4. Tingkatan Ibadah
4.1. Tingkatan Hamba Yang Bertakwa Berdasar Al-Quran
Di antara hamba Allah ada bersikap dhalim terhadap diri
sendiri, ada yang pertengahan dan ada yang bersegera dalam kebaikan,
sebagaimana digambarkan di dalam Al-Quran surat Fathir/ 35: 32;
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ
اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ
مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ
الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Artinya:
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di
antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka
sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada
(pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu
adalah karunia yang amat besar. (QS. Fathir/ 35: 32)
Ayat tersebut menggambarkan adanya perbedaan sikap hamba
terhadap ayat-ayat Al-Quran, pada bab ini akan dikemukakan pembahasan tentang tingkatan
hamba yang tergambar di dalam ayat-ayat Al-Quran, kata ibadah berdasar
pencarian kata dasar “abada” menggunakan aplikasi Al-Quran Zekr 1.1.0 ditemukan
275 kali pengulangan di 251 ayat. Ayat-ayat tersebut dianalisa berdasar kata
yang berdampingan dengan kata "abada" kemudian diklasifikasikan ke dalam
tingkatan hierarki ”Cermin Qalbu”, yang terdiri dari sebelas tingkatan takwa dan
sepuluh tingkatan fujur.
Klasifikasi ini perlu dilakuakan dengan tujuan untuk
memperoleh pengertian apakah ayat-ayat yang di dalamnya terdapat kata "abada"
dapat diklasifikasikan ke dalam tingkatan Cermin Qalbu?, kemudian jika dapat,
apakah susunan tersebut dapat menggambarkan sebagai tingkatan hamba?
4.1. Tingkatan Hamba Yang Bertakwa
Allah mengirim Malaikat kepada hamba yang dipilih untuk
meyakini tidak ada Tuhan selain Allah dan bertakwalah kepada Allah;
يُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ
أَمْرِهِ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ
إِلَّا أَنَا فَاتَّقُونِ ﴿النحل: ٢﴾
Artinya:
Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya
kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu:
"Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak)
melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku". (QS. An-Nahl/ 16:
2)
Allah menegaskan bahwa orang yang paling mulia di
sisi-Nya adalah yang paling bertakwa, dinyatakan di dalam Al-Quran surat Al-Hujurat/
49: 13;
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا
خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ
لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ
عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya
kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat/ 49: 13)
Ayat ini memberikan gambaran bahwa kedudukan seorang
hamba di sisi Allah adalah bertingkat-tingkat, kedudukan yang paling mulia
adalah yang paling bertakwa, pada sub bab ini akan dikemukakan pembahasan
tentang tingkatan hamba yang bertakwa berdasar ayat-ayat Al-Quran yang di
dalamnya terdapat kata yang terbentuk dari kata dasar “abada” atau kata
lainnya yang menunjuk pada pengertian seorang hamba, pembahasannya adalah sebagai
berikut;
Tingkatan pertama dari seorang hamba adalah tingkatan
hamba bertaubat, di dasari Al-Quran surat At-Taubah / 9: 104, Asy-Syura/ 42: 25,
yang menggambarkan bahwa Allah menerima taubat hambanya;
أَلَمْ يَعْلَمُوا
أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ
وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Artinya:
Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari
hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat
lagi Maha Penyayang? (QS. At-Taubah / 9: 104)
وَهُوَ الَّذِي
يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا
تَفْعَلُونَ
Artinya:
Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan
kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan, (QS. Asy-Syura/
42: 25)
Ayat ini sekaligus memberikan bukti adanya tingkatan
hamba yang bertaubat kepada Allah, yang merupakan tingkatan pertama dari
tingkatan hamba yang bertakwa.
Sedangkan di dalam Al-Quran surat Az-Zumar/ 39: 17,
Saba'/ 34: 9 dan Qaf/ 50: 8,
menggambarkan adanya hamba yang bertaubat kepada Allah, yang ungkapkan dengan
kata “anaba” dan “Munib” yang berarti taubat atau kembali kepada
Allah;
وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ
يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِ
Artinya:
Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali
kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu
kepada hamba-hamba-Ku, (QS. Az-Zumar/ 39: 17)
أَفَلَمْ يَرَوْا إِلَى مَا بَيْنَ
أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنْ نَشَأْ نَخْسِفْ
بِهِمُ الْأَرْضَ أَوْ نُسْقِطْ عَلَيْهِمْ كِسَفًا مِنَ السَّمَاءِ إِنَّ فِي
ذَلِكَ لَآيَةً لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ
Artinya:
Maka apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang ada di hadapan dan di
belakang mereka? Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi
atau Kami jatuhkan kepada mereka gumpalan dari langit. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Tuhan) bagi setiap hamba
yang kembali (kepada-Nya). (QS. Saba'/ 34: 9)
تَبْصِرَةً وَذِكْرَى لِكُلِّ عَبْدٍ
مُنِيبٍ
Artinya:
untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali
(mengingat Allah). (QS. Qaf/ 50: 8)
Adapun di dalam Al-Quran surat Shad/ 38: 17, 30 dan 44
menggambarkan adanya hamba yang bertaubat kepada Allah, yang ungkapkan dengan
kata “awab” berarti taubat atau kembali kepada Allah;
اصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاذْكُرْ
عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ إِنَّهُ أَوَّابٌ
Artinya:
Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami
Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan).(QS.
Shad/ 38: 17)
وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ
نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ
Artinya:
Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba.
Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya), (QS. Shad/ 38: 30)
وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِهِ
وَلَا تَحْنَثْ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ
Artinya:
Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan
janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang
yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada
Tuhan-nya). (QS. Shad/ 38: 44)
Allah pencipta langit dan bumi memerintahkan kepada
hambanya untuk menyembah-nya dan bersabar, disebutkan di dalam Al-Quran surat Maryam/
19: 65;
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا
بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا
Artinya:
Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara
keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya.
Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)? (QS.
Maryam/ 19: 65)
Ayat ini menggambarkan bahwa untuk menyembah Allah harus
dilakukan dengan sabar, sekaligus memberikan gambaran bahwa ada tingkatan hamba
yang menyembah Allah dengan sabar.
Allah memerintahkan hambanya untuk bertakwa kepada Allah
dan berbuat baik, disebutkan di dalam Al-Quran surat Az-Zumar/ 39: 10
قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ
وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ
حِسَابٍ
Artinya:
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada
Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan.
Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah
Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-Zumar/ 39: 10)
Perintah untuk bertakwa kepada Allah dan berbuat baik
juga harus dilakukan dengan sabar, karena dibagian dibelakang disebutkan bahwa
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka
tanpa batas. Ayat ini juga memberikan gambaran bahwa ada tingkatan hamba yang
menyembah Allah dengan bertakwa, berbuat baik dengan sabar.
Di dalam Al-Quran surat Al-A'raf/ 7: 128 disebutkan perintah
untuk mohon pertolongan dan bersabar;
قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا
بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ
عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya:
Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan
bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada
siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah
bagi orang-orang yang bertakwa". (QS. Al-A'raf/ 7: 128)
Ayat ini juga menegaskan bahwa bumi milik Allah diwariskan
kepada hamba yang dikehendaki, tetapi kesudahan yang baik bagi orang bertakwa,
yaitu orang yang mohon pertolongan kepada Allah dan bersabar. Hal ini
menunjukkan adanya tingkatan hamba yang sabar.
Allah tidak memerintahkan kepada hamba kecuali untuk
menyembah Allah dengan mengihlaskan ketaatan dalam menjalankan agama, di
sebutkan di dalam Al-Quran surat Al-Bayyinah/ 98: 5;
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا
اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا
الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Artinya:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya
mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama
yang lurus. (QS. Al-Bayyinah/ 98: 5)
Ayat ini menggambarkan adanya hamba yang menyembah Allah
di tingkat ihlas, perintah serupa juga dimuat di dalam Al-Quran surat Az-Zumar/
39: 2, 11 dan 14;
إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ
بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
Artinya:
Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa)
kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (QS.
Az-Zumar/ 39: 2)
قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ
اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
Artinya:
Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (QS.
Az-Zumar/ 39: 11)
قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ
دِينِي
Artinya:
Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku". (QS. Az-Zumar/ 39:
14)
Sedangkan di dalam Al-Quran surat Yusuf/ 12: 24
digambarkan bahwa Nabi Yusuf AS termasuk hamba yang ihlas;
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا
لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ
وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
Artinya:
Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan
Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia
tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari
padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba
Kami yang terpilih. (QS. Yusuf/ 12: 24)
Adanya hamba yang menyembah Allah di tingkat ihlas juga
disebutkan di dalam Al-Quran surat Ash-Shaffat/ 37: 40, 74, 128 dan 160 dengan
teks ayat yang sama seperti berikut;
إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ
Artinya:
Tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). (QS. Ash-Shaffat/
37: 40)
Sedangkan di dalam Al-Quran surat Ash-Shaffat/ 37: 169
disebutkan dengan bunyi ayat;
لَكُنَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ
Artinya:
benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa)".
(QS. Ash-Shaffat/ 37: 169)
Al-Quran surat Al-Mu'min/ 40: 66 menyebutkan larangan
menyembah selain Allah dan memerintahkan untuk tunduk patuh (Islam) kepada
Tuhan semesta alam;
قُلْ إِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَعْبُدَ
الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَمَّا جَاءَنِيَ الْبَيِّنَاتُ مِنْ
رَبِّي وَأُمِرْتُ أَنْ أُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya:
Katakanlah (ya Muhammad): "Sesungguhnya aku dilarang menyembah sembahan
yang kamu sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan
dari Tuhanku; dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Tuhan semesta
alam. (QS. Al-Mu'min/ 40: 66)
Al-Quran surat Ali-'Imran/ 3: 20 dinyatakan Jika mereka
masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk;
فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ
وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ
وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ
تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
Artinya:
Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka
katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula)
orang-orang yang mengikutiku". Dan katakanlah kepada orang-orang yang
telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: "Apakah kamu (mau)
masuk Islam". Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat
petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan
(ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS.
Ali-'Imran/ 3: 20)
Al-Quran surat An-Naml/ 27: 91 menyebutkan perintah untuk
menyembah Tuhan kota Mekah (Allah) dan menjadi orang yang berserah diri (Islam)
إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ
هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ
أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Artinya:
Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah
menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan
supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS. An-Naml/ 27: 91)
Ayat-ayat tersebut memberikan gambaran adanya hamba di
tingkat Islam, demikian juga di dalam Al-Quran surat Thaha/ 20: 14, yang
memerintahkan untuk menyembah Allah dan mendirikan shalat;
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا
أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Artinya:
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku,
maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha/
20: 14)
Perintah untuk mendirikan shalat merupakan pelaksanaan
menegakkan Islam, karena mendirkan shalat merupakan pelaksanaan rukun Islam.
Di dalam Al-Quran surat Al-'Ankabut/ 29: 56 diserukan
panggilan hai hamba-hamba-Ku yang beriman;
يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ
أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ
Artinya:
Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah
Aku saja.(QS. Al-'Ankabut/ 29: 56)
Ayat tersebut menunjukkan adanya hamba di tingkat iman,
ayat ini juga dipekuat dengan ayat Al-Quran surat Ash-Shaffat/ 37: 81, 111 dan
132 yang menyatakan bahwa Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami
yang beriman, yang diungkapkan dengan kalimat yang sama “Innahu min ‘ibadina
al-mukminin, sedangkan pada Ash-Shaffat/ 37: 122 diungkapkan dengan kalimat
“innahuma min ‘ibadina al-mukminin”
إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ
Artinya:
Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. (QS.
Ash-Shaffat/ 37: 81, 111 dan 132)
إِنَّهُمَا مِنْ عِبَادِنَا
الْمُؤْمِنِينَ
Artinya:
Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. (QS.
Ash-Shaffat/ 37: 122)
Sedangkan di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah/ 2: 186
disebutkan gambaran Allah adalah dekat dan akan mengabulkan permohonan orang
yang berdoa dengan ketentuan memenuhi perintah dan beriman kepada Allah;
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي
فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي
وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Artinya:
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa
apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada
dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah/ 2: 186)
Ayat tersebut menunjukkan adanya hamba di tingkat iman,
demikian juga di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah/ 2: 221 yang menggambar bahwa
seorang hamba (budak) yang beriman saja lebih baik dari seorang musyrik
meskipun lebih menarik;
وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى
يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ
وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ
مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ
يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ
لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Artinya:
Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.
Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun
dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan
wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin
lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke
neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka
mengambil pelajaran. (QS. Al-Baqarah/ 2: 221)
Di dalam Al-Quran surat Az-Zumar/ 39: 10 diserukan Hai
hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang
berbuat baik (ihsan) di dunia ini memperoleh kebaikan (hasanah)
قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ
وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ
حِسَابٍ
Artinya:
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada
Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan.
Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah
Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-Zumar/ 39: 10)
Ayat tersebut menggambarkan adanya hamba yang bertakwa
kepada Allah di tingkat ihsan, demikian juga di dalam Al-Quran surat Asy-Syura/
42: 23 yang menyatakan bahwa siapa yang mengerjakan kebaikan (ihsan) akan Kami
tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya (husna) itu;
ذَلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ
عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ
عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً
نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ
Artinya:
Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang
beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: "Aku tidak meminta
kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam
kekeluargaan". Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan
baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Mensyukuri.
Al-Quran surat Fathir/ 35: 28 menegaskan bahwa
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ
وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ
عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Artinya:
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan
binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya).
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.(QS. Fathir/ 35: 28)
Ayat tersebut menggambarkan bahwa di antara hamba-hamba
Allah yang takut kepada Allah hanyalah ulama’, ini mengandung pengertian orang
hanya akan merasa takut (khasyah) karena telah mengetahui kebesaran dan
kekuasaannya (ihsan), sedangkan orang yang dapat mengetahui kebesaran dan
kekuasaannya adalah ulama, jadi ulama’ merupakan hamba Allah di tingkat ihsan.
Di dalam Al-Quran surat Al-Hijr/ 15: 99 disebutkan
perintah untuk menyembah Allah hingga yakin;
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ
الْيَقِينُ
Artinya:
dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (QS.
Al-Hijr/ 15: 99)
Keyakinan dalam beribadah hanya dapat dicapai dengan
ihsan, dengan demikian perintah ini mengandung pengertian sembahlah Allah
hingga tingkat ihsan.
Allah mencintai hamba yang berbuat ihsan, maka berbuatlah
ihsan, pernayatan tersebut terkandung di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah/ 2:
195, Ali-'Imran/ 3: 148 dan Al-Maidah/
5: 93 berikut;
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا
تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ
الْمُحْسِنِينَ
Artinya:
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah/
2: 195)
فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا
وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya:
Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang
baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS.
Ali-'Imran/ 3: 148)
لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَآمَنُوا
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ثُمَّ اتَّقَوْا وَآمَنُوا ثُمَّ اتَّقَوْا وَأَحْسَنُوا
وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya:
Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang
saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka
bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian
mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan
berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS.
Al-Maidah/ 5: 93)
Di dalam Al-Quran surat Ali-'Imran/ 3: 31 dinyatakan Jika
kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku;
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ
فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ
غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya:
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. (QS. Ali-'Imran/ 3: 31)
Jika mencintai Allah diperintahkan untuk mengikuti
Rasulullah SAW, karena Rasulullah SAW merupakan hamba yang mencintai Allah,
maka cara mencintai Allah adalah mengikuti cara Rasulullah SAW mencintai Allah.
Sedangkan di dalam Al-Quran surat At-Taubah/ 9: 24
disebutkan ancaman jika kecintaan pada kebahagiaan duniawi lebih disenangi di
bandingkan cintanya kepada Allah, Rasulullah dan berjihad di jalan Allah;
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ
وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ
اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا
أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا
حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ
الْفَاسِقِينَ
Artinya:
Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri,
kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu
khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu
cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah
sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah/ 9: 24)
Siapapun yang ada di langit dan bumi akan datang kepada
Tuhan Yang Maha Pemurah/ penyayang sebagai hamba, ditegaskan di dalam Al-Quran
surat Maryam/ 19: 93;
إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا
Artinya:
Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan
Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. (QS. Maryam/ 19: 93)
Ayat tersebut menunjukkan adanya hamba Allah tingkat
rahmah, yang karakternya adalah rendah hati dan berkata yang mengandung
keselamatan, digambarkan di dalam Al-Quran surat Al-Furqan/ 25: 63;
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ
يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا
سَلَامًا
Artinya:
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang
berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa
mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (QS.
Al-Furqan/ 25: 63)
Karakter hamba di tingkat rahmah yang utama adalah
bersyukur, karena bersyukur atau berterimakasih merupakan pengakuan dan
penghormatan atas rahmat kasih sayang yang diberikan Allah kepada seorang
hamba, sebagaimana dimuat di dalam Al-Quran surat Saba'/ 34: 13, Az-Zumar/ 39:
66, Al-Isra'/ 17: 3;
يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ
مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ اعْمَلُوا
آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Artinya: Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. (QS. Saba'/ 34: 13)
بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ
الشَّاكِرِينَ
Artinya:
Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu
termasuk orang-orang yang bersyukur". (QS. Az-Zumar/ 39: 66)
ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ
إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
Artinya:
(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh.
Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur. (QS. Al-Isra'/
17: 3)
Ada dua hamba Allah yang dinyatakan mendapat rahmat
Allah, yaitu Nabi Zakaria dan Nabi Ayub, sebagaimana disebutkan di dalam
Al-Quran surat Maryam/ 19: 2 dan Al-Anbiya'/ 21: 84;
ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ
زَكَرِيَّا
Artinya:
(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada
hamba-Nya, Nabi Zakaria (QS. Maryam/ 19: 2)
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ
مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا
وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ
Artinya:
Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang
ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan
bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi
peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (QS. Al-Anbiya'/ 21: 84)
Al-Quran surat Al-Fajr/ 89 : 27-30, memberi gambaran
kepada hamba untuk kembali menjadi hamba Allah dengan ridha dan diridhai Allah;
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ
الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ
فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ࣖࣖ
Artinya:
Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan
diridai. Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku! (QS. Al-Fajr/ 89 : 27-30)
Ayat tersebut memberi gambaran adanya hamba Allah di
tingkat ridha, diperkuat dengan Al-Quran surat Al-Baqarah/ 2: 207, yang
menggambarkan ada hamba Allah yang mengorbankan dirinya untuk mendapatkan ridha
Allah;
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ
ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
Artinya:
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari
keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS.
Al-Baqarah/ 2: 207)
Al-Quran surat At-Taubah/ 9: 100 juga menggambarkan
adanya hamba Allah yang diridhai Allah dan mereka ridha dengan Allah;
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ
الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا
الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya:
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari
golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah
menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya
selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS.
At-Taubah/ 9: 100)
Hidayah Allah diberikan kepada siapa saja hamba yang
dikehendaki-Nya, ditegaskan di dalam Al-Quran surat Al-An'am/ 6: 88;
ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ
مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya:
Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang
dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan
Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS.
Al-An'am/ 6: 88)
Allah menjadikan Al-Quran itu menjadi cahaya, Kami
tunjuki dengan Al-Quran siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami,
disebutkan di dalam Al-Quran surat Asy-Syura/ 42: 52
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا
مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ
جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ
لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya:
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah
Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak
pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya,
yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba
Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang
lurus. (QS. Asy-Syura/ 42: 52)
Di dalam Al-Quran surat Al-Kahfi/ 18: 65 dan surat
An-Naml/ 27: 15 digambarkan adanya hamba yang diberi ilmu, sebagai bentuk
pemberian hidayah;
فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا
آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
Artinya:
Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang
telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan
kepadanya ilmu dari sisi Kami. (QS. Al-Kahfi/ 18: 65)
وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ
عِلْمًا وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ
عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan
keduanya mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari
kebanyakan hamba-hambanya yang beriman". (QS. An-Naml/ 27: 15)
Di dalam Al-Quran surat Al-Isra'/ 17: 1 tergamabar
kehebatan Allah yang dapat memperjalankan hambanya dalam satu malam dari Masjid
Al-Haram ke Masjid Al-Aqsa, untuk memperlihatkan tanda-tanda kehebatannya;
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى
الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya:
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari
Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya
agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-Isra'/
17: 1)
Orang yang ditunjukkan sebagaian dari tanda-tanda
kehebatannya, berarti orang tersebut diberi hidayah.
Allah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin
yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, pernyataan tersebut dimuat di dalam
Al-Quran surat Al-Anbiya'/ 21: 73
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ
بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ
وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ
Artinya:
Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi
petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka
mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya
kepada Kamilah mereka selalu menyembah, (QS. Al-Anbiya'/ 21: 73)
Pemimpin yang memberi petunjuk berdasar perintah Allah,
berarti orang yang mendapat hidayah untuk meberi petunjuk, ini menggambarkan
adanya tingkatan hamba di tingkat hidayah.
Derajad tertinggi di sisi Allah adalah orang-orang yang
beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan
diri mereka, ditegaskan di dalam Al-Quran surat At-Taubah/ 9: 20-21;
الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا
وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ
دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ, يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُم
بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَّهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُّقِيمٌ
Artinya:
orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan
harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan
itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka
dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh
didalamnya kesenangan yang kekal, (QS. At-Taubah/ 9: 20-21)
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di
jalan Allah dengan harta, mereka adalah hamba Allah yang memeiliki jiwa Jannah,
meskipun masih hidup di dunia tetapi rela berkorban dengan jiwa dan hartanya
untuk berjuang di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar-benar
beriman Al-Anfal/ 8: 74, Mereka itulah orang-orang yang benar Al-Hujurat/ 49:
15, mereka itulah orang-orang yang beruntung At-Taubah/ 9: 88;
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا
وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ
الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Artinya:
Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah,
dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada
orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman.
Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfal/ 8:
74)
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ
آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا
بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya
(beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan
mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah.
Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hujurat/ 49: 15)
لَكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ
وَأَنْفُسِهِمْ وَأُولَئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya:
Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad
dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh
kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At-Taubah/ 9:
88)