02/10/2026

4. Tingkatan Ibadah 4.1. Tingkatan Hamba Yang Bertakwa Berdasar Al-Quran

 4.  Tingkatan Ibadah

4.1. Tingkatan Hamba Yang Bertakwa Berdasar Al-Quran

Di antara hamba Allah ada bersikap dhalim terhadap diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada yang bersegera dalam kebaikan, sebagaimana digambarkan di dalam Al-Quran surat Fathir/ 35: 32;

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Artinya: Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS. Fathir/ 35: 32)

Ayat tersebut menggambarkan adanya perbedaan sikap hamba terhadap ayat-ayat Al-Quran, pada bab ini akan dikemukakan pembahasan tentang tingkatan hamba yang tergambar di dalam ayat-ayat Al-Quran, kata ibadah berdasar pencarian kata dasar “abada” menggunakan aplikasi Al-Quran Zekr 1.1.0 ditemukan 275 kali pengulangan di 251 ayat. Ayat-ayat tersebut dianalisa berdasar kata yang berdampingan dengan kata "abada" kemudian diklasifikasikan ke dalam tingkatan hierarki ”Cermin Qalbu”, yang terdiri dari sebelas tingkatan takwa dan sepuluh tingkatan fujur.

Klasifikasi ini perlu dilakuakan dengan tujuan untuk memperoleh pengertian apakah ayat-ayat yang di dalamnya terdapat kata "abada" dapat diklasifikasikan ke dalam tingkatan Cermin Qalbu?, kemudian jika dapat, apakah susunan tersebut dapat menggambarkan sebagai tingkatan hamba?

4.1. Tingkatan Hamba Yang Bertakwa

Allah mengirim Malaikat kepada hamba yang dipilih untuk meyakini tidak ada Tuhan selain Allah dan bertakwalah kepada Allah;

يُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاتَّقُونِ ﴿النحل: ٢﴾  

Artinya: Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: "Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku". (QS. An-Nahl/ 16: 2)

Allah menegaskan bahwa orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa, dinyatakan di dalam Al-Quran surat Al-Hujurat/ 49: 13;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat/ 49: 13)

Ayat ini memberikan gambaran bahwa kedudukan seorang hamba di sisi Allah adalah bertingkat-tingkat, kedudukan yang paling mulia adalah yang paling bertakwa, pada sub bab ini akan dikemukakan pembahasan tentang tingkatan hamba yang bertakwa berdasar ayat-ayat Al-Quran yang di dalamnya terdapat kata yang terbentuk dari kata dasar “abada” atau kata lainnya yang menunjuk pada pengertian seorang hamba, pembahasannya adalah sebagai berikut;

4.1.1.  Tingkat Taubat

Tingkatan pertama dari seorang hamba adalah tingkatan hamba bertaubat, di dasari Al-Quran surat At-Taubah / 9: 104, Asy-Syura/ 42: 25, yang menggambarkan bahwa Allah menerima taubat hambanya;

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Artinya: Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang? (QS. At-Taubah / 9: 104)

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

Artinya: Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan, (QS. Asy-Syura/ 42: 25)

Ayat ini sekaligus memberikan bukti adanya tingkatan hamba yang bertaubat kepada Allah, yang merupakan tingkatan pertama dari tingkatan hamba yang bertakwa.

Sedangkan di dalam Al-Quran surat Az-Zumar/ 39: 17, Saba'/ 34: 9 dan  Qaf/ 50: 8, menggambarkan adanya hamba yang bertaubat kepada Allah, yang ungkapkan dengan kata “anaba” dan “Munib” yang berarti taubat atau kembali kepada Allah;

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِ

Artinya: Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, (QS. Az-Zumar/ 39: 17)

أَفَلَمْ يَرَوْا إِلَى مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنْ نَشَأْ نَخْسِفْ بِهِمُ الْأَرْضَ أَوْ نُسْقِطْ عَلَيْهِمْ كِسَفًا مِنَ السَّمَاءِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ

Artinya: Maka apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka? Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka gumpalan dari langit. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Tuhan) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya). (QS. Saba'/ 34: 9)

تَبْصِرَةً وَذِكْرَى لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ

Artinya: untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). (QS. Qaf/ 50: 8)

Adapun di dalam Al-Quran surat Shad/ 38: 17, 30 dan 44 menggambarkan adanya hamba yang bertaubat kepada Allah, yang ungkapkan dengan kata “awab” berarti taubat atau kembali kepada Allah;

اصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Artinya: Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan).(QS. Shad/ 38: 17)

وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Artinya: Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya), (QS. Shad/ 38: 30)

وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِهِ وَلَا تَحْنَثْ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Artinya: Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya). (QS. Shad/ 38: 44)

4.1.2. Tingkat Sabar

Allah pencipta langit dan bumi memerintahkan kepada hambanya untuk menyembah-nya dan bersabar, disebutkan di dalam Al-Quran surat Maryam/ 19: 65;

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

Artinya: Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)? (QS. Maryam/ 19: 65)

Ayat ini menggambarkan bahwa untuk menyembah Allah harus dilakukan dengan sabar, sekaligus memberikan gambaran bahwa ada tingkatan hamba yang menyembah Allah dengan sabar.

Allah memerintahkan hambanya untuk bertakwa kepada Allah dan berbuat baik, disebutkan di dalam Al-Quran surat Az-Zumar/ 39: 10

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-Zumar/ 39: 10)

Perintah untuk bertakwa kepada Allah dan berbuat baik juga harus dilakukan dengan sabar, karena dibagian dibelakang disebutkan bahwa Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. Ayat ini juga memberikan gambaran bahwa ada tingkatan hamba yang menyembah Allah dengan bertakwa, berbuat baik dengan sabar.

Di dalam Al-Quran surat Al-A'raf/ 7: 128 disebutkan perintah untuk mohon pertolongan dan bersabar;

قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa". (QS. Al-A'raf/ 7: 128)

Ayat ini juga menegaskan bahwa bumi milik Allah diwariskan kepada hamba yang dikehendaki, tetapi kesudahan yang baik bagi orang bertakwa, yaitu orang yang mohon pertolongan kepada Allah dan bersabar. Hal ini menunjukkan adanya tingkatan hamba yang sabar.

4.1.3. Tingkat Ikhlas

Allah tidak memerintahkan kepada hamba kecuali untuk menyembah Allah dengan mengihlaskan ketaatan dalam menjalankan agama, di sebutkan di dalam Al-Quran surat Al-Bayyinah/ 98: 5;

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah/ 98: 5)

Ayat ini menggambarkan adanya hamba yang menyembah Allah di tingkat ihlas, perintah serupa juga dimuat di dalam Al-Quran surat Az-Zumar/ 39: 2, 11 dan  14;

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

Artinya: Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (QS. Az-Zumar/ 39: 2)

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (QS. Az-Zumar/ 39: 11)

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي

Artinya: Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku". (QS. Az-Zumar/ 39: 14)

Sedangkan di dalam Al-Quran surat Yusuf/ 12: 24 digambarkan bahwa Nabi Yusuf AS termasuk hamba yang ihlas;

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Artinya: Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (QS. Yusuf/ 12: 24)

Adanya hamba yang menyembah Allah di tingkat ihlas juga disebutkan di dalam Al-Quran surat Ash-Shaffat/ 37: 40, 74, 128 dan 160 dengan teks ayat yang sama seperti berikut;

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

Artinya: Tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). (QS. Ash-Shaffat/ 37: 40)

Sedangkan di dalam Al-Quran surat Ash-Shaffat/ 37: 169 disebutkan dengan bunyi ayat;

لَكُنَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

Artinya: benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa)". (QS. Ash-Shaffat/ 37: 169)

4.1.4. Tingkat Islam

Al-Quran surat Al-Mu'min/ 40: 66 menyebutkan larangan menyembah selain Allah dan memerintahkan untuk tunduk patuh (Islam) kepada Tuhan semesta alam;

قُلْ إِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَعْبُدَ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَمَّا جَاءَنِيَ الْبَيِّنَاتُ مِنْ رَبِّي وَأُمِرْتُ أَنْ أُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: Katakanlah (ya Muhammad): "Sesungguhnya aku dilarang menyembah sembahan yang kamu sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Tuhanku; dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam. (QS. Al-Mu'min/ 40: 66)

Al-Quran surat Ali-'Imran/ 3: 20 dinyatakan Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk;

فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

Artinya: Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: "Apakah kamu (mau) masuk Islam". Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. Ali-'Imran/ 3: 20)

Al-Quran surat An-Naml/ 27: 91 menyebutkan perintah untuk menyembah Tuhan kota Mekah (Allah) dan menjadi orang yang berserah diri (Islam)

إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya: Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS. An-Naml/ 27: 91)

Ayat-ayat tersebut memberikan gambaran adanya hamba di tingkat Islam, demikian juga di dalam Al-Quran surat Thaha/ 20: 14, yang memerintahkan untuk menyembah Allah dan mendirikan shalat;

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Artinya: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha/ 20: 14)

Perintah untuk mendirikan shalat merupakan pelaksanaan menegakkan Islam, karena mendirkan shalat merupakan pelaksanaan rukun Islam.

4.1.5. Tingkat Iman

Di dalam Al-Quran surat Al-'Ankabut/ 29: 56 diserukan panggilan hai hamba-hamba-Ku yang beriman;

يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ

Artinya: Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja.(QS. Al-'Ankabut/ 29: 56)

Ayat tersebut menunjukkan adanya hamba di tingkat iman, ayat ini juga dipekuat dengan ayat Al-Quran surat Ash-Shaffat/ 37: 81, 111 dan 132 yang menyatakan bahwa Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman, yang diungkapkan dengan kalimat yang sama “Innahu min ‘ibadina al-mukminin, sedangkan pada Ash-Shaffat/ 37: 122 diungkapkan dengan kalimat “innahuma min ‘ibadina al-mukminin”

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. (QS. Ash-Shaffat/ 37: 81, 111 dan 132)

إِنَّهُمَا مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: Sesungguhnya keduanya termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. (QS. Ash-Shaffat/ 37: 122)

Sedangkan di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah/ 2: 186 disebutkan gambaran Allah adalah dekat dan akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa dengan ketentuan memenuhi perintah dan beriman kepada Allah;

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah/ 2: 186)

Ayat tersebut menunjukkan adanya hamba di tingkat iman, demikian juga di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah/ 2: 221 yang menggambar bahwa seorang hamba (budak) yang beriman saja lebih baik dari seorang musyrik meskipun lebih menarik;

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Artinya: Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (QS. Al-Baqarah/ 2: 221)

4.1.6. Tingkat Ihsan

Di dalam Al-Quran surat Az-Zumar/ 39: 10 diserukan Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik (ihsan) di dunia ini memperoleh kebaikan (hasanah)

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-Zumar/ 39: 10)

Ayat tersebut menggambarkan adanya hamba yang bertakwa kepada Allah di tingkat ihsan, demikian juga di dalam Al-Quran surat Asy-Syura/ 42: 23 yang menyatakan bahwa siapa yang mengerjakan kebaikan (ihsan) akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya (husna) itu;

ذَلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ

Artinya: Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan". Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.

Al-Quran surat Fathir/ 35: 28 menegaskan bahwa Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Artinya: Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.(QS. Fathir/ 35: 28)

Ayat tersebut menggambarkan bahwa di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada Allah hanyalah ulama’, ini mengandung pengertian orang hanya akan merasa takut (khasyah) karena telah mengetahui kebesaran dan kekuasaannya (ihsan), sedangkan orang yang dapat mengetahui kebesaran dan kekuasaannya adalah ulama, jadi ulama’ merupakan hamba Allah di tingkat ihsan.

Di dalam Al-Quran surat Al-Hijr/ 15: 99 disebutkan perintah untuk menyembah Allah hingga yakin;

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Artinya: dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (QS. Al-Hijr/ 15: 99)

Keyakinan dalam beribadah hanya dapat dicapai dengan ihsan, dengan demikian perintah ini mengandung pengertian sembahlah Allah hingga tingkat ihsan.

Allah mencintai hamba yang berbuat ihsan, maka berbuatlah ihsan, pernayatan tersebut terkandung di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah/ 2: 195, Ali-'Imran/ 3: 148 dan  Al-Maidah/ 5: 93 berikut;

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah/ 2: 195)

فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Ali-'Imran/ 3: 148)

لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ثُمَّ اتَّقَوْا وَآمَنُوا ثُمَّ اتَّقَوْا وَأَحْسَنُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Al-Maidah/ 5: 93)

4.1.7. Tingkat Mahabbah

Di dalam Al-Quran surat Ali-'Imran/ 3: 31 dinyatakan Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku;

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali-'Imran/ 3: 31)

Jika mencintai Allah diperintahkan untuk mengikuti Rasulullah SAW, karena Rasulullah SAW merupakan hamba yang mencintai Allah, maka cara mencintai Allah adalah mengikuti cara Rasulullah SAW mencintai Allah.

Sedangkan di dalam Al-Quran surat At-Taubah/ 9: 24 disebutkan ancaman jika kecintaan pada kebahagiaan duniawi lebih disenangi di bandingkan cintanya kepada Allah, Rasulullah dan berjihad di jalan Allah;

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Artinya: Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah/ 9: 24)

4.1.8. Tingkat Rahmah

Siapapun yang ada di langit dan bumi akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah/ penyayang sebagai hamba, ditegaskan di dalam Al-Quran surat Maryam/ 19: 93;

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا

Artinya: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. (QS. Maryam/ 19: 93)

Ayat tersebut menunjukkan adanya hamba Allah tingkat rahmah, yang karakternya adalah rendah hati dan berkata yang mengandung keselamatan, digambarkan di dalam Al-Quran surat Al-Furqan/ 25: 63;

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Artinya: Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (QS. Al-Furqan/ 25: 63)

Karakter hamba di tingkat rahmah yang utama adalah bersyukur, karena bersyukur atau berterimakasih merupakan pengakuan dan penghormatan atas rahmat kasih sayang yang diberikan Allah kepada seorang hamba, sebagaimana dimuat di dalam Al-Quran surat Saba'/ 34: 13, Az-Zumar/ 39: 66, Al-Isra'/ 17: 3;

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Artinya: Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. (QS. Saba'/ 34: 13) 

بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

Artinya: Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur". (QS. Az-Zumar/ 39: 66)

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا

Artinya: (yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur. (QS. Al-Isra'/ 17: 3)

Ada dua hamba Allah yang dinyatakan mendapat rahmat Allah, yaitu Nabi Zakaria dan Nabi Ayub, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran surat Maryam/ 19: 2 dan Al-Anbiya'/ 21: 84;

ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا

Artinya: (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Nabi Zakaria (QS. Maryam/ 19: 2)

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ

Artinya: Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (QS. Al-Anbiya'/ 21: 84)

4.1.9. Tingkat Ridha

Al-Quran surat Al-Fajr/ 89 : 27-30, memberi gambaran kepada hamba untuk kembali menjadi hamba Allah dengan ridha dan diridhai Allah;

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ࣖࣖ

Artinya:  Wahai jiwa yang tenang,  kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,   dan masuklah ke dalam surga-Ku! (QS. Al-Fajr/ 89  : 27-30)

Ayat tersebut memberi gambaran adanya hamba Allah di tingkat ridha, diperkuat dengan Al-Quran surat Al-Baqarah/ 2: 207, yang menggambarkan ada hamba Allah yang mengorbankan dirinya untuk mendapatkan ridha Allah;

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

Artinya: Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS. Al-Baqarah/ 2: 207)

Al-Quran surat At-Taubah/ 9: 100 juga menggambarkan adanya hamba Allah yang diridhai Allah dan mereka ridha dengan Allah;

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya: Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah/ 9: 100)

4.1.10. Tingkat Hidayah

Hidayah Allah diberikan kepada siapa saja hamba yang dikehendaki-Nya, ditegaskan di dalam Al-Quran surat Al-An'am/ 6: 88;

ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An'am/ 6: 88)

Allah menjadikan Al-Quran itu menjadi cahaya, Kami tunjuki dengan Al-Quran siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami, disebutkan di dalam Al-Quran surat Asy-Syura/ 42: 52

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Artinya: Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy-Syura/ 42: 52)

Di dalam Al-Quran surat Al-Kahfi/ 18: 65 dan surat An-Naml/ 27: 15 digambarkan adanya hamba yang diberi ilmu, sebagai bentuk pemberian hidayah;

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

Artinya: Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. (QS. Al-Kahfi/ 18: 65)

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman". (QS. An-Naml/ 27: 15)

Di dalam Al-Quran surat Al-Isra'/ 17: 1 tergamabar kehebatan Allah yang dapat memperjalankan hambanya dalam satu malam dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsa, untuk memperlihatkan tanda-tanda kehebatannya;

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-Isra'/ 17: 1)

Orang yang ditunjukkan sebagaian dari tanda-tanda kehebatannya, berarti orang tersebut diberi hidayah.

Allah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, pernyataan tersebut dimuat di dalam Al-Quran surat Al-Anbiya'/ 21: 73

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ

Artinya: Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah, (QS. Al-Anbiya'/ 21: 73)

Pemimpin yang memberi petunjuk berdasar perintah Allah, berarti orang yang mendapat hidayah untuk meberi petunjuk, ini menggambarkan adanya tingkatan hamba di tingkat hidayah.

4.1.11. Tingkat Jannah

Derajad tertinggi di sisi Allah adalah orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, ditegaskan di dalam Al-Quran surat At-Taubah/ 9: 20-21;

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ, يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُم بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَّهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُّقِيمٌ

Artinya: orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal, (QS. At-Taubah/ 9: 20-21)

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, mereka adalah hamba Allah yang memeiliki jiwa Jannah, meskipun masih hidup di dunia tetapi rela berkorban dengan jiwa dan hartanya untuk berjuang di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman Al-Anfal/ 8: 74, Mereka itulah orang-orang yang benar Al-Hujurat/ 49: 15, mereka itulah orang-orang yang beruntung At-Taubah/ 9: 88;

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Artinya: Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfal/ 8: 74)

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hujurat/ 49: 15)

لَكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَأُولَئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At-Taubah/ 9: 88)

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post