menanyakan hal yang berbobot, hai
Abu Hurairah! Sesungguhnya ketika usiaku menginjak sepuluh tahun lebih beberapa
bulan, aku berada di padang Sahara. Tiba-tiba aku mendengar pembicaraan di atas
kepalaku, dan ternyata ada seorang laki-laki yang berbicara kepada laki-laki
lainnya, "Apakah orang ini adalah dia?” Maka keduanya datang menyambutku
dengan penampilan wajah yang sama sekali belum pernah kulihat sebelumnya, dan
sama sekali belum pernah pula aku melihat arwah seperti itu sebelumnya, dan
belum pernah pula aku melihat pakaian yang dikenakannya pernah dikenakan oleh
seseorang. Keduanya datang kepadaku dengan jalan kaki, hingga masing-masing
dari keduanya memegang kedua lenganku, tetapi anehnya aku tidak merasa sentuhan
tangan keduanya. Salah seorang berkata kepada yang lainnya, 'Rebahkanlah dia.'
Lalu keduanya merebahkan diriku tanpa paksa dan tanpa sulit. Kemudian salah
seorangnya berkata kepada yang lainnya, "Belahlah dadanya, " maka
salah seorangnya menurut penglihatanku membelah dadaku tanpa ada darah yang
mengalir dan tanpa rasa sakit. Lalu berkata kepada yang membelahku,
"Keluarkanlah iri hati dan dengki.” Lalu ia mengeluarkan sesuatu yang
bentuknya seperti segumpal darah, kemudian ia membuangnya jauh-jauh. Dan
berkata lagi ia kepada orang yang membelahku, "Masukkanlah lemah lembut
dan kasih sayang.” Maka tiba-tiba kulihat sesuatu sebesar apa yang baru
dikeluarkan, bentuknya mengilap seperti perak (dimasukkan ke dalam dadaku),
kemudian ia mengguncangkan jempol kakiku yang sebelah kanan, dan berkata,
"Kembalikanlah ke semula dalam keadaan utuh.” Maka setelah itu aku pulang
dengan berlari dan terasa dadaku dipenuhi oleh perasaan lembut terhadap anak
kecil dan kasih sayang kepada orang dewasa.
Pembersihan
qalbu Nabi Muhammad pada usia 10 tahun ini tujuannya lebih jelas, sebagaimana
disebutkan di dalam hadits di atas yaitu untuk mengeluarkan sifat iri hati dan
dengki, dan dimasukkan sifat lemah lembut dan kasih sayang, sehingga setelah
itu yang dirasakan adalah dadaknya dipenuhi oleh perasaan lembut terhadap anak
kecil dan kasih sayang kepada orang dewasa.
2.3. Pembersihan Qalbu Ketiga
Pada
usia 40 tahun, sebagai persiapan menjelang penerimaan wahyu pertama, tergambar
dalam kitab Dalail
Al-Nubuwah Li Abu Nu’aim Al-Asbahani,
Musnad
Ishaq Ibn Rahawiyah, dan Bughyah Al-Bahits ‘An
Zawaid Musnad Al-Harits:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلَّادٍ ثنا الْحَارِثُ بْنُ أَبِي
أُسَامَةَ ثنا دَاوُدُ بْنُ الْمُحَبَّرِ قَالَ: ثنا حَمَّادٌ، عَنْ أَبِي
عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ بَابَنُوسَ، عَنْ عَائِشَةَ ﵂ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ نَذَرَ أَنْ
يَعْتَكِفَ شَهْرًا هُوَ وَخَدِيجَةُ بِحِرَاءٍ فَوَافَقَ ذَلِكَ شَهْرَ رَمَضَانَ
فَخَرَجَ النبي ﷺ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَسَمِعَ: السَّلَامُ عَلَيْكَ فَظَنَنْتُهَا
فَجْأَةَ الْجِنِّ فَجِئْتُ مُسْرِعًا حَتَّى دَخَلْتُ عَلَى خَدِيجَةَ
فَسَجَّتْنِي ثَوْبًا وَقَالَتْ: مَا شَأْنُكَ يَا ابْنَ عَبْدِ اللَّهِ؟
فَقُلْتُ: سَمِعْتُ: السَّلَامُ عَلَيْكَ فَظَنَنْتُهَا فَجْأَةَ الْجِنِّ
فَقَالَتْ: أَبْشِرْ يَا ابْنَ عَبْدِ اللَّهِ فَإِنَّ السَّلَامَ خَيْرٌ قَالَ:
ثُمَّ خَرَجْتُ مَرَّةً فَإِذَا بِجِبْرِيلَ عَلَى الشَّمْسِ جَنَاحٌ لَهُ بِالْمَشْرِقِ
وَجَنَاحٌ لَهُ بِالْمَغْرِبِ قَالَ: فَهِلْتُ مِنْهُ فَجِئْتُ مُسْرِعًا فَإِذَا
هُوَ بَيْنِي وَبَيْنَ الْبَابِ فَكَلَّمَنِي حَتَّى أَنِسْتُ بِهِ ثُمَّ
وَعَدَنِي مَوْعِدًا فَجِئْتُ لَهُ فَأَبْطَأَ عَلَيَّ فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْجِعَ
فَإِذَا أَنَا بِهِ وَمِيكَائِيلُ قَدْ سَدَّا الْأُفُقَ فَهَبَطَ جِبْرِيلُ
وَبَقِيَ مِيكَائِيلُ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَأَخَذَنِي جِبْرِيلُ
فَاسْتَلْقَانِي لِحَلَاوَةِ الْقَفَا ثُمَّ شَقَّ عَنْ قَلْبِي فَاسْتَخْرَجَهُ
ثُمَّ اسْتَخْرَجَ مِنْهُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَسْتَخْرِجَ ثُمَّ غَسَلَهُ فِي
طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ أَعَادَهُ مَكَانَهُ ثُمَّ لَأَمَهُ
ثُمَّ أَكْفَأَنِي كَمَا يُكْفَأُ الْأَدِيمُ ثُمَّ خَتَمَ فِي ظَهْرِي حَتَّى
وَجَدْتُ مَسَّ الْخَاتَمِ فِي قَلْبِي ثُمَّ قَالَ: اقْرَأْ وَلَمْ أَكُ قَرَأْتُ
كِتَابًا قَطُّ فَلَمْ أَجِدْ مَا أَقْرَأُ ثُمَّ قَالَ: اقْرَأْ قُلْتُ: مَا
أَقْرَأُ؟ قَالَ: ﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ﴾ [العلق: ١] حَتَّى
انْتَهَى إِلَى خَمْسِ آيَاتٍ مِنْهَا، فَمَا نَسِيتُ شَيْئًا بَعْدُ ثُمَّ
وَزَنَنِي بِرَجُلٍ فَوَزَنْتُهُ ثُمَّ وَزَنَنِي بِآخَرَ فَوَزَنْتُهُ حَتَّى
وَزَنَنِي بِمِائَةِ رَجُلٍ فَقَالَ مِيكَائِيلُ: تَبِعَتْهُ أُمَّتُهُ وَرَبِّ
الْكَعْبَةِ فَجَعَلْتُ لَا يَلْقَانِي حَجَرٌ وَلَا شَجَرٌ إِلَّا قَالَ:
السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَتَّى دَخَلْتُ عَلَى خَدِيجَةَ
قَالَتِ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ "
[3]
Artinya: Abu Bakar bin Khallad telah menceritakan kepada kami;
Al-Harits bin Abi Usamah telah menceritakan kepada kami; Dawud bin Al-Muhabbar
telah menceritakan kepada kami; ia berkata: Hammad telah menceritakan kepada
kami dari Abu ‘Imran Al-Juni, dari Yazid bin Babanus, dari ‘Aisyah radhiyallāhu
‘anhā, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bernazar untuk beritikaf selama sebulan bersama Khadijah
di Gua Hira, lalu hal itu bertepatan dengan bulan Ramadan. Maka Rasulullah ﷺ keluar pada suatu malam, lalu beliau mendengar suara: “Assalāmu
‘alaika (semoga keselamatan atasmu).” Aku pun mengira itu adalah serangan jin
secara tiba-tiba, maka aku segera pulang cepat hingga masuk menemui Khadijah.
Lalu Khadijah menyelimuti aku dan berkata, “Ada apa denganmu, wahai Ibn
‘Abdillah?” Aku berkata, “Aku mendengar ucapan: ‘Assalāmu ‘alaika’, maka aku
mengira itu serangan jin.” Khadijah berkata, “Bergembiralah wahai Ibn
‘Abdillah, karena salam itu adalah kebaikan.” Beliau berkata: Kemudian aku
keluar lagi, tiba-tiba Jibril tampak berdiri di atas matahari, salah satu
sayapnya berada di arah timur dan sayap lainnya di arah barat. Maka aku pun
ketakutan lalu kembali dengan cepat, ternyata ia sudah berada di antara aku dan
pintu. Ia berbicara kepadaku hingga aku merasa tenang dengannya. Kemudian ia
menjanjikanku suatu waktu, maka aku datang menemuinya, tetapi ia terlambat
datang. Aku pun ingin kembali, tiba-tiba ia telah datang bersama Mikail, dan
keduanya telah memenuhi ufuk. Maka Jibril turun, sedangkan Mikail tetap berada
antara langit dan bumi. Lalu Jibril memegangku dan membaringkanku dengan lembut
di atas tengkukku, kemudian ia membelah dadaku dan mengeluarkan hatiku, lalu
mengeluarkan sesuatu darinya sesuai yang Allah kehendaki untuk dikeluarkan.
Setelah itu ia mencucinya dalam sebuah bejana dari emas berisi air zamzam,
kemudian mengembalikannya pada tempatnya dan merapatkan kembali. Kemudian ia
membaringkanku sebagaimana kulit yang ditegakkan lalu membaliknya, kemudian ia
menyegel punggungku hingga aku merasakan bekas segel itu di dalam hatiku. Lalu
ia berkata: “Bacalah!” Padahal aku belum pernah membaca suatu tulisan sama
sekali, dan aku tidak menemukan apa yang harus kubaca. Ia kembali berkata:
“Bacalah!” Aku berkata, “Apa yang harus aku baca?” Maka ia berkata: ‘Iqra’ bismi
rabbika alladzī khalaq…’ hingga lima ayat darinya, dan aku tidak melupakan
sesuatu pun setelah itu. Kemudian ia menimbangku dengan seorang lelaki, maka
aku lebih berat darinya; ia menimbangku dengan lelaki lain, dan aku lebih berat
darinya; hingga ia menimbangku dengan seratus orang lelaki, dan aku tetap lebih
berat. Mikail berkata, “Sungguh umatnya akan mengikutinya, demi Tuhan Ka‘bah.”
Maka sejak itu, tidaklah aku melewati batu ataupun pohon kecuali semuanya
berkata, “Assalāmu ‘alaika yā Rasūlallāh,” hingga aku masuk menemui Khadijah.
Maka Khadijah berkata, “Assalāmu ‘alaika yā Rasūlallāh.”
Setelah pembersihan jiwa pada usia 10 tahun maka ada kurun waktu
20 tahun hingga usia 40 tahun, dalam usia 11 tahun hingga 40 tahun adalah usia
produktif, dalam kurun usia tersebut akan banyak aktifitas yang menghasilkan
harta, mendapatkan pasangan hidup dan keturunan. Secara psikologis akan dapat
menumbuhkan perasaan cinta kepada harta, wanita dan keturunan, sehingga qalbu
Nabi Muhammad SAW dibersihkan kembali pada usia 40 tahun, agar qalbunya siap
meneriwa wahyu dan menjalankan tugas sebagai Rasulullah.
2.4. Pembersihan Qalbu Keempat
Pada usia 50 tahun, saat menjelang Isra’ Mi’raj
tergambar di dalam kitab shahih Bukhari Hadits nomor 7079 berikut;.
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ: حَدَّثَنِي
سُلَيْمَانُ، عَنْ شَرِيكِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ
بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ
مِنْ مَسْجِدِ الْكَعْبَةِ: أَنَّهُ جَاءَهُ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ قَبْلَ أَنْ يُوحَى
إِلَيْهِ، وَهُوَ نَائِمٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، فَقَالَ أَوَّلُهُمْ:
أَيُّهُمْ هُوَ؟ فَقَالَ أَوْسَطُهُمْ: هُوَ خَيْرُهُمْ، فَقَالَ آخِرُهُمْ:
خُذُوا خَيْرَهُمْ، فَكَانَتْ تِلْكَ اللَّيْلَةَ، فَلَمْ يَرَهُمْ حَتَّى
أَتَوْهُ لَيْلَةً أُخْرَى، فِيمَا يَرَى قَلْبُهُ، وَتَنَامُ عَيْنُهُ وَلَا
يَنَامُ قَلْبُهُ، وَكَذَلِكَ الْأَنْبِيَاءُ تَنَامُ أَعْيُنُهُمْ وَلَا تَنَامُ
قُلُوبُهُمْ، فَلَمْ يُكَلِّمُوهُ حَتَّى احْتَمَلُوهُ، فَوَضَعُوهُ عِنْدَ بِئْرِ
زَمْزَمَ، فَتَوَلَّاهُ مِنْهُمْ جِبْرِيلُ، فَشَقَّ جِبْرِيلُ مَا بَيْنَ
نَحْرِهِ إِلَى لَبَّتِهِ، حَتَّى فَرَغَ مِنْ صَدْرِهِ وَجَوْفِهِ، فَغَسَلَهُ
مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ بِيَدِهِ، حَتَّى أَنْقَى جَوْفَهُ، ثُمَّ أُتِيَ بِطَسْتٍ
مِنْ ذَهَبٍ فِيهِ تَوْرٌ مِنْ ذَهَبٍ، مَحْشُوًّا إِيمَانًا وَحِكْمَةً، فحُشي
بِهِ صَدْرَهُ وَلَغَادِيدَهُ، يَعْنِي عُرُوقَ حَلْقِهِ، ثُمَّ أَطْبَقَهُ ثُمَّ
عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَضَرَبَ
بَابًا مِنْ
أَبْوَابِهَا، فَنَادَاهُ أَهْلُ السَّمَاءِ: مَنْ هَذَا؟ فَقَالَ: جِبْرِيلُ،
قَالُوا: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مَعِيَ مُحَمَّدٌ، قَالَ: وَقَدْ بُعِثَ؟ قَالَ:
نَعَمْ، قَالُوا: فَمَرْحَبًا بِهِ وَأَهْلًا، فَيَسْتَبْشِرُ بِهِ أَهْلُ
السَّمَاءِ، لَا يَعْلَمُ أَهْلُ السَّمَاءِ بِمَا يُرِيدُ اللَّهُ بِهِ فِي
الْأَرْضِ حَتَّى يُعْلِمَهُمْ، فَوَجَدَ فِي السَّمَاءِ الدُّنْيَا آدَمَ،
فَقَالَ لَهُ جِبْرِيلُ: هَذَا أَبُوكَ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، فَسَلَّمَ عَلَيْهِ
وَرَدَّ عَلَيْهِ آدَمُ وَقَالَ: مَرْحَبًا وَأَهْلًا بِابْنِي، نِعْمَ الِابْنُ
أَنْتَ، فَإِذَا هُوَ فِي السَّمَاءِ الدُّنْيَا بِنَهَرَيْنِ يَطَّرِدَانِ،
فَقَالَ: (مَا هَذَانِ النَّهَرَانِ يَا جِبْرِيلُ). قَالَ: هَذَا النِّيلُ
وَالْفُرَاتُ عُنْصُرُهُمَا، ثُمَّ مَضَى بِهِ فِي السَّمَاءِ فَإِذَا هُوَ
بِنَهَرٍ آخَرَ، عَلَيْهِ قَصْرٌ مِنْ لُؤْلُؤٍ وَزَبَرْجَدٍ، فَضَرَبَ يَدَهُ
فَإِذَا هُوَ مِسْكٌ أَذْفَرُ، قَالَ: (مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ). قَالَ: هَذَا
الْكَوْثَرُ الَّذِي خَبَأَ لَكَ رَبُّكَ، ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ
الثَّانِيَةِ، فَقَالَتِ الْمَلَائِكَةُ لَهُ مِثْلَ مَا قَالَتْ لَهُ الْأُولَى:
مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ، قَالُوا: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ ﷺ،
قَالُوا: وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالُوا مَرْحَبًا بِهِ
وَأَهْلًا، ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ، وَقَالُوا لَهُ
مِثْلَ مَا قَالَتِ الْأُولَى وَالثَّانِيَةُ، ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى
الرَّابِعَةِ، فَقَالُوا لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُم عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ
الْخَامِسَةِ، فَقَالُوا مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ
السَّادِسَةِ، فَقَالُوا لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ
السَّابِعَةِ، فَقَالُوا لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ، كُلُّ سَمَاءٍ فِيهَا أَنْبِيَاءُ
قَدْ سَمَّاهُمْ، فوعيت مِنْهُمْ إِدْرِيسَ فِي الثَّانِيَةِ، وَهَارُونَ فِي
الرَّابِعَةِ، وَآخَرَ فِي الْخَامِسَةِ لَمْ أَحْفَظْ اسْمَهُ، وَإِبْرَاهِيمَ
فِي السَّادِسَةِ، وَمُوسَى فِي السَّابِعَةِ بِتَفْضِيلِ كَلَامِ اللَّهِ،
فَقَالَ مُوسَى: رَبِّ لَمْ أَظُنَّ أَنْ ترفع عَلَيَّ أحدًا، ثُمَّ عَلَا بِهِ
فَوْقَ ذَلِكَ بِمَا لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا اللَّهُ، حَتَّى جَاءَ سِدْرَةَ
الْمُنْتَهَى، وَدَنَا الجبَّار رَبُّ الْعِزَّةِ، فَتَدَلَّى حَتَّى كَانَ مِنْهُ
قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى، فَأَوْحَى اللَّهُ فِيمَا أَوْحَى إِلَيْهِ:
خَمْسِينَ صَلَاةً عَلَى أُمَّتِكَ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، ثُمَّ هَبَطَ حَتَّى
بَلَغَ مُوسَى، فَاحْتَبَسَهُ مُوسَى فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ مَاذَا عَهِدَ
إِلَيْكَ رَبُّكَ؟ قَالَ: (عَهِدَ إِلَيَّ خَمْسِينَ صَلَاةً كُلَّ يَوْمٍ
وَلَيْلَةٍ). قَالَ: إِنَّ أُمَّتَكَ لَا تَسْتَطِيعُ ذَلِكَ،
فَارْجِعْ فَلْيُخَفِّفْ عَنْكَ رَبُّكَ وَعَنْهُمْ، فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ ﷺ
إِلَى جِبْرِيلَ كَأَنَّهُ يَسْتَشِيرُهُ فِي ذَلِكَ، فَأَشَارَ إِلَيْهِ
جِبْرِيلُ: أَنْ نَعَمْ إِنْ شِئْتَ، فَعَلَا بِهِ إِلَى الْجَبَّارِ، فَقَالَ
وَهُوَ مَكَانَهُ: (يَا رَبِّ خَفِّفْ عَنَّا، فَإِنَّ أُمَّتِي لَا تَسْتَطِيعُ
هَذَا). فَوَضَعَ عَنْهُ عَشْرَ صَلَوَاتٍ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى مُوسَى
فَاحْتَبَسَهُ، فَلَمْ يَزَلْ يُرَدِّدُهُ مُوسَى إِلَى رَبِّهِ حَتَّى صَارَتْ
إِلَى خَمْسِ صَلَوَاتٍ، ثُمَّ احْتَبَسَهُ مُوسَى عِنْدَ الْخَمْسِ فَقَالَ: يَا
مُحَمَّدُ، وَاللَّهِ لَقَدْ رَاوَدْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ قَوْمِي عَلَى أَدْنَى
مِنْ هَذَا فَضَعُفُوا فَتَرَكُوهُ، فَأُمَّتُكَ أَضْعَفُ أَجْسَادًا وَقُلُوبًا
وَأَبْدَانًا وَأَبْصَارًا وَأَسْمَاعًا، فَارْجِعْ فَلْيُخَفِّفْ عَنْكَ رَبُّكَ،
كُلَّ ذَلِكَ يَلْتَفِتُ النَّبِيُّ ﷺ إِلَى جِبْرِيلَ لِيُشِيرَ عَلَيْهِ، وَلَا
يَكْرَهُ ذَلِكَ جِبْرِيلُ، فَرَفَعَهُ عِنْدَ الْخَامِسَةِ فَقَالَ: (يَا رَبِّ
إِنَّ أُمَّتِي ضُعَفَاءُ، أَجْسَادُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ وَأَسْمَاعُهُمْ
وَأَبْدَانُهُمْ، فَخَفِّفْ عَنَّا). فَقَالَ الْجَبَّارُ: يَا مُحَمَّدُ، قَالَ:
(لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ). قَالَ: إِنَّهُ لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ، كَمَا
فرضت عَلَيْكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ، قَالَ: فَكُلُّ حَسَنَةٍ بِعَشْرِ
أَمْثَالِهَا، فَهِيَ خَمْسُونَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ، وَهِيَ خَمْسٌ عَلَيْكَ،
فَرَجَعَ إِلَى مُوسَى فَقَالَ: كَيْفَ فَعَلْتَ؟ فَقَالَ: (خَفَّفَ عَنَّا،
أَعْطَانَا بِكُلِّ حَسَنَةٍ عَشْرَ أَمْثَالِهَا). قَالَ مُوسَى: قَدْ وَاللَّهِ
رَاوَدْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ فَتَرَكُوهُ، ارْجِعْ
إِلَى رَبِّكَ فَلْيُخَفِّفْ عَنْكَ أَيْضًا، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: (يَا
مُوسَى، قَدْ وَاللَّهِ اسْتَحْيَيْتُ مِنْ رَبِّي مِمَّا اخْتَلَفْتُ إِلَيْهِ).
قَالَ: فَاهْبِطْ بِاسْمِ اللَّهِ، قَالَ: وَاسْتَيْقَظَ وَهُوَ فِي مَسْجِدِ الْحَرَامِ. [4]
Artinya: Abdul ‘Azīz bin ‘Abdillāh meriwayatkan kepada kami, ia
berkata: Sulaimān telah menceritakan kepadaku dari Syarīk bin ‘Abdillāh bahwa
ia berkata: Aku mendengar Anas bin Mālik berkata: Pada malam ketika Rasulullah ﷺ diperjalankan (Isrā’), dari Masjidil Ka‘bah, datang kepada
beliau tiga orang sebelum turunnya wahyu ketika beliau sedang tidur di
al-Masjid al-Harām; maka orang pertama dari mereka berkata: “Yang mana dia?”
Lalu yang tengah berkata: “Dia adalah yang terbaik dari mereka,” kemudian yang
terakhir berkata: “Ambillah yang terbaik dari mereka.” Itu terjadi pada malam
tersebut dan beliau tidak melihat mereka hingga mereka datang pada malam lain,
sebagaimana dilihat oleh hatinya, sementara matanya tidur namun hatinya tidak
tidur; demikianlah para nabi, mata mereka tidur tetapi hati mereka tidak tidur.
Mereka tidak berbicara kepada beliau hingga mereka membawanya dan meletakkannya
di dekat sumur Zamzam; lalu Jibrīl menangani beliau dengan membelah antara
pangkal leher sampai bagian atas perut, hingga selesai dari dada dan rongga
dalamnya, kemudian mencucinya dengan air Zamzam menggunakan tangannya hingga
bersihlah bagian dalamnya. Setelah itu didatangkan sebuah bejana dari emas yang
di dalamnya terdapat sebuah cerek emas berisi iman dan hikmah, lalu diisikan ke
dalam dada dan urat-urat leher beliau, kemudian ditutup kembali. Setelah itu
Jibrīl membawa beliau naik ke langit dunia lalu mengetuk salah satu pintunya;
penduduk langit bertanya: “Siapa ini?” Ia menjawab: “Jibrīl.” Mereka bertanya:
“Siapa bersamamu?” Ia menjawab: “Bersamaku Muhammad.” Mereka bertanya: “Apakah
telah diutus?” Ia menjawab: “Ya.” Mereka berkata: “Selamat datang dan selamat
atas kedatangannya.” Maka penduduk langit bergembira menerima beliau, karena mereka
tidak mengetahui apa yang Allah kehendaki bagi beliau di bumi hingga Allah
memberi tahu mereka. Beliau mendapati Adam di langit dunia; Jibrīl berkata:
“Ini ayahmu, maka ucapkanlah salam kepadanya.” Beliau pun memberi salam dan
Adam menjawab salam beliau seraya berkata: “Selamat datang wahai anakku,
sebaik-baik anak engkau.” Lalu beliau melihat dua sungai mengalir di langit
dunia, maka beliau bertanya: “Wahai Jibrīl, apa kedua sungai ini?” Ia menjawab:
“Ini adalah Nil dan Furat (yang asal-usulnya dari sini).” Kemudian dibawa naik
dan melihat sebuah sungai lain yang di atasnya terdapat istana dari mutiara dan
zamrud; Jibrīl memukulnya (mengambil dari sungai itu) dengan tangannya,
ternyata baunya seperti kesturi yang sangat harum. Beliau bertanya: “Apa ini
wahai Jibrīl?” Ia menjawab: “Ini adalah al-Kautsar yang Tuhanmu simpan
untukmu.” Lalu beliau diangkat ke langit kedua dan para malaikat berkata
seperti ucapan sebelumnya. Kemudian beliau diangkat ke langit ketiga, keempat,
kelima, keenam, dan ketujuh; semuanya menyampaikan seperti ucapan yang pertama.
Di setiap langit ada para nabi dan Anas mengingat: Idrīs di langit kedua, Hārūn
di keempat, seorang nabi di kelima yang tidak ia hafal namanya, Ibrāhīm di
keenam, dan Mūsā di langit ketujuh yang dimuliakan dengan kalāmullāh. Maka Mūsā
berkata: “Wahai Rabb, aku tidak menduga Engkau mengangkat seseorang di atasku.”
Lalu beliau dinaikkan ke tempat yang lebih tinggi hingga sampai ke Sidratul
Muntahā; lalu al-Jabbār, Rabb al-‘Izzah, mendekat dan semakin mendekat hingga
jaraknya seukuran dua busur panah atau lebih dekat lagi. Lalu Allah mewahyukan
kepada beliau lima puluh salat (fardu) untuk umatnya setiap hari dan malam.
Setelah itu beliau turun hingga berjumpa dengan Mūsā, maka Mūsā menahan beliau
dan bertanya: “Apa yang Tuhanmu perintahkan kepadamu?” Beliau menjawab: “Dia
memerintahkanku lima puluh salat setiap hari dan malam.” Mūsā berkata: “Umatmu
tidak akan mampu melaksanakannya. Kembalilah dan mintalah keringanan.” Nabi ﷺ pun menoleh kepada Jibrīl seakan meminta pendapat dan Jibrīl
memberi isyarat agar beliau kembali. Maka beliau naik lagi dan berkata: “Wahai
Rabb, ringankanlah dari kami, karena umatku tidak sanggup.” Maka Allah
mengurangi sepuluh salat. Beliau kembali kepada Mūsā yang kembali meminta
beliau untuk memohon keringanan, hingga salat itu menjadi lima. Ketika tinggal
lima, Mūsā masih menahan beliau seraya berkata: “Umatmu lebih lemah fisik,
hati, tubuh, penglihatan, dan pendengaran daripada kaumku; mintalah lagi
keringanan.” Nabi ﷺ kembali menoleh kepada
Jibrīl dan beliau tidak keberatan. Lalu diangkatlah beliau dan berkata: “Wahai
Rabb, umatku lemah fisik, hati, pendengaran, dan tubuh mereka; ringankanlah
dari kami.” Allah berfirman: “Wahai Muhammad.” Nabi menjawab: “Aku penuhi
panggilan-Mu dan bahagia dengan perintah-Mu.” Allah berfirman: “Ucapan-Ku tidak
akan diubah; sebagaimana telah Aku tetapkan dalam Ummul Kitāb. Setiap kebaikan
bernilai sepuluh kali lipatnya; maka lima ini setara lima puluh dalam Ummul
Kitāb dan lima yang wajib bagimu.” Beliau kembali kepada Mūsā, dan Mūsā
bertanya: “Bagaimana hasilnya?” Beliau menjawab: “Allah telah meringankan dari
kami dan memberi sepuluh kali lipat bagi setiap kebaikan.” Mūsā berkata: “Aku
telah memohon keringanan untuk Bani Israil pada yang lebih ringan dari ini
tetapi mereka tetap tidak sanggup; kembalilah dan mintalah lagi.” Nabi ﷺ bersabda: “Wahai Mūsā, demi Allah aku sudah malu kepada Rabbku
karena terus-menerus kembali kepada-Nya.” Mūsā berkata: “Turunlah dengan nama
Allah.” Lalu beliau terbangun sedang berada di Masjidil Harām.
Sebelum
diisra’ dan mi’rajkan oleh Allah, Rasulullah mengalami kesedihan ditinggal
wafat istri beliau Khadijah RA dan pamannya Abu Thalib, keduanya merupakan
orang-orang sangat dicintai Nabi, sekaligus sebagai tokoh masyarakat yang
banyak memberikan dukungan dan perlindungan Nabi Muhammad dalam melaksanakan
misi dakwah, secara psikologis Nabi merasa kehilangan tempat bersandar, hal
inilah yang perlu dibersihkan agar Rasulullah hanya menyandarkan kehidupannya
hanya kepada Allah dan menjadikan Allah sebagai Dzat yang paling dicintai.
Pembersihan
Qalbu pada diri Rasulullah Muhammad SAW, merupakan hal istimewa yang hanya
terjadi pada beliau, juga merupakan salah satu Mu’jizat beliau, sehingga tidak
dapat dilakukan untuk manusia selainnya. Proses pembersihan qalbu Rasulullah
SAW di atas perlu dikemukan untuk menggambarkan begitu pentingnya proses
pembersihan qalbu dilakukan, seorang Nabi terakhir perlu mengalami empat kali
proses pembersihan qalbu, apalagi kita sebagai manusia biasa.
Nabi
Muhammad mengalami pembersihan Qalbu dengan cara dibelah dadanya oleh malaikat
Jibril atas perintah Allah, kemudian diambil jantungnya lalu dicuci dengan air
zam-zam di dalam baskom emas, setelah dicuci dibersihkan bagian yang datangnya
dari setan (sifat tidak baik), setelah dibrsihkan kemudian diisi iman dan
hikmah, setelah itu jantungnya dikembalikan ketempatnya lagi, kemudian dadanya
ditutup dan dijahit kembali, begitulah cara Allah membersihkan qalbu nabi
Muhammad SAW, agar dapat menerima hidayah Allah kemudian dapat menyampiakan
hidayah tersebut kepada umatnya. Sedangkan kita sebagai umatnya dapat
membersihkan qalbu dengan cara menggunakan amal ibadah mengikuti petunjuk Al
Quran yang telah diturunkan kepada Rasulullah SAW dan sunah nabi Muhammad SAW.