21/09/2026

3. Tazkiyah Al-Nafs Dalam Al Quran

 3.  Tazkiyah Al-Nafs Dalam Al Quran

Visi dan misi Rasulullah adalah; menelaah ayat-ayat Allah, mengajarkan kitab dan hikmah, serta mensucikan aqidah dan akhlaq umatnya. sebagaimana doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim (bapak para Nabi) bersama Ismail ketika meninggikan bangunan ka’bah, doa tersebut diabadikan Allah di dalam Al Quran Surat Al-Baqarah/ 2: 129;

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya: Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Baqarah/ 2: 129)

Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim dan Ismail dengan mengutus Muhammad sebagai Rasulullah yang terlahir di tengah-tengah umat yang ada di sekitar Ka’bah, hal tersebut menjadi karunia yang besar bagi umat di Mekah saat itu, hal ini dinyatakan di dalam Al Quran Surat Ali 'Imran/ 3: 164;

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Artinya: Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Ali 'Imran/ 3: 164)

Visi dan misi rasul juga dimuat di dalam Al Quran Surat Al-Baqarah/ 2: 151 berikut;

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

Artinya: Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (QS. Al-Baqarah/ 2: 151)

Demikian juga di dalam Al Quran Surat Al-Jumu’ah/ 62: 2

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (QS. Al-Jumu’ah/ 62: 2)

Nabi Musa AS. juga mendapat tugas khusus dari Allah agar bertemu dengan raja Firaun untuk mensucikan jiwanya, episode pelaksanaan perintah tersebut diabadikan Allah SWT di dalam Al Quran surat An Naziat/ 79: 15 -25, berikut;

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى, إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى, اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى, فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى, وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَى, فَأَرَاهُ الْآيَةَ الْكُبْرَى, فَكَذَّبَ وَعَصَى, ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَى, فَحَشَرَ فَنَادَى, فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى,فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الْآخِرَةِ وَالْأُولَى, إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِمَنْ يَخْشَى .

Artinya: Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa. Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah Lembah Tuwa, "Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir'aun), "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)? Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?” Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menentang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya), lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata, "Akulah Tuhan kalian yang paling tinggi.” Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya). (QS. An Naziat/ 79: 15 -25)

Di ayat 17 Musa diperintah Allah untuk menemui Firaun dan memberitahukan bahwa sikap Firaun sudah melampau batas, sangat sombong, membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir, ayat 18 Musa diminta untuk menanyakan adakah kemauan untuk membersihkan diri dari kesalahan dan dosa yang telah dilakukan, ayat 19 menggambarkan jika mau membersihkan diri akan diberi petunjuk ke jalan yang benar.  Namun Firaun Justru mendustakan dan menentang Musa.

Nabi Muhammad juga mendapat tugas untuk memberikan pelajaran bagi orang yang hendak membersihkan diri, sehingga Nabi mendapat peringatan dari Allah atas sikap bermuka masamnya kepada seorang buta yang datang kepadanya saat Nabi Muhammad sedang bersama-sama dengan orang-orang kaya dan lebih memprioritaskan perhatiannya pada orang kaya, nabi diperingatkan untuk memperhatikan orang buta tersebut, karena bisa jadi orang buta itu hendak mensucikan diri dan menginginkan untuk mendapat pengajaran. Peringatan kepada Nabi untuk melaksanakan tugas, dengan prioritas bagi orang yang mau mensucikan diri, hal tersebut digambarkan di dalam Al Quran Surat ‘Abasa/ 80: 1-7

عَبَسَ وَتَوَلَّى, أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى, وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى, أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى, أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى, فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى, وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى

Artinya: Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (alasan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman)

Objek yang disucikan adalah Nasf yaitu jiwa (letaknya ada di dalam jantung), sebagaimana digambarkan Allah di dalam Al Quran Surat  Asy-Syams/ 91: 7-10:

 وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا, فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا, قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا, وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Artinya: “Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams/ 91: 7-10)

Allah memberi ilham ke dalam jiwa manusia dua buah potensi, yaitu Fujur (kefasikan) dan Taqwa (Kepatuhan), beruntung orang yang mensucikan jiwa dengan taqwa dan rugi orang yang mengotori jiwa dengan fujur. Kerugian orang yang mengotori jiwanya dengan dosa adalah kelak di akherat akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam, sedangkan keberuntungan orang yang mensucikan jiwanya akan dimasukkan ke dalam Surga yang penuh kenikmatan, tergambar di dalam Al Quran surat Thaha/ 20: 74-76;

إِنَّهُ مَنْ يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِمًا فَإِنَّ لَهُ جَهَنَّمَ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلا يَحْيَا, وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلا, جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّى

Artinya: Sesungguhnya barang siapa yang datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahanam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Dan barang siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (yaitu) surga Adn yang mengalir di bawahnya; mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang mensucikan diri. (QS. Thaha/ 20: 74-76)

Namun demikian juga terdapat peringatan yang dimuat di dalam Al Quran surat An-Najm/ 53: 32, yang mengingatkan untuk tidak merasa dirinya suci karena Allah-lah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa;

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Artinya: (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (QS. An-Najm/ 53: 32)

Peringatan serupa juga dimuat dalam hadits riwayat Imam Bukhari nomor  berikut

حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ الْفَضْلِ: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ زَيْنَبَ كَانَ اسْمُهَا بَرَّةَ، فَقِيلَ: تُزَكِّي نَفْسَهَا، فَسَمَّاهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ زَيْنَبَ.

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Al-Fadhl, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ja‘far, dari Syu‘bah, dari ‘Atha’ bin Abi Maimunah, dari Abu Rafi‘, dari Abu Hurairah, bahwa Zainab dahulu namanya Barrah. Lalu dikatakan (oleh orang-orang) bahwa nama itu seakan-akan menunjukkan bahwa ia menyucikan atau memuji dirinya sendiri. Maka Rasulullah ﷺ mengganti namanya menjadi Zainab.

20/09/2026

2. Tazkiyah Al-Nafs Rasulullah SAW

 2.  Tazkiyah Al-Nafs Rasulullah SAW

Sejak dini Allah mempersiapkan Muhammad SAW, bahwa beliau kelak akan diberi amanah untuk menjalankan tugas menjadi Rasulullah, Allah menjaga kesucian Qalbu Nabi Muhammad dari pengaruh buruk sebelum dan sesudah menjadi Nabi dan Rasul, Rasulullah Muhammad SAW menjalani pembersihan Qalbu oleh Malaikat Jibril sebanyak empat kali, pembersihan Qalbu ini juga dapat disebut sebagai Tazkiyatun Nafs, dalam buku ini gambaran proses pembersihan qalbu Nabi Muhammad SAW dikemukakan dalam bentuk riwayat hadits.

2.1. Pembersihan Qalbu Pertama,

Pada usia 4 tahun, yang tergambar dalam Kitab Shahih Muslim Hadits nomor 261 berikut:

حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ فَاسْتَخْرَجَ الْقَلْبَ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً فَقَالَ هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ لَأَمَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ فِي مَكَانِهِ وَجَاءَ الْغِلْمَانُ يَسْعَوْنَ إِلَى أُمِّهِ يَعْنِي ظِئْرَهُ فَقَالُوا إِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ قُتِلَ فَاسْتَقْبَلُوهُ وَهُوَ مُنْتَقِعُ اللَّوْنِ قَالَ أَنَسٌ وَقَدْ كُنْتُ أَرْئِي أَثَرَ ذَلِكَ الْمِخْيَطِ فِي صَدْرِهِ  .[1]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farrukh telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah menceritakan kepada kami Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW didatangi Jibril shallallahu 'alaihi wasallam, saat beliau sedang bermain bersama anak-anak. Malaikat itu kemudian mengambil lalu merebahkan beliau, lalu membelah hatinya, mengeluarkan hati dan mengeluarkan segumpal darah darinya seraya berkata, 'Ini bagian setan darimu kemudian mencucinya dalam bejana dari emas dengan air Zamzam', kemudian malaikat menjahitnya dan kemudian mengembalikannya ke tempat semula. Anak-anak lalu datang dan mengadu kepada ibu susuannya, mereka berkata, 'Sesungguhnya Muhammad telah dibunuh.' Orang-orang lalu menyambut beliau dengan wajah pucat pasi (karena ketakutan) '." Anas berkata, "Aku telah melihat bekas jahitan tersebut pada dada beliau."

Ditinjau dari perkembangan psikologis pada usia satu sampai dua tahun seorang anak akan menangkap nilai sesuatu dan meyakininya berdasar apa yang dia dengar dan lihat, karena fungsi logikanya belum tumbuh di usia ini karakter seseorang terbentuk dan melekat kuat hingga dewasa, sedangkan di usia tiga tahun mulai tumbuh egonya dan mempunyai kemauan dan cara pandang sendiri terhadap suatu hal, serta mulai munculnya emosi Bahagia dan sedih.

Sedangkan pada usia empat sampai lima tahun mulai senang menjadi pusat perhatian biasanya menjadi salah satu karakter anak yang terbentuk di usia tersebut. Namun demikian, jiwa sosialnya juga lebih matang karena pada usia ini anak sudah mulai bisa bergaul dengan orang lain, dalam perergaulan tidak menutup kemungkinan akan timbul konflik di antara mereka, sehingga akan tampak sifat yang pemarah, pemaaf, penghibur, atau suka berbagi.

Pembersihan Qalbu pada usia 4 tahun secara psikologis dapat dikatakan untuk membersihkan pengaruh nilai tidak baik yang telah didengar, dilihat atau dialaminya dalam kurun waktu tersebut, yaitu; membersihkan ego negatif dan sifat pemarah, sehingga tumbuh berkembang menjadi anak yang berakhlaq mulia.

2.2.  Pembersihan Qalbu Kedua

Pada usia 10 tahun dapat digambarkan di dalam kitab Musnad Ahmad Hadits nomor 21261 berikut:

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ أَبُو يَحْيَى الْبَزَّازُ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُعَاذِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، حَدَّثَنِي أَبِي مُحَمَّدُ بْنُ مُعَاذٍ، عَنْ مُعَاذٍ، عَنْ مُحَمَّدٍ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ: أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ كَانَ جَرِيًّا عَلَى أَنْ يَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَشْيَاءَ لَا يَسْأَلُهُ عَنْهَا غَيْرُهُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أولُ مَا رَأَيْتَ مِنْ أَمْرِ النُّبُوَّةِ؟ فَاسْتَوَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا وَقَالَ: "لَقَدْ سألتَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، إِنِّي لَفِي الصَّحْرَاءِ ابنُ عَشْرِ سِنِينَ وَأَشْهُرٍ، وَإِذَا بِكَلَامٍ فَوْقَ رَأْسِي، وَإِذَا رَجُلٌ يَقُولُ لِرَجُلٍ: أَهُوَ هُوَ؟ [قَالَ: نَعَمْ] فَاسْتَقْبَلَانِي بِوُجُوهٍ لَمْ أَرَهَا [لِخَلْقٍ] قَطُّ، وَأَرْوَاحٍ لَمْ أَجِدْهَا مِنْ خَلْقٍ قَطُّ، وَثِيَابٍ لَمْ أَرَهَا عَلَى أَحَدٍ قَطُّ. فَأَقْبَلَا إِلَيَّ يَمْشِيَانِ، حَتَّى أَخَذَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بعَضُدي، لَا أَجِدُ لِأَحَدِهِمَا مَسًّا، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: أَضْجِعْهُ. فَأَضْجَعَانِي بِلَا قَصْر وَلَا هَصْر. فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: افْلِقْ صَدْرَهُ. فَهَوَى أَحَدُهُمَا إِلَى صَدْرِي فَفَلَقَهُ فِيمَا أَرَى بِلَا دَمٍ وَلَا وَجَعٍ، فَقَالَ لَهُ: أَخْرِجِ الغِلّ والحَسَد. فَأَخْرَجَ شَيْئًا كَهَيْئَةِ الْعَلَقَةِ ثُمَّ نَبَذَهَا فَطَرَحَهَا، فَقَالَ لَهُ: أَدْخِلِ الرَّأْفَةَ وَالرَّحْمَةَ، فَإِذَا مِثْلُ الَّذِي أَخْرَجَ شبهُ الفضة، ثم هز إِبْهَامَ رِجْلِي الْيُمْنَى فَقَالَ: اغدُ وَاسْلَمْ. فَرَجَعْتُ بِهَا أَغْدُو، رِقَّةً عَلَى الصَّغِيرِ، وَرَحْمَةً لِلْكَبِيرِ" [2]

Artinya: Telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abdur Rahim alias Abu Yahya Al-Bazzar, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnu Muhammad ibnu Ubay ibnu Ka'b, telah menceritakan kepadaku Abu Muhammad ibnu Mu'az, dari Muhammad, dari Ubay ibnu Ka'b, bahwa Abu Hurairah adalah orang yang paling berani menanyakan kepada Rasulullah Saw. tentang berbagai masalah yang tidak ada seorang pun berani menanyakannya kepada beliau Saw. selain dia. Maka Abu Hurairah bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang mula-mula engkau Iihat dari urusan kenabian ini?" Rasulullah Saw. Duduk tegak dan menjawab: Sesungguhnya engkau telah menanyakan hal yang berbobot, hai Abu Hurairah! Sesungguhnya ketika usiaku menginjak sepuluh tahun lebih beberapa bulan, aku berada di padang Sahara. Tiba-tiba aku mendengar pembicaraan di atas kepalaku, dan ternyata ada seorang laki-laki yang berbicara kepada laki-laki lainnya, "Apakah orang ini adalah dia?” Maka keduanya datang menyambutku dengan penampilan wajah yang sama sekali belum pernah kulihat sebelumnya, dan sama sekali belum pernah pula aku melihat arwah seperti itu sebelumnya, dan belum pernah pula aku melihat pakaian yang dikenakannya pernah dikenakan oleh seseorang. Keduanya datang kepadaku dengan jalan kaki, hingga masing-masing dari keduanya memegang kedua lenganku, tetapi anehnya aku tidak merasa sentuhan tangan keduanya. Salah seorang berkata kepada yang lainnya, 'Rebahkanlah dia.' Lalu keduanya merebahkan diriku tanpa paksa dan tanpa sulit. Kemudian salah seorangnya berkata kepada yang lainnya, "Belahlah dadanya, " maka salah seorangnya menurut penglihatanku membelah dadaku tanpa ada darah yang mengalir dan tanpa rasa sakit. Lalu berkata kepada yang membelahku, "Keluarkanlah iri hati dan dengki.” Lalu ia mengeluarkan sesuatu yang bentuknya seperti segumpal darah, kemudian ia membuangnya jauh-jauh. Dan berkata lagi ia kepada orang yang membelahku, "Masukkanlah lemah lembut dan kasih sayang.” Maka tiba-tiba kulihat sesuatu sebesar apa yang baru dikeluarkan, bentuknya mengilap seperti perak (dimasukkan ke dalam dadaku), kemudian ia mengguncangkan jempol kakiku yang sebelah kanan, dan berkata, "Kembalikanlah ke semula dalam keadaan utuh.” Maka setelah itu aku pulang dengan berlari dan terasa dadaku dipenuhi oleh perasaan lembut terhadap anak kecil dan kasih sayang kepada orang dewasa.

Pembersihan qalbu Nabi Muhammad pada usia 10 tahun ini tujuannya lebih jelas, sebagaimana disebutkan di dalam hadits di atas yaitu untuk mengeluarkan sifat iri hati dan dengki, dan dimasukkan sifat lemah lembut dan kasih sayang, sehingga setelah itu yang dirasakan adalah dadaknya dipenuhi oleh perasaan lembut terhadap anak kecil dan kasih sayang kepada orang dewasa.

2.3. Pembersihan Qalbu Ketiga

Pada usia 40 tahun, sebagai persiapan menjelang penerimaan wahyu pertama, tergambar dalam kitab Dalail Al-Nubuwah Li Abu Nu’aim Al-Asbahani, Musnad Ishaq Ibn Rahawiyah, dan Bughyah Al-Bahits ‘An Zawaid Musnad Al-Harits:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلَّادٍ ثنا الْحَارِثُ بْنُ أَبِي أُسَامَةَ ثنا دَاوُدُ بْنُ الْمُحَبَّرِ قَالَ: ثنا حَمَّادٌ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ بَابَنُوسَ، عَنْ عَائِشَةَ ﵂ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ نَذَرَ أَنْ يَعْتَكِفَ شَهْرًا هُوَ وَخَدِيجَةُ بِحِرَاءٍ فَوَافَقَ ذَلِكَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَخَرَجَ النبي ﷺ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَسَمِعَ: السَّلَامُ عَلَيْكَ فَظَنَنْتُهَا فَجْأَةَ الْجِنِّ فَجِئْتُ مُسْرِعًا حَتَّى دَخَلْتُ عَلَى خَدِيجَةَ فَسَجَّتْنِي ثَوْبًا وَقَالَتْ: مَا شَأْنُكَ يَا ابْنَ عَبْدِ اللَّهِ؟ فَقُلْتُ: سَمِعْتُ: السَّلَامُ عَلَيْكَ فَظَنَنْتُهَا فَجْأَةَ الْجِنِّ فَقَالَتْ: أَبْشِرْ يَا ابْنَ عَبْدِ اللَّهِ فَإِنَّ السَّلَامَ خَيْرٌ قَالَ: ثُمَّ خَرَجْتُ مَرَّةً فَإِذَا بِجِبْرِيلَ عَلَى الشَّمْسِ جَنَاحٌ لَهُ بِالْمَشْرِقِ وَجَنَاحٌ لَهُ بِالْمَغْرِبِ قَالَ: فَهِلْتُ مِنْهُ فَجِئْتُ مُسْرِعًا فَإِذَا هُوَ بَيْنِي وَبَيْنَ الْبَابِ فَكَلَّمَنِي حَتَّى أَنِسْتُ بِهِ ثُمَّ وَعَدَنِي مَوْعِدًا فَجِئْتُ لَهُ فَأَبْطَأَ عَلَيَّ فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْجِعَ فَإِذَا أَنَا بِهِ وَمِيكَائِيلُ قَدْ سَدَّا الْأُفُقَ فَهَبَطَ جِبْرِيلُ وَبَقِيَ مِيكَائِيلُ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَأَخَذَنِي جِبْرِيلُ فَاسْتَلْقَانِي لِحَلَاوَةِ الْقَفَا ثُمَّ شَقَّ عَنْ قَلْبِي فَاسْتَخْرَجَهُ ثُمَّ اسْتَخْرَجَ مِنْهُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَسْتَخْرِجَ ثُمَّ غَسَلَهُ فِي طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ أَعَادَهُ مَكَانَهُ ثُمَّ لَأَمَهُ ثُمَّ أَكْفَأَنِي كَمَا يُكْفَأُ الْأَدِيمُ ثُمَّ خَتَمَ فِي ظَهْرِي حَتَّى وَجَدْتُ مَسَّ الْخَاتَمِ فِي قَلْبِي ثُمَّ قَالَ: اقْرَأْ وَلَمْ أَكُ قَرَأْتُ كِتَابًا قَطُّ فَلَمْ أَجِدْ مَا أَقْرَأُ ثُمَّ قَالَ: اقْرَأْ قُلْتُ: مَا أَقْرَأُ؟ قَالَ: ﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ﴾ [العلق: ١] حَتَّى انْتَهَى إِلَى خَمْسِ آيَاتٍ مِنْهَا، فَمَا نَسِيتُ شَيْئًا بَعْدُ ثُمَّ وَزَنَنِي بِرَجُلٍ فَوَزَنْتُهُ ثُمَّ وَزَنَنِي بِآخَرَ فَوَزَنْتُهُ حَتَّى وَزَنَنِي بِمِائَةِ رَجُلٍ فَقَالَ مِيكَائِيلُ: تَبِعَتْهُ أُمَّتُهُ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ فَجَعَلْتُ لَا يَلْقَانِي حَجَرٌ وَلَا شَجَرٌ إِلَّا قَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَتَّى دَخَلْتُ عَلَى خَدِيجَةَ قَالَتِ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ " [3]

Artinya: Abu Bakar bin Khallad telah menceritakan kepada kami; Al-Harits bin Abi Usamah telah menceritakan kepada kami; Dawud bin Al-Muhabbar telah menceritakan kepada kami; ia berkata: Hammad telah menceritakan kepada kami dari Abu ‘Imran Al-Juni, dari Yazid bin Babanus, dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bernazar untuk beritikaf selama sebulan bersama Khadijah di Gua Hira, lalu hal itu bertepatan dengan bulan Ramadan. Maka Rasulullah ﷺ keluar pada suatu malam, lalu beliau mendengar suara: “Assalāmu ‘alaika (semoga keselamatan atasmu).” Aku pun mengira itu adalah serangan jin secara tiba-tiba, maka aku segera pulang cepat hingga masuk menemui Khadijah. Lalu Khadijah menyelimuti aku dan berkata, “Ada apa denganmu, wahai Ibn ‘Abdillah?” Aku berkata, “Aku mendengar ucapan: ‘Assalāmu ‘alaika’, maka aku mengira itu serangan jin.” Khadijah berkata, “Bergembiralah wahai Ibn ‘Abdillah, karena salam itu adalah kebaikan.” Beliau berkata: Kemudian aku keluar lagi, tiba-tiba Jibril tampak berdiri di atas matahari, salah satu sayapnya berada di arah timur dan sayap lainnya di arah barat. Maka aku pun ketakutan lalu kembali dengan cepat, ternyata ia sudah berada di antara aku dan pintu. Ia berbicara kepadaku hingga aku merasa tenang dengannya. Kemudian ia menjanjikanku suatu waktu, maka aku datang menemuinya, tetapi ia terlambat datang. Aku pun ingin kembali, tiba-tiba ia telah datang bersama Mikail, dan keduanya telah memenuhi ufuk. Maka Jibril turun, sedangkan Mikail tetap berada antara langit dan bumi. Lalu Jibril memegangku dan membaringkanku dengan lembut di atas tengkukku, kemudian ia membelah dadaku dan mengeluarkan hatiku, lalu mengeluarkan sesuatu darinya sesuai yang Allah kehendaki untuk dikeluarkan. Setelah itu ia mencucinya dalam sebuah bejana dari emas berisi air zamzam, kemudian mengembalikannya pada tempatnya dan merapatkan kembali. Kemudian ia membaringkanku sebagaimana kulit yang ditegakkan lalu membaliknya, kemudian ia menyegel punggungku hingga aku merasakan bekas segel itu di dalam hatiku. Lalu ia berkata: “Bacalah!” Padahal aku belum pernah membaca suatu tulisan sama sekali, dan aku tidak menemukan apa yang harus kubaca. Ia kembali berkata: “Bacalah!” Aku berkata, “Apa yang harus aku baca?” Maka ia berkata: ‘Iqra’ bismi rabbika alladzī khalaq…’ hingga lima ayat darinya, dan aku tidak melupakan sesuatu pun setelah itu. Kemudian ia menimbangku dengan seorang lelaki, maka aku lebih berat darinya; ia menimbangku dengan lelaki lain, dan aku lebih berat darinya; hingga ia menimbangku dengan seratus orang lelaki, dan aku tetap lebih berat. Mikail berkata, “Sungguh umatnya akan mengikutinya, demi Tuhan Ka‘bah.” Maka sejak itu, tidaklah aku melewati batu ataupun pohon kecuali semuanya berkata, “Assalāmu ‘alaika yā Rasūlallāh,” hingga aku masuk menemui Khadijah. Maka Khadijah berkata, “Assalāmu ‘alaika yā Rasūlallāh.”

Setelah pembersihan jiwa pada usia 10 tahun maka ada kurun waktu 20 tahun hingga usia 40 tahun, dalam usia 11 tahun hingga 40 tahun adalah usia produktif, dalam kurun usia tersebut akan banyak aktifitas yang menghasilkan harta, mendapatkan pasangan hidup dan keturunan. Secara psikologis akan dapat menumbuhkan perasaan cinta kepada harta, wanita dan keturunan, sehingga qalbu Nabi Muhammad SAW dibersihkan kembali pada usia 40 tahun, agar qalbunya siap meneriwa wahyu dan menjalankan tugas sebagai Rasulullah.

2.4. Pembersihan Qalbu Keempat

Pada usia 50 tahun, saat menjelang Isra’ Mi’raj tergambar di dalam kitab shahih Bukhari Hadits nomor 7079 berikut;.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ: حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ، عَنْ شَرِيكِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنْ مَسْجِدِ الْكَعْبَةِ: أَنَّهُ جَاءَهُ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ قَبْلَ أَنْ يُوحَى إِلَيْهِ، وَهُوَ نَائِمٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، فَقَالَ أَوَّلُهُمْ: أَيُّهُمْ هُوَ؟ فَقَالَ أَوْسَطُهُمْ: هُوَ خَيْرُهُمْ، فَقَالَ آخِرُهُمْ: خُذُوا خَيْرَهُمْ، فَكَانَتْ تِلْكَ اللَّيْلَةَ، فَلَمْ يَرَهُمْ حَتَّى أَتَوْهُ لَيْلَةً أُخْرَى، فِيمَا يَرَى قَلْبُهُ، وَتَنَامُ عَيْنُهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ، وَكَذَلِكَ الْأَنْبِيَاءُ تَنَامُ أَعْيُنُهُمْ وَلَا تَنَامُ قُلُوبُهُمْ، فَلَمْ يُكَلِّمُوهُ حَتَّى احْتَمَلُوهُ، فَوَضَعُوهُ عِنْدَ بِئْرِ زَمْزَمَ، فَتَوَلَّاهُ مِنْهُمْ جِبْرِيلُ، فَشَقَّ جِبْرِيلُ مَا بَيْنَ نَحْرِهِ إِلَى لَبَّتِهِ، حَتَّى فَرَغَ مِنْ صَدْرِهِ وَجَوْفِهِ، فَغَسَلَهُ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ بِيَدِهِ، حَتَّى أَنْقَى جَوْفَهُ، ثُمَّ أُتِيَ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ فِيهِ تَوْرٌ مِنْ ذَهَبٍ، مَحْشُوًّا إِيمَانًا وَحِكْمَةً، فحُشي بِهِ صَدْرَهُ وَلَغَادِيدَهُ، يَعْنِي عُرُوقَ حَلْقِهِ، ثُمَّ أَطْبَقَهُ ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَضَرَبَ بَابًا مِنْ أَبْوَابِهَا، فَنَادَاهُ أَهْلُ السَّمَاءِ: مَنْ هَذَا؟ فَقَالَ: جِبْرِيلُ، قَالُوا: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مَعِيَ مُحَمَّدٌ، قَالَ: وَقَدْ بُعِثَ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالُوا: فَمَرْحَبًا بِهِ وَأَهْلًا، فَيَسْتَبْشِرُ بِهِ أَهْلُ السَّمَاءِ، لَا يَعْلَمُ أَهْلُ السَّمَاءِ بِمَا يُرِيدُ اللَّهُ بِهِ فِي الْأَرْضِ حَتَّى يُعْلِمَهُمْ، فَوَجَدَ فِي السَّمَاءِ الدُّنْيَا آدَمَ، فَقَالَ لَهُ جِبْرِيلُ: هَذَا أَبُوكَ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، فَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَرَدَّ عَلَيْهِ آدَمُ وَقَالَ: مَرْحَبًا وَأَهْلًا بِابْنِي، نِعْمَ الِابْنُ أَنْتَ، فَإِذَا هُوَ فِي السَّمَاءِ الدُّنْيَا بِنَهَرَيْنِ يَطَّرِدَانِ، فَقَالَ: (مَا هَذَانِ النَّهَرَانِ يَا جِبْرِيلُ). قَالَ: هَذَا النِّيلُ وَالْفُرَاتُ عُنْصُرُهُمَا، ثُمَّ مَضَى بِهِ فِي السَّمَاءِ فَإِذَا هُوَ بِنَهَرٍ آخَرَ، عَلَيْهِ قَصْرٌ مِنْ لُؤْلُؤٍ وَزَبَرْجَدٍ، فَضَرَبَ يَدَهُ فَإِذَا هُوَ مِسْكٌ أَذْفَرُ، قَالَ: (مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ). قَالَ: هَذَا الْكَوْثَرُ الَّذِي خَبَأَ لَكَ رَبُّكَ، ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ، فَقَالَتِ الْمَلَائِكَةُ لَهُ مِثْلَ مَا قَالَتْ لَهُ الْأُولَى: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ، قَالُوا: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ ﷺ، قَالُوا: وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالُوا مَرْحَبًا بِهِ وَأَهْلًا، ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ، وَقَالُوا لَهُ مِثْلَ مَا قَالَتِ الْأُولَى وَالثَّانِيَةُ، ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى الرَّابِعَةِ، فَقَالُوا لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُم عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الْخَامِسَةِ، فَقَالُوا مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ، فَقَالُوا لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَقَالُوا لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ، كُلُّ سَمَاءٍ فِيهَا أَنْبِيَاءُ قَدْ سَمَّاهُمْ، فوعيت مِنْهُمْ إِدْرِيسَ فِي الثَّانِيَةِ، وَهَارُونَ فِي الرَّابِعَةِ، وَآخَرَ فِي الْخَامِسَةِ لَمْ أَحْفَظْ اسْمَهُ، وَإِبْرَاهِيمَ فِي السَّادِسَةِ، وَمُوسَى فِي السَّابِعَةِ بِتَفْضِيلِ كَلَامِ اللَّهِ، فَقَالَ مُوسَى: رَبِّ لَمْ أَظُنَّ أَنْ ترفع عَلَيَّ أحدًا، ثُمَّ عَلَا بِهِ فَوْقَ ذَلِكَ بِمَا لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا اللَّهُ، حَتَّى جَاءَ سِدْرَةَ الْمُنْتَهَى، وَدَنَا الجبَّار رَبُّ الْعِزَّةِ، فَتَدَلَّى حَتَّى كَانَ مِنْهُ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى، فَأَوْحَى اللَّهُ فِيمَا أَوْحَى إِلَيْهِ: خَمْسِينَ صَلَاةً عَلَى أُمَّتِكَ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، ثُمَّ هَبَطَ حَتَّى بَلَغَ مُوسَى، فَاحْتَبَسَهُ مُوسَى فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ مَاذَا عَهِدَ إِلَيْكَ رَبُّكَ؟ قَالَ: (عَهِدَ إِلَيَّ خَمْسِينَ صَلَاةً كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ). قَالَ: إِنَّ أُمَّتَكَ لَا تَسْتَطِيعُ ذَلِكَ، فَارْجِعْ فَلْيُخَفِّفْ عَنْكَ رَبُّكَ وَعَنْهُمْ، فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ ﷺ إِلَى جِبْرِيلَ كَأَنَّهُ يَسْتَشِيرُهُ فِي ذَلِكَ، فَأَشَارَ إِلَيْهِ جِبْرِيلُ: أَنْ نَعَمْ إِنْ شِئْتَ، فَعَلَا بِهِ إِلَى الْجَبَّارِ، فَقَالَ وَهُوَ مَكَانَهُ: (يَا رَبِّ خَفِّفْ عَنَّا، فَإِنَّ أُمَّتِي لَا تَسْتَطِيعُ هَذَا). فَوَضَعَ عَنْهُ عَشْرَ صَلَوَاتٍ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى مُوسَى فَاحْتَبَسَهُ، فَلَمْ يَزَلْ يُرَدِّدُهُ مُوسَى إِلَى رَبِّهِ حَتَّى صَارَتْ إِلَى خَمْسِ صَلَوَاتٍ، ثُمَّ احْتَبَسَهُ مُوسَى عِنْدَ الْخَمْسِ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، وَاللَّهِ لَقَدْ رَاوَدْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ قَوْمِي عَلَى أَدْنَى مِنْ هَذَا فَضَعُفُوا فَتَرَكُوهُ، فَأُمَّتُكَ أَضْعَفُ أَجْسَادًا وَقُلُوبًا وَأَبْدَانًا وَأَبْصَارًا وَأَسْمَاعًا، فَارْجِعْ فَلْيُخَفِّفْ عَنْكَ رَبُّكَ، كُلَّ ذَلِكَ يَلْتَفِتُ النَّبِيُّ ﷺ إِلَى جِبْرِيلَ لِيُشِيرَ عَلَيْهِ، وَلَا يَكْرَهُ ذَلِكَ جِبْرِيلُ، فَرَفَعَهُ عِنْدَ الْخَامِسَةِ فَقَالَ: (يَا رَبِّ إِنَّ أُمَّتِي ضُعَفَاءُ، أَجْسَادُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ وَأَسْمَاعُهُمْ وَأَبْدَانُهُمْ، فَخَفِّفْ عَنَّا). فَقَالَ الْجَبَّارُ: يَا مُحَمَّدُ، قَالَ: (لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ). قَالَ: إِنَّهُ لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ، كَمَا فرضت عَلَيْكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ، قَالَ: فَكُلُّ حَسَنَةٍ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، فَهِيَ خَمْسُونَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ، وَهِيَ خَمْسٌ عَلَيْكَ، فَرَجَعَ إِلَى مُوسَى فَقَالَ: كَيْفَ فَعَلْتَ؟ فَقَالَ: (خَفَّفَ عَنَّا، أَعْطَانَا بِكُلِّ حَسَنَةٍ عَشْرَ أَمْثَالِهَا). قَالَ مُوسَى: قَدْ وَاللَّهِ رَاوَدْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ فَتَرَكُوهُ، ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَلْيُخَفِّفْ عَنْكَ أَيْضًا، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: (يَا مُوسَى، قَدْ وَاللَّهِ اسْتَحْيَيْتُ مِنْ رَبِّي مِمَّا اخْتَلَفْتُ إِلَيْهِ). قَالَ: فَاهْبِطْ بِاسْمِ اللَّهِ، قَالَ: وَاسْتَيْقَظَ وَهُوَ فِي مَسْجِدِ الْحَرَامِ. [4]

Artinya: Abdul ‘Azīz bin ‘Abdillāh meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Sulaimān telah menceritakan kepadaku dari Syarīk bin ‘Abdillāh bahwa ia berkata: Aku mendengar Anas bin Mālik berkata: Pada malam ketika Rasulullah ﷺ diperjalankan (Isrā’), dari Masjidil Ka‘bah, datang kepada beliau tiga orang sebelum turunnya wahyu ketika beliau sedang tidur di al-Masjid al-Harām; maka orang pertama dari mereka berkata: “Yang mana dia?” Lalu yang tengah berkata: “Dia adalah yang terbaik dari mereka,” kemudian yang terakhir berkata: “Ambillah yang terbaik dari mereka.” Itu terjadi pada malam tersebut dan beliau tidak melihat mereka hingga mereka datang pada malam lain, sebagaimana dilihat oleh hatinya, sementara matanya tidur namun hatinya tidak tidur; demikianlah para nabi, mata mereka tidur tetapi hati mereka tidak tidur. Mereka tidak berbicara kepada beliau hingga mereka membawanya dan meletakkannya di dekat sumur Zamzam; lalu Jibrīl menangani beliau dengan membelah antara pangkal leher sampai bagian atas perut, hingga selesai dari dada dan rongga dalamnya, kemudian mencucinya dengan air Zamzam menggunakan tangannya hingga bersihlah bagian dalamnya. Setelah itu didatangkan sebuah bejana dari emas yang di dalamnya terdapat sebuah cerek emas berisi iman dan hikmah, lalu diisikan ke dalam dada dan urat-urat leher beliau, kemudian ditutup kembali. Setelah itu Jibrīl membawa beliau naik ke langit dunia lalu mengetuk salah satu pintunya; penduduk langit bertanya: “Siapa ini?” Ia menjawab: “Jibrīl.” Mereka bertanya: “Siapa bersamamu?” Ia menjawab: “Bersamaku Muhammad.” Mereka bertanya: “Apakah telah diutus?” Ia menjawab: “Ya.” Mereka berkata: “Selamat datang dan selamat atas kedatangannya.” Maka penduduk langit bergembira menerima beliau, karena mereka tidak mengetahui apa yang Allah kehendaki bagi beliau di bumi hingga Allah memberi tahu mereka. Beliau mendapati Adam di langit dunia; Jibrīl berkata: “Ini ayahmu, maka ucapkanlah salam kepadanya.” Beliau pun memberi salam dan Adam menjawab salam beliau seraya berkata: “Selamat datang wahai anakku, sebaik-baik anak engkau.” Lalu beliau melihat dua sungai mengalir di langit dunia, maka beliau bertanya: “Wahai Jibrīl, apa kedua sungai ini?” Ia menjawab: “Ini adalah Nil dan Furat (yang asal-usulnya dari sini).” Kemudian dibawa naik dan melihat sebuah sungai lain yang di atasnya terdapat istana dari mutiara dan zamrud; Jibrīl memukulnya (mengambil dari sungai itu) dengan tangannya, ternyata baunya seperti kesturi yang sangat harum. Beliau bertanya: “Apa ini wahai Jibrīl?” Ia menjawab: “Ini adalah al-Kautsar yang Tuhanmu simpan untukmu.” Lalu beliau diangkat ke langit kedua dan para malaikat berkata seperti ucapan sebelumnya. Kemudian beliau diangkat ke langit ketiga, keempat, kelima, keenam, dan ketujuh; semuanya menyampaikan seperti ucapan yang pertama. Di setiap langit ada para nabi dan Anas mengingat: Idrīs di langit kedua, Hārūn di keempat, seorang nabi di kelima yang tidak ia hafal namanya, Ibrāhīm di keenam, dan Mūsā di langit ketujuh yang dimuliakan dengan kalāmullāh. Maka Mūsā berkata: “Wahai Rabb, aku tidak menduga Engkau mengangkat seseorang di atasku.” Lalu beliau dinaikkan ke tempat yang lebih tinggi hingga sampai ke Sidratul Muntahā; lalu al-Jabbār, Rabb al-‘Izzah, mendekat dan semakin mendekat hingga jaraknya seukuran dua busur panah atau lebih dekat lagi. Lalu Allah mewahyukan kepada beliau lima puluh salat (fardu) untuk umatnya setiap hari dan malam. Setelah itu beliau turun hingga berjumpa dengan Mūsā, maka Mūsā menahan beliau dan bertanya: “Apa yang Tuhanmu perintahkan kepadamu?” Beliau menjawab: “Dia memerintahkanku lima puluh salat setiap hari dan malam.” Mūsā berkata: “Umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Kembalilah dan mintalah keringanan.” Nabi ﷺ pun menoleh kepada Jibrīl seakan meminta pendapat dan Jibrīl memberi isyarat agar beliau kembali. Maka beliau naik lagi dan berkata: “Wahai Rabb, ringankanlah dari kami, karena umatku tidak sanggup.” Maka Allah mengurangi sepuluh salat. Beliau kembali kepada Mūsā yang kembali meminta beliau untuk memohon keringanan, hingga salat itu menjadi lima. Ketika tinggal lima, Mūsā masih menahan beliau seraya berkata: “Umatmu lebih lemah fisik, hati, tubuh, penglihatan, dan pendengaran daripada kaumku; mintalah lagi keringanan.” Nabi ﷺ kembali menoleh kepada Jibrīl dan beliau tidak keberatan. Lalu diangkatlah beliau dan berkata: “Wahai Rabb, umatku lemah fisik, hati, pendengaran, dan tubuh mereka; ringankanlah dari kami.” Allah berfirman: “Wahai Muhammad.” Nabi menjawab: “Aku penuhi panggilan-Mu dan bahagia dengan perintah-Mu.” Allah berfirman: “Ucapan-Ku tidak akan diubah; sebagaimana telah Aku tetapkan dalam Ummul Kitāb. Setiap kebaikan bernilai sepuluh kali lipatnya; maka lima ini setara lima puluh dalam Ummul Kitāb dan lima yang wajib bagimu.” Beliau kembali kepada Mūsā, dan Mūsā bertanya: “Bagaimana hasilnya?” Beliau menjawab: “Allah telah meringankan dari kami dan memberi sepuluh kali lipat bagi setiap kebaikan.” Mūsā berkata: “Aku telah memohon keringanan untuk Bani Israil pada yang lebih ringan dari ini tetapi mereka tetap tidak sanggup; kembalilah dan mintalah lagi.” Nabi ﷺ bersabda: “Wahai Mūsā, demi Allah aku sudah malu kepada Rabbku karena terus-menerus kembali kepada-Nya.” Mūsā berkata: “Turunlah dengan nama Allah.” Lalu beliau terbangun sedang berada di Masjidil Harām.

Sebelum diisra’ dan mi’rajkan oleh Allah, Rasulullah mengalami kesedihan ditinggal wafat istri beliau Khadijah RA dan pamannya Abu Thalib, keduanya merupakan orang-orang sangat dicintai Nabi, sekaligus sebagai tokoh masyarakat yang banyak memberikan dukungan dan perlindungan Nabi Muhammad dalam melaksanakan misi dakwah, secara psikologis Nabi merasa kehilangan tempat bersandar, hal inilah yang perlu dibersihkan agar Rasulullah hanya menyandarkan kehidupannya hanya kepada Allah dan menjadikan Allah sebagai Dzat yang paling dicintai.

Pembersihan Qalbu pada diri Rasulullah Muhammad SAW, merupakan hal istimewa yang hanya terjadi pada beliau, juga merupakan salah satu Mu’jizat beliau, sehingga tidak dapat dilakukan untuk manusia selainnya. Proses pembersihan qalbu Rasulullah SAW di atas perlu dikemukan untuk menggambarkan begitu pentingnya proses pembersihan qalbu dilakukan, seorang Nabi terakhir perlu mengalami empat kali proses pembersihan qalbu, apalagi kita sebagai manusia biasa.

Nabi Muhammad mengalami pembersihan Qalbu dengan cara dibelah dadanya oleh malaikat Jibril atas perintah Allah, kemudian diambil jantungnya lalu dicuci dengan air zam-zam di dalam baskom emas, setelah dicuci dibersihkan bagian yang datangnya dari setan (sifat tidak baik), setelah dibrsihkan kemudian diisi iman dan hikmah, setelah itu jantungnya dikembalikan ketempatnya lagi, kemudian dadanya ditutup dan dijahit kembali, begitulah cara Allah membersihkan qalbu nabi Muhammad SAW, agar dapat menerima hidayah Allah kemudian dapat menyampiakan hidayah tersebut kepada umatnya. Sedangkan kita sebagai umatnya dapat membersihkan qalbu dengan cara menggunakan amal ibadah mengikuti petunjuk Al Quran yang telah diturunkan kepada Rasulullah SAW dan sunah nabi Muhammad SAW.



[1] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1 , Halaman 137, Hadits nomor 261.

[2] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 35, Halaman 181.Hadits nomor 21261

[3] Abu Nu’aim Ahmad ibn Abdullah ibn Ahmad (Wafat 430 H), Dalail Al-Nubuwah Li Abu Nu’aim Al-Asbahani, Dar Al-Nafais, Beirut, 1986, Jilid 1, Halaman 215, Hadits nomor 163. Hadits semisal juga dimuat di dalam  Abu Rahawiyah (Wafat 238 H), Musnad Ishaq Ibn Rahawiyah, Maktabah Al-Iman, Madinah, 1991, Jilid 3, Halaman 970, Hadits nomor 1689. Hadits Semisal juga dimuat di Al-Harits Ibn Abi Usamah (Wafat 282 H), Bughyah Al-Bahits ‘An Zawaid Musnad Al-Harits, Markaz Khadimah Al-Sunah Wa Al-Sirah Al-Nabawiyah, Madinah, 1992, Jilid 2, Halaman 867, Hadits nomor 928.

[4] Abu Abdullah ibn Ismail Al Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Ibnu Katsir, Damsyiq, 1993 H, Jilid 6, Halaman 2730, Hadits nomor 7079.

19/09/2026

1. Hikmah Tazkiyah Al-Nafs

 1.  Hikmah Tazkiyah Al-Nafs

Berikut dikemukakan ayat-ayat Al-Quran yang memberikan Gambaran tentang Hikmah dari Tazkiyah Al-Nafs;

1.1.  Barangsiapa Yang Mensucikan Dirinya, Sesungguhnya Ia Mensucikan Diri Untuk (Kebaikan) Dirinya Sendiri

Di dalam Al-Quran surat Fathir/ 35: 18 dinyatakan “barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk (kebaikan) dirinya sendiri”;

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى إِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَمَنْ تَزَكَّى فَإِنَّمَا يَتَزَكَّى لِنَفْسِهِ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

Artinya: Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah kembali(mu).

1.2.  Beruntunglah Orang Yang Mensucikan Jiwa Dari Fujur

Di dalam Al-Quran surat Al-A’la/ 87: 14 dan Asy-Syams/ 91: 9 dinyatakan sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu;

قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ ﴿الأعلى: ١٤﴾  

Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), (QS. Al-A’la/ 87: 14)

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ﴿الشمس: ٩﴾  

Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, (QS. Asy-Syams/ 91: 9)

1.3.  Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya

Di dalam Al-Quran surat An-Nisa’/ 4: 49 dan surat disebutkan pertanyaan dan pernyataan: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih?. Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya”;

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا ﴿النساء: ٤٩﴾  

Artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih?. Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun. (QS. An-Nisa’/ 4: 49)

Demikin juga di dalam Al-Quran surat An-Nur/ 24: 21 disebutkan peringatatan dan pernyataan untuk tidak mengikuti langkah-langkah Syetan, dan Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿النور: ٢١﴾  

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nur/ 24: 21)

1.4.  Dimasukkan Ke Jannah Adn

Di dalam Al-Quran surat Thaha/ 20: 76 dinyatakan bahwa: “surga 'Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih”;

جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَٰلِكَ جَزَاءُ مَن تَزَكَّىٰ ﴿طه: ٧٦﴾  

Artinya: (yaitu) surga 'Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan). (QS. Thaha/ 20: 76)

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post